Senja Aurora

Laki-laki itu bernama Senja. Ia laksana rona merah yang membangkitkan kepercayaan diri sang lembayung langit. Mengalirkan semangat hidup. Mengajarkan kebijaksanaan. Serta menyebarkan segala bentuk kebermanfaatan.

Laki-laki yang bernama Senja itu, pada akhirnya hanya membawaku ke tingkat tujuh. Tingkat akhir pada sebuah bangunan tak beratap dan tak berpintu. Pelan-pelan, ia mengajakku naik. Menapaki tangga demi tangga. Melewati segala bentuk kehidupan pada lantai demi lantai yang kami lewati.

“Mau ke mana sih?” aku bertanya menyelidik. Senja selalu punya cara untuk mengatakan maksudnya. Cara-cara yang kadang tak pernah kumengerti sama sekali. Seperti saat ini.

Senja tidak menjawab. Terus melangkahkan kaki menaiki anak tangga yang temaram. Sudut kepalanya bahkan tak sekalipun menoleh. Seolah begitu yakin aku akan mengikutinya. Memang, aku selalu rela mengikutinya. Bahkan, aku ingin menjadi makmum setianya dalam mengarungi kehidupan fana ini.

“Nja. Ini lantai yang paling akhir lho. Kita mau ke mana sih?”

Sudah lantai keenam, lantai terakhir dari bangunan ini. Senja menghentikan langkahnya sejenak. Tersenyum tipis, kemudian menjawab tanpa menoleh.

“Masih ada satu lantai di atasnya lagi, Ra.” jawabnya singkat disertai langkah selanjutnya.

Sampai pada akhirnya kami berada di puncak bangunan. Sebuah lantai tanpa atap yang berisi berbagai pipa-pipa saluran. Entah itu saluran apa saja, mungkin air, listrik, generator, atau apalah aku tak tahu. Setelah segala ketidakjelasan yang kami lalui selama bertahun-tahun ini, sekarang apa lagi?

“Kita sudah ada di lantai paling atas, Ra. Kita gak bisa ke mana-mana sekarang.” ia mengawali dengan analogi. Selalu.

“Ya? Lantas?”

“Tempat yang kita pijak sekarang tak beratap. Tak berdinding. Kita tak mungkin tinggal di tempat ini. Kita tak akan terlindungi.” katanya lagi, masih berfilosofi.

Aku diam. Bias-bias pikirannya kadang sama sekali tak bisa kumengerti. Aku lelah selalu melangkah di tengah analogi-analogi yang dia ciptakan. Terlampau melankolis. Namanya saja Senja, sepotong nama yang untuk pertama kalinya aku temui melekat pada laki-laki.

Aku menghembuskan napas panjang. Mencoba, sekali lagi, memahami dan bersabar menanti kata-kata yang sangat ingin dia ucapkan, tapi belum bisa ia munculkan.

“Hanya ada dua pilihan. Kembali menuruni anak tangga yang sangat banyak itu. Atau terjun melompat dari sini. Tapi kalau loncat nanti kita mati, ya, Nja. Hahaha.” aku mencoba renyah meski itu sama sekali tak membuatnya jengah.

“Aku minta maaf.” katanya pelan.

Hatiku berdesir cepat. Sangat cepat.

“Aku sudah membawamu sampai setinggi ini. Tapi aku tak bisa menjanjikan apa pun.”

Aku mencelos. Rasanya seluruh sendi-sendi dalam tubuhku melepas seketika. Aku tidak tahu itu kalimat apa, aku tidak tahu apa maksud kalimat itu. Tetapi mendengarnya, seakan ada timah panas yang menyiram seluruh tubuhku. Membuatku lebur selebur-leburnya.

Aku membiarkan tetes demi tetes air mataku menetes tanpa tahu skenario macam apa yang sedang aku jalankan. Aku sesengukan tanpa tahu apa yang sedang aku tangiskan. Aku menatap lurus ke depan. Menyaksikan segala pemandangan yang begitu indah karena disaksikan dari atas. Merasa megah karena singgah di tempat tertinggi yang indah. Tetapi sekaligus melenguh pasrah.

“Aurora.” panggilnya.

Aku tidak menjawab. Aku masih dipenuhi air mata kesedihan yang keluar bersama kalimat-kalimatnya yang dipenuhi konotasi.

“Aurora tidak akan pernah bertemu dengan senja. Kita tahu itu.”

“Cukup! Jangan dibahas lagi! Jangan membahas sesuatu yang sudah berkali-kali kita bahas, Nja. Aurora dan senja sama-sama tinggal di langit, mereka bisa bertemu. Kita juga pernah meyakini itu. Kau lupa? Atau melupakannya? Atau menyadari bahwa semua itu ternyata tidak akan pernah terjadi?” aku tak mampu lagi menghalau segala rupa perasaan yang hingar bingar di dalam hati berjangkar.

Dia diam.

Aku sudah tidak bisa mengingat berapa banyak kalimat yang dulu coba ia dendangkan. Tentang aurora dan senja yang sejatinya sama-sama makhluk langit, tapi jelas-jelas berbeda. Lalu tentang bagaimana kami sama-sama mempelajari keduanya untuk membantah kalimat sebelumnya, aurora dan senja tidak akan pernah berjumpa. Sampai kami sama-sama lupa, kami masih belum menemukan jawabannya.

