Antara Tas dan Kisah Cinta Saya (hahaha)

Hai, Bloggy. Hari ini saya mau bercerita tentang tas baru saya. Yeyeyey, kenapa? Karena saya tipe orang yang jarang sekali beli tas. Sejak kecil, saya tergolong setia sama satu tas, beneran deh. Makanya jangan ragu deh sama kesetiaan saya ini, apasih! Wkwkwk.

Tapi bener, lho. Sewaktu SD, saya gak akan beli tas sebelum bener-bener rusak dan gak bisa dibenerin lagi. Karena kalau pun rusak, tas saya pasti dibenerin sama ibu. Yah, nasib jadi anak tukang jahit, ada lubang sedikit pasti langsung ibu jahit. Jadi, kadang saya suka ngiri sama temen-temen yang kalau tasnya rusak langsung ganti. Kalau saya mah, cangklengan tasnya putus, ibu buru-buru ngebenerin. Hihihi. Jangankan tas, buku tulis aja, kalau tengahnya lepas, nanti dijahit sendiri sama ibu fufufu.

Saya mau cerita perjalanan saya beli tas pakai uang sendiri. Dimulai saat awal masuk kuliah, waktu itu kepengen banget beli tas yang unyu-unyu. Di semester kedua, saya menemukan tas ransel warna kuning yang unyu banget. Ih, suka deh, apalagi warnanya kuning. Sebenarnya saya gak suka warna kuning, sih, malah sebel banget sama warna satu itu. Tapi sejak masuk UI dan terjangkit kealayan tentang jaket kuning dan segala kekuningannya, jadi suka sama warna kuning sejak kuliah. Well, saya beli tas ransel dengan kantong depan di depan dan masing-masing di sisi kiri dan kanan. Lucu.

Mungkin saya tergolong alay kalau menghubung-hubungkan kejadian pembelian tas di kehidupan saya dengan kisah cinta saya #tsah. Hahaha, tapi emang setelah dipikir-pikir emang beneran berhubungan, lho, Bloggy.

Waktu beli tas kuning itu, pertama kalinya saya ngerti soal hal-hal bernama perasaan kekeke. Jadi, ceritanya saya punya teman lelaki yang super duper baik. Segala kebutuhan saya hampir bisa dia penuhi deh. Dia udah kayak bapak yang selalu bisa diandalkan. Ujung-ujungnya kami, dia sih lebih tepatnya, terlibat incest. Emang laki-laki dan perempuan itu gak bisa berteman, yah. Waktu itu saya gak ngeh kalau ternyata dia menaruh rasa sementara saya mah biasa-biasa aja (masih polos). Kisah berakhir dengan keputusan dia meninggalkan saya yang tak menghiraukannya dan cari perempuan lain. Hihihi, lucu yah, tapi waktu itu saya emang beneran masih polos, ups!

Tak lama setelah itu, tas saya jebol setelah beberapa kali udah rusak dan dibenerin ibu. Karena sudah tak mungkin diperbaiki lagi, saya juga sudah bosan, saya pun memutuskan beli tas baru. Tas kuning pun berakhir seperti kisah cinta saya lalala.

Tas baru saya, masih ransel dengan kantong kecil di sisi kiri dan kanan. Ada kantong dua kantong kecil di depan juga. Saya suka kantong kecil di samping tas bisa untuk tempat minum. Selain itu, bisa untuk meletakkan benda antah berantah yang bisa dengan mudah diambil tanpa memindah posisi tas. Tinggal masukkan saja jemari ke kantong samping itu hihihi. Sayangnya, kadang kantong di samping kurang safety, saya pernah kehilangan ponsel gegara menaruhnya di situ. Iya, sih, gampang banget diambil copet. Fuh.

Oh ya, tas baru saya berwarna cokelat. Sekitar semester lima saya beli, waktu itu saya lagi seneng-senengnya sama Pramuka. Emang udah seneng Pramuka dari SD sih, terus jadi suka sama warna cokelat juga. Menurut saya, lelaki yang memakai kemeja cokelat itu kegantengannya meningkat 50% hihihi. Coba aja lihat anak-anak lelaki yang pakai baju pramuka, pasti kelihatan gagah. Hahaha.

Tas cokelat ini mengiringi kisah cinta saya selanjutnya. Saat itu, pertama kalinya saya kesengsem saya orang. Tapi, sayangnya orang itu, pada akhirnya saya tahu, suka sama orang lain. Dia punya pacar sekarang. Pacarnya cantik, imut, dan anak Pramuka pula. Huahahha, jadilah saya patah hati untuk pertama kalinya. Ternyata patah hati itu emang menyakitkan ya, Bloggy. Tapi kalau dipikir-pikir, saya sih bersyukur pernah ngalamin. Jadi sadar kalau saya pernah sebegitu alaynya, wkwkwk.

Tas cokelat itu gak kalah unyu. Temen-temen yang liat suka komentar begitu juga. Dua minggu setelah beli, kancing depan tas saya rusak. Ibu udah ngomel-ngomel setiap saya pulang kampung, meminta saya pergi ke toko reparasi tas buat ganti kancing. Kancing tas saya pakai besi gitu, lho, jadi ibu gak bisa benerin sendiri. Mungkin itu sebenarnya tanda dari semesta kali ya kalau saya sedang mencintai orang yang salah, wkwkwkwk. Tapi saya bandel, udah salah masih aja dijalanin, akhirnya patah hati kaan. Tapi yaudah, lah, semua pun berlalu dan tas cokelat lucu itu akhirnya rusak dimakan tikus hahaha.

Saya gak langsung beli tas baru begitu tas cokelat itu rusak. Move on itu kan gak mudah hahaha. Saya dikasih tas sama adek, bukan ransel tapi, melainkan tas jinjing era anak muda zaman sekarang. Katanya, saya harus mulai gaul. Tapi saya tetep gak bisa move on dari ransel, saya pun jadi sering make ransel adek saya kalau berangkat ngajar. Dapet tas juga dari kantor (produk sponsor), jadi saya pun beraktivitas dengan tas yang ada.

Cukup lama bagi saya untuk memutuskan beli tas baru. Gak pernah nemu yang cocok. Ibu bilang, saya beli tas slempang atau jinjing aja biar pantes kalau dipakai ngajar. Tapi saya nyamannya sama ransel, gimana dong? Akhirnya, setelah melalui berbagai persimpangan pikiran, ketemulah saya sama tas ransel hijau yang unyu tapi keren.

Jadi, tas ketiga saya ini berwarna hijau. Yap. warna kesukaan saya yang sebenarnya. Ada kantong di depan dua kantong di samping kiri dan kanan. Udah, saya banget itu mah. Di dalamnya ada tempat netbooknya pula, jadi gak perlu nenteng-nenteng tas netbook deh. Kecil, simpel, tapi muat banyak.

tas

Lantas, apakah tas ketiga ini akan mengiringi kisah cinta saya lagi? Semoga, kalau iya, nanti kisah cintanya bener-bener pas dan terbaik buat saya. Jadi, selamat menikmati tas baru sembari menunggu Si Mas dateng ke rumah, #eeeeeeh.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s