Kisah Koin Penyok

Sepasang suami istri itu menatap sepetak ruangan rumah yang memang cuma ada satu petak dengan perasaan iba. Semua benda serba tergeletak di tanah, ubin rumah. Seperangkat alat makan dan pemasaknya ada di tanah. Baju-baju yang bertumpuk rapi juga ada di atas tanah. Sisir, sepatu, ember, sikat, sabun, beras, sandal, semua di tanah. Termasuk kedua pantat mereka, menempel terduduk langsung di atas tanah. Seolah-olah takdir tak mengizinkan mereka terangkat sedikit. Kemiskinan membuat mereka lemah, sampai-sampai harus melakukan apa saja di atas lemah, tanah.

“Dik, kalau Abang punya uang, apa yang paling kamu ingin beli?”

“Lemari.”

Si Abang tersenyum.

“Setiap barang itu butuh tempat, Bang. Butuh sekat.”

Si istri menunjuk. Si Abang melihat. Barangkali yang ditunjuk Si Istri itu seputar sikat, ember, piring, dan gelas. Tetapi yang dilihat Si Abang malah baju-baju, sepatu, buku, atau mangkuk isi es batu. Tidak ada yang mempermasalahkan bias itu. Toh, semuanya memang ada di situ. Di satu tempat tanah lantai itu. Menjadi satu.

Si Abang keluar. Ingin mencari uang. Terik yang menarik ulur keringatnya itu sama sekali tak dipedulikannya. Hari itu, dia ingin beli lemari. Untuk Si Istri. Tekadnya bulat, kuat dahsyat. Si Abang ke pasar, seperti biasa. Bekerja apa saja. Menolong siapa saja. Menerima dari siapa saja. Tapi enggan meminta meski pada seorang saja. Sayangnya, hari itu tak ada yang bisa dilakukannya. Semesta seolah sedang mengheningkan cipta. Dia sudah seharian berjalan, tak serupiah pun diperolehnya. Sampai hujan. Sampai panas. Sampai hujan lagi dan panas lagi. Untung bajunya tipis, setipis perutnya yang sedang menangis, sehingga jejak hujan cepat terkeringkan oleh panas.

Tidak ada pilihan. Si Abang tetap harus berjalan. Entah berapa jauh lagi. Entah berapa lama lagi. Matahari sudah mulai jauh dari tinggi. Mulai merendah ke arah barat, mengajaknya melangkah cepat.

Di tengah jalan. Di antara celah kerikil-kerikil, langkah cepatnya dihentikan oleh siluet kilap yang menyolek matanya. Sekilap cahaya yang dipantulkan benda sejenis logam. Si Abang mendekat. Ada sepotong koin di sana. Koin penyok.

Meski penyok, mata dan semangatnya membelalak. Itu pasti rezeki dari Allah. Dia harus segera menukarnya ke bank. Biar cepat jadi uang.

___

“Coba tukarkan koin ini ke pandai besi di ujung jalan sana.” begitu komentar teller cantik di bank yang Abang datangi. Katanya, koin yang ditemukan Si Abang itu tergolong barang antik. Semoga saja bisa dihargai tinggi oleh padai besi yang lekas ia kunjungi.

Si Abang berdebar-debar hatinya. Si Pandai Besi yang mangkal di ujung jalan itu sedari tadi belum mengatakan apa pun. Masih asyik mengamati setiap sudut koin langka itu, termasuk kepenyokannya. Barangkali dia sedang memperkirakan derajat kepenyokan koin tersebut. Atau mereka-reka asal muasal kenapa koin itu bisa penyok, benda apa yang menghantam atau dihantamnya, berapa kekuatannya, dan siapa pemiliknya. Si Abang tidak tahu menahu apa yang dipikirkannya di balik lup yang dia gunakan untuk melihat koin lebih dalam.

“Bagaimana, Pak?” tanya Abang tak sabar.

“Hm…. Dari mana kamu dapat koin ini?”

“Rahasia. Pokoknya saya mau jual. Terserah berapa saja. Saya percaya Bapak tidak akan menzolimi saya.”

“Hahaha. Kalau memang barang bagus, saya berani bayar mahal kok. Tapi kalau ini, saya gak berani ngasih harga tinggi.”

“Yasudah. Berapa saja.”

“Seratus ribu.”

Si Abang menungging senyum. Sepakat tanpa tawar.

____

Uang seratus ribu itu Abang pakai buat beli kayu dan sedikit makanan. Paling tidak, hari ini harus ada lemari sederhana untuk istri tercinta. Si Abang beruntung, penjual kayu memberikan kayu jati terbaik kepadanya, lengkap dengan perkakas lain yang Abang butuhkan. Ini karena Si Abang sering membelikan penjual kayu itu makan siang. Abang sama sekali tak menduga, perbuatan sekecil itu mendatangkan balasan sebesar itu. Abang tak hanya dapat kayu, tetapi juga tripleks, lem, plisture, sampai amplas dan gagang pintunya. Jelas, itu sangat lebih dari seratus ribu.