“Apa maumu?” tanyaku pilu. Pertanyaan itu tak pernah bisa aku keluarkan selama ini. Pertanyaan sederhana seorang perempuan yang didera kisah cinta tak berujung. Pertanyaan sederhana yang teramat sulit menggaung.

“Kita sama-sama menaiki bangunan ini, tapi ternyata kita tidak menemukan atap yang bisa melindungi kita dari panas dan hujan. Menjaga kita dari badai, atau memelihara kita dari riuh angin yang memporak-porandakan dedaunan. Kau benar, pilihannya hanya kembali turun. Kita tidak mungkin tinggal di sini.” katanya.

“Senja, jadi apa mau kamu sebenarnya?” tanyaku sekali lagi, sedikit kasar. Aku terlalu lelah untuk terus berfilosofi dengannya sepanjang hari. Mengalirkan pemahaman semu yang kadang sulit aku yakini, tetapi selalu merasa bisa dijalani.

Senja menutup matanya rapat-rapat, menelungkupkan kedua telapaknya, kemudian mengusap sebagian kepalanya. Air mukanya pias.

“Ra, kita tidak mungkin melanjutkan ini.”

Kalimat itu…

Akhirnya keluar.

“Turunlah, Ra. Carilah orang yang mampu mengajakmu menuju bangunan yang berdinding dan beratap. Bangunan yang mampu melindungimu dan segenap keluargamu. Bukan bangunan seperti yang aku tawarkan sekarang.”

Aku menggigit bibirku erat. Tidak hanya hatiku. Seluruh tubuhku sakit.

“Sejak awal, aku tahu bangunan ini tak beratap, Nja. Tapi kupikir, kau akan mengajakku membagun sendiri dinding dan atapnya. Tapi ternyata, kau bahkan tak pernah menyiapkan apa-apa, kau tak pernah mengusahakan apa-apa.”

Wajah Senja memerah. Ada sebersit rasa bersalah yang menjalari seluruh tubuhnya.

Aku menghela napas panjang. Seharusnya aku sadar dari awal, tidak seharusnya aku melangkah dengan orang yang sama sekali tak bisa memperjuangkan dirinya sendiri.

“Turunlah lebih dulu.” ucapku tegas.

“Ra.”

“Kau tidak akan mengajakku menuruni tangga ini bersama-sama, bukan?”

“Ra, tapi aku tidak pernah main-ma…”

“Pergi, Nja. Aku akan baik-baik saja.” Ah, aku akan baik-baik saja? Kalimat macam apa itu. Untuk apa aku meyakinkan kebaikanku pada orang yang mungkin tak pernah benar-benar mengkhawatirkan keadaanku.

            Lalu Senja pun benar-benar pergi. Pada akhirnya aku mengetahui, yang diberikannya selama ini bukan cinta yang selama ini aku percayai. Aku bersyukur telah mengetahui, tapi aku sakit hati untuk mengakui.

­­­____

“Halo, ibu. Aku mau pulang kampung sekarang.”

Aku tidak tahu ke mana lagi aku harus menuju. Aku tak pernah mencintai orang sebelumnya, maka jika perasaan ini bernama sakit hati. Ini pun untuk pertama kalinya. Aku banyak mendengar kisah cinta, tentang orang diselingkuhi sahabat sendiri. Orang yang batal menikah, diberi harapan palsu yang kemudian jatuh. Juga kisah-kisah menderita cinta lainnya. Aku banyak mendengar temanku bercerita, sebanyak itu pula aku mencoba membesarkan mereka.

Akan tetapi, ketika aku merasakannya, logikaku sama sekali tak mampu membesarkan diriku sendiri. Aku merasa telah menjalani hari-hari yang dipenuhi kepalsuan. Rangkai seru yang kini hanya sekadar kenangan buruk rupa. Dan segala hal yang aku merasa sedemikian sia-sianya. Aku percaya Allah, Tuhanku Yang Maha Sempurna, yang akan memberi dan mengambil dengan alasan kebaikan. Tapi rasa sakit hati dan penyesalan ini seolah meruntuhkan keimananku pada-Nya. Allah, ampuni aku. Aku sakit hati, izinkah aku menangis.

Aku benar-benar tak tahu lagi ke mana harus menuju. Satu yang ada di pikiranku saat itu hanya bertemu ibu. Ibu bilang, kelak aku akan tahu bahwa segala yang terjadi hanyalah cinta semu. Cinta sejati tidak pernah seperti itu.

____

Sampai pada satu waktu, aku kembali menaiki bangunan tingkat tujuh itu. Lantas betapa terkejutnya aku, ketika aku menoleh ke bangunan beratap di sampingku. Aku melihat Senja bersama seorang wanita. Terlihat bahagia dengan atap dan dinding yang melindungi mereka.

Aku terjatuh, seketika.

Ibu, kau tak pernah mengajariku tuk jadi pembenci. Tapi jika membenci adalah satu-satunya cara untukku bisa mengikhlaskannya, semoga itu tak lama.

*tulisan ini diikutsertakan dalam “Karya Bersama” edisi 1

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s