Juga Belajar Bahasa

Sudah tiga hari saya belajar menjahit di tempat kursus. Namun, saya belum bisa membaur dengan teman-teman di sana. Saya suka bingung gitu gimana gabungnya, mereka sudah masuk ke kain semua. Ada yang lagi bikin rok, gamis, kemeja, kulot, piyama, dan macam-macam jenis pakaian lain. Cuma saya seorang yang masih berkutat dengan pola. Udah gitu, menggambar pola butuh keseriusan, njelimet banget soal ukurannya! Saya emang gak sempet ngobrol sih, hihihi.

Teman-teman kursus kebanyakan ibu rumah tangga yang suka nonton dangdut academy. Macam mana pula, saya tak mengerti sama sekali hihi. Ada sih beberapa yang terlihat seumuran, tapi mereka sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

Hal menarik di tempat kursus ini adalah, sebagai orang baru tidak ada sesi perkenalan. Pun pembukaan, kursus dimulai begitu saja tanpa adanya pembuka dan atau ritual pembuka sebagaimana selayaknya di suatu acara. Di pertemuan pertama, saya diminta duduk dan membaca teori di buku panduan. Beberapa menit kemudian, guru kursus, tidak memperkenalkan diri dan tidak meminta saya mengenalkan diri juga, datang lalu menjelaskan cara-cara membuat pola. Langsunglah hari itu saya belajar banyak tentang pola.

Baru di hari kedua, di sela-sela pelajaran saya ditanya siapa namanya. Lalu kami berkenalan dengan amat sangat natural, saya tahu namanya. Juga tahu nama guru yang satu lagi dari seru anak yang memanggilnya. Model pembelajarannya memang seperti itu, Bloggy. Begitu datang, tiap anak langsung berkutat dengan pekerjaannya. Menuju guru untuk meminta koreksi atau menanyakan langkah berikutnya.

Jadi, tiap orang melakukan aktivitas yang berbeda-beda, tapi semuanya dapat dikontrol oleh dua guru. Guru akan berkeliling memeriksa satu demi satu pekerjaan anak kursusnya. Sangat individual. Semua jadi bisa bekerja maksimal. Tidak ada yang terlihat lebih pintar dari yang lain. Menarik, ya.

Memang, kekurangannya antarsesama siswa jadi kurang saling mengenal. Tapi sepertinya, perkenalan itu akan berlangsung secara alamiah. Hari ini saya mengobrol dengan seorang anak yang kemarin terlihat bahagia karena gamisnya sudah jadi dan barusan membuat pola kemeja. Meski mengobrol, saya belum tahu namanya hahaha! Lucu sekali, ya.

Mungkin, saya yang kurang agresif berkenalan kali, ya. Tapi memang kalau sudah bekerja saya suka gak peduli sana sini, jadi males ngobrol. Paling sedikit-sedikit, itu juga kalau ditanya. Hehehe. Lagian saya orangnya paling gak bisa kalau tiba-tiba masuk di tengah orang-orang yang sedang mengobrol. Selain itu, karena latar belakang kami yang berbeda-beda kali ya.

Oh, ya, Bloggy. Di tempat kursus, saya aktif berbahasa Jawa Dialek Tegal (selanjutnya disebut bahasa Tegal saja ya), lho! Sebagian besar teman di sini berasal dari daerah kabupaten, mereka aktif berbahasa Jawa dan bahasa Tegal. Gurunya juga njelasinnya pakai bahasa Tegal, jadi seru. Deskripsi yang ada di modul amat sangat sukar dimengerti jika dibandingkan dengan penjelasan guru yang sangat konvensional. Saya jadi mikir, hal-hal macem gini yang gak kepikiran semasa kuliah dulu.

Ternyata, secara alami penduduk asli akan mempertahankan bahasanya. Salah satu caranya ya di lembaga informal macem ini. Menarik deh, selain belajar menjahit, saya juga belajar pemertahanan bahasa. Saya jadi berasumsi, selama ada desa dan perkumpulan orang-orang desa, bahasa daerah masih ada pemakainya.

Ini pola terunyu yang saya bikin hari ini, pola rok anak kecil. Dari potongan-potongan aneh kalau digabungin jadi cantik, kan? 🙂

IMG_20151231_140846 IMG_20151231_140856

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s