“Ini kayu jati terbaik. Lemarinya insya Allah akan kuat.”

Si Abang pun mengucap syukur dalam-dalam.

Wajah Abang berbinar-binar. Cerah secerah-cerahnya. Melebihi kumpulan awan nimbus yang gagah bertahan melawan angin laut yang berhembus. Sore itu, untuk pertama kalinya Abang tidak merasa haus.

Si Abang merasa pundaknya jauh lebih kuat dari biasanya. Selonjor kayu jati itu menyinggahi pundaknya, terpikul oleh pundak yang bahagia. Dia sama sekali tak merasakan beban di punggungnya. Sementara tangan kanan Abang yang sibuk memanggul kayu, tangan kirinya menjinjing lempengan tripleks dan sekantong plastik berisi perkakas. Sedang kedua kakinya yang tak pernah beralas, menapak langsung tanah bumi dengan tanjapnya. Sesekali Si Abang bersiul-siul. Hatinya bahagia. Sudah tak sabar sampai ke rumah, mengabarkan pada Si Istri bahwa dia sudah siap membuat lemari.

“Bang, Bang, itu kayunya bagus sekali. Mau dijual ya?”

Si Abang celingukan. Mencari sosok yang ia yakin sedang bicara dengannya. Selaput jala Abang kemudian menangkap seorang bapak tua yang di mulutnya disumpal pipa, berdiri di gerbang toko furniture besar di kotanya. Wow, bahkan Si Abang tak sadar kalau dirinya sudah sampai toko furniture, ini artinya perjalanannya sudah setengah dan dia sama sekali tak merasa lelah. Saking senangnya.

“Bapak bicara dengan saya?” kata Abang memastikan.

“Iya. Saya suka dengan kayu yang kamu bawa. Boleh saya beli?”

Si Abang menggeleng. Bapak Tua itu malah menghampirinya. Memegang-megang kayu yang dipanggulnya. Sambil tersenyum-senyum puas.

“Ini kayu bagus. Saya berani bayar mahal. Benar tak ingin kau jual?” katanya lagi.

“Tidak, Pak. Ini mau saya pakai buat bikin lemari untuk istri saya.”

“Hm, saya hargai tiga ratus ribu, bagaimana?”

Si Abang menelan ludah. Sama sekali tak siap dengan respon yang diberikan bapak itu.

Pak Tua itu menangkap sinyal keraguan dari wajah Si Abang. Dalam benaknya ia berpikir harga yang dia tawarkan dirasakan kurang pas di hati Abang.

“Baiklah. Kau boleh menukarkan kayu bagus ini dengan lemari yang kau suka. Kamu bebas mau pilih yang mana. Asal kayu ini untukku. Bagaimana?”

Abang membelalak. Dimintanya Pak Tua untuk mengulang apa yang barusan didengarnya. Takut barangkali dia salah dengar.

Wah, Tuhan kurang baik apa? Pikirnya kemudian.

___

Karena kesulitan membawa lemari itu ke rumah, Abang meminjam gerobak milik Pak Tua. Semakin cerahlah hati Abang, mulai malam ini di rumahnya akan ada lemari. Sudah tebayang-bayang Abang akan wajah Si Istri yang tentu akan sangat senang sekali. Barangkali, ketika pulang nanti Si Istri tidak akan menyangka bahwa lemari yang dibawanya itu memang miliknya. Tentu dia akan bertanya pada Abang, “Lemari siapa, Bang? Bagus sekali! Kapan yah kita punya lemari seperti ini?”. Pertanyaan yang sama setiap kali Abang pulang membawa barang titipan orang. Tapi kali ini, Abang sudah mempersiapkan jawaban spektakuler dalam hidupnya. Bahwa lemari yang dibawa itu memang benar-benar miliknya.

Matahari semakin nyaris tergelincir, sebentar lagi tenggelam. Abang sudah memasuki kawasan perumahan elite dengan gerobak isi lemari yang ditariknya sendiri. Gubuknya ada di belakang kompleks elite ini. Abang masih bersiul-siul. Berkali mengucap syukur. Hari ini bahkan tak pernah berani dia bayangkan. Ketika dia bisa dengan mudahnya mewujudkan mimpi istrinya.

“Woy, Pak!”

Si Abang menoleh. Ada sepotong suara yang memanggilnya. Dari mulut seorang Ibu Muda sejenak berkelit dari kesibukannya mengatur barang-barang masuk rumah. Kemungkinan besar Ibu Muda itu baru saja pindah rumah. Abang tersenyum kecil, yang ada dalam pikiran Abang, dia itu pastilah hendak meminta bantuan. Bukannya, tak mau, tapi sungguh, hari ini Abang ingin cepat sampai rumah.

