Pingsan di Pasar

Selama 25 tahun hidup di bumi, saya merasakan pingsan sebanyak 4 kali, 3 kali gegara lihat darah dan 1 kali gegera siku saya kepentok meja di pasar. Yes, kepentok meja! Aih, gak elit banget ya pingsan di tengah pasaar hahaha.

Tapi, kejadian epik ini saya rasa penting untuk diabadikan di sini. Lililili~

So, bagaimana kronologisnya?

Jadi, saya yang kebetulan sedang jadi petugas pengawas Sensus Ekonomi 2016, harus menemani pencacah yang kebagian mendata Pasar Langon Kota Tegal. Well, tubuh saya sedang sangat fit, sudah sarapan sebelum berangkat, dan sama sekali tidak ada masalah kesehatan.

Saat saya selesai meminta tanda tangan responden, tak sengaja siku saya kepentok ujung meja pedagang tempe. Seketika itu pun saya merasa “kesetrum” seperti yang biasa terjadi jika siku terbentur benda keras.

Namun, rasa kesetrumnya tidak sekadar di bagian tangan saja. Tapi menjalar sampai ke kepala saya. Sontak, pensil di genggaman tangan saya pun terjatuh. Saya merasakan tanda-tanda mau pingsan sehingga saya meminta izin untuk jongkok sebentar.

Saat jongkok itu, saya merasa dunia begitu sesak dan suara-suara bising menghujani telinga saya dengan bunyi dentum yang tak berdentum, namun beruntun. Sesak sekali rasanya. Saya jadi ingat malaikat pencabut nyawa yang datang dengan cepat, seperti ayat-ayat awal surah An-Naziat. Akhirnya saya cuma berdzikir sebisanya aja sambil melawan suasana semrawut gak jelas itu. Mendadak hening. Lalu, saya dengar suara teman saya.

Saya sadar.

“Waduh, maaf ya, Mbak. Saya pingsan ya?”

Teman saya yang panik sama sekali tidak menjawab. Salah seorang pedagang memberikan tempat duduk untuk saya. Saya pun duduk sambil cengar-cengir. Gilaaa, malu bangeeet deeeh. Tapi kepala saya masih saja pening. Kedua lengan juga kesemutan parah!

“Mbak, saya butuh minum anget deh kayaknya. Bisa tolongin?”

“Oh, iya, iya, Mbak” teman saya pun cepat menuju ibu penjual wedang.

Saya sedikit bernapas sejenak. Saya sandarkan punggung dan kepala saya di meja berisi tempe-tempe. Empuk juga ya bantalan pakai tempe, wkwkwk. Saya bisa bernapas tenang sambil terus baca-baca sebisanya. Habis itu saya gak inget apa-apa lagi.

Ternyata saya pingsan lagi. Hahaha.

Bangun-bangun, makin banyak orang mengerumuni saya. Bahkan, ada ibu cantik yang mengecek nadi dan tengkuk leher saya–saya berasumsi dia paramedis. “Jangan ke mana-mana sampai pucatnya hilang, ya. Jangan berdiri dulu. Minum yang banyak.”

Saya mengangguk saja.

Hari itu benar-benar luar biasa!

Pagi tadi, saya kembali ke pasar untuk menyensus. Agak trauma gitu begitu memasuki kepadatan pasar, kaki gemetaran dan perut mual karena mencium banyak hal. Tapi, semua itu hanya di awal saja, setelah itu biasa saja. Saya sudah pakai kaos olahraga dengan pelindung siku biar kalau kepentok gak pingsan lagi hihihi

IMG_20160515_095629

Advertisements

One thought on “Pingsan di Pasar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s