Tolong Periksa Games Anak Anda, Bunda

Hari ini, saya sempurna terkejut ketika secara tidak sengaja pembicaraan terkait kekerasan dan adegan seks di games online menyeruak di kelas.

Salah seorang siswa laki-laki menyebutkan bahwa games yang paling disenanginya selain sepak bola adalah GTA. “Aku paling seneng GTA 5, Bu. Hahaha” katanya dengan mimik wajah mencurigakan disusul dengan gelak tawa teman laki-laki yang lain.

Sontak, saya langsung teringat tentang berbagai artikel seputar bahaya yang ditimbulkan oleh GTA itu. Apakah yang saya baca itu benar ya? Konon, di games itu gamblang sekali dimunculkan adegan kekerasan dan seksualitas.

“Misinya disuruh ngrekam begituan, Bu. Langsung aku tutup!”

Sedih sekali mengetahui kebenarannya. Saya sedikit menyampaikan tentang bahaya games online yang berkaitan dengan kerusakan otak. Mereka semangat menyimak, tapi saya tetap khawatir. Ya Allah, tolong jaga anak-anak itu 😦

Di luar pelajaran, saya terlibat obrolan santai dengan si anak berkacamata tebal yang hobi sekali main playstasion itu.

“Bu, kalau aku bilang mamah nanti PS aku disita gimana?” nampaknya dia memberi tanggapan atas saran saya di kelas tadi: kalau ada hal-hal aneh di games kalian bilang ayah atau ibu ya.

“Enggak, asal kamu bilangnya baik-baik. Mamah kamu akan jadi lebih peduli mungkin.”

“Udah aku hapus, Bu, gamesnya ya. Tapi bisa download lagi. Kalau adek aku main aku hapusin semua.”

Miris.

“Mamah kamu sering nanya-nanya gak?”

“Iya, suka nanya mau main apa? Terus aku jawab lagi milih-milih, mah”

“Bu, aku pernah diajakin temennya aku nonton vcd porno.” katanya terjeda-jeda.

Ya Allaaaah 😦 kaget sekali mendengarnya, tapi saya berusaha tetap tenang.

“Teman sekolah?” tentu menyedihkan karena dia sekolah di sekolah Islam.

“Bukan, teman rumah.”

Ya Allah, sedih sekali mengetahui ini semua. Tentu ini menjadi bahan pembelajaran buat kita semua. Untuk para orang tua, mungkin bisa mengecek bagaimana games anak-anaknya. Tapi bagaimana dengan orang-orang kampung yang sibuk bekerja? Jangankan mau ngecek, buka komputer saja tidak bisa.

Pengaruh lingkungan dan teman juga mendukung tindakan buruk tersebut. Saya jadi berpikir betapa beratnya tantangan kita di masa depan dalam mendidik anak-anak kita kelak. Kita tidak bisa mengawasi anak-anak setiap saat. Kalau akhlak dan aqidahnya tidak benar-benar kuat, jadi apa anak kita nanti?

Hiks, saya sedih sekali.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s