“Maaf, Bu, saya buru-buru.” kata Abang.

“Saya boleh beli lemari kamu?”

Langkah Abang terhenti. Apa lagi ini? Mungkin memang penampilannya sangat mirip dengan pedagang hingga dua kali barang bawaannya disangka barang dagangan.

“Ini tidak dijual, Bu. Ini mau buat istri saya!”

Abang kemudian melanjutkan langkahnya. Mencoba tak mempedulikan niatan Ibu Muda tadi. Tapi Abang terpaksa berhenti lagi karena Ibu Muda itu berlari-lari kecil mengejarnya. Memanggil-manggil lemarinya.

“Ada apa lagi, Bu? Saya gak mau jual ini lemari.”

“Tapi saya suka sekali. Saya mau beli.”

“Tapi saya gak mau jual. Bagaimana?”

“Saya beli satu juta! Mau?”

Abang membelalak. Kedua bola matanya membesar seketika. Lagi-lagi, ini benar-benar di luar bayangannya. Bahkan, Abang tak bisa mereka-reka segatal apa tangannya memegang uang satu juta. Nominal terakhir yang mampir di jemarinya sebatas lembaran lima puluh ribuan.

Ibu Muda tadi ikut gusar, sepanjang hidupnya, belum pernah sekali pun ia gagal mendapatkan apa yang diinginkannya. Semua yang ia inginkan sebisa mungkin akan diusahakan, meski kadang dengan berbagai cara. Melihat sikap Si Abang yang terlihat alot melepas lemari itu, dia tak pikir panjang meninggikan harga.

“Baiklah. Satu juta lima ratus. Deal?”

Dan Si Abang tak bisa berlaku apa-apa lagi selain mengangguk.

___

Si Abang berjalan. Pelan-pelan. Kantong bajunya terasa begitu berat, ada lima belas lembar uang seratu ribuan. Sesekali langkah Abang terhenti. Mengeluarkan uang dari sakunya, kemudian menghitungnya. Lalu dia mengucap syukur. Tidak percaya. Bahwa Allah sangat mudah menjalankan apa saja sesuai kuasa-Nya. Betapa kun faya kuun itu benar sebenar-benarnya.

Si Abang berjalan cepat. Ingin sampai rumah cepat. Mengabarkan pada Si Istri kalau sekarang mereka bisa beli lemari. Pilih sendiri. Bagi Abang, ini benar-benar kejadian yang sulit dipercayai. Abang bahkan sampai lupa bagaimana rasanya senang diri. Betapa tak terperi. Betapa Abang akan selalu mengingat hari ini.

Abang kembali berjalan perlahan sambil menghitung uang di kantongnya lagi. Pelan-pelan lagi. Berkali mengucap syukur. Sulit dipercayai. Betapa, betapa, betapa.

Sepanjang perjalanan, Si Abang hanya bisa tersenyum-senyum sendiri. Alangkah senangnya. Sepanjang perjalanan itu Abang sesekali berhenti, berjalan cepat hampir berlari, juga berjalan pelan sembari mensyukuri nikmat Illahi. Sampai sepuluh meter sebelum pintu rumahnya, Abang bertemu pencuri. Barangkali lebih tepat disebut perampok. Mendadak waktu berputar cepat sekali.

“Harta atau nyawa?”

Abang tak punya nyali melawan belati. Abang tak punya pilihan lain lagi. Dan Abang tak mungkin menyerahkan nyawanya.

___

Sekejap lingkungan heboh. Orang-orang ramai berteriak alih-alih perampok itu sigap berlari pergi. Si Abang masih berdiri dengan muka pias. Pandangan nanar. Perasaannya tak terujar.

Si Istri yang mendengar suaminya habis ditodong pencuri segera menuju lokasi tanpa kendali. Wajahnya panik. Panik sekali.

“Abang! Abang apa yang terjadi? Bagaimana keadaan Abang? Apa yang hilang, Bang? Apa yang diambil perampok itu dari Abang?” tanya Si Istri beruntun.

Orang-orang yang berkumpul disekelilingnya pun memiliki rasa penasaran yang sama. Ingin tahu bagaimana kejadian lengkapnya.

Si Abang tersenyum.

“Bukan apa-apa, kok. Cuma sebuah koin penyok.” katanya.

Orang-orang yang didera rasa penasaran itu pun lantas ber-oh. Mereka lega. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Cuma sebuah koin penyok, tak masalah. Mereka pun kembali melakukan aktivitasnya masing-masing.

 

Katakanlah, “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (ketentuan) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat atas dirimu?” Mereka itu tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong selain Allah (33:17)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s