Cerita Lampau :’)

Keluarga Sakinah, Mawaddah, Warrahmah Always in My Heart

“Kamu diterima di UI?”

“Iyaa!”

“Waah… selamat yaa akhirnya perjuanganmu selama setahun ini berkutat dengan buku gak sia-sia!”

“Alkhamdulillah…”

Hilda memelukku erat, rona bahagia terpancar di wajah ayunya yang dipatenkan oleh tahi lalat manis di ujung kanan bibirnya. Aku menerima pelukan itu tak kalah eratnya dengan rasa bahagia yang tak kalah dahsyatnya. Tiba-tiba Hilda merenggang….

“Berarti kamu bakal pergi Cing?”

Kira-kira sudah setengah tahunan aku bekerja di sebuah pabrik sarung tenun terkemuka di kotaku: PT. Asaputex Jaya Tegal, setelah tahun sebelumnya aku gagal masuk perguruan tinggi idamanku, UI. Tak disangka justru di sanalah, pabrik super panas dengan hawa sesak yang tiada terkira disebabkan oleh jutaan debu sarung yang berterbangan, aku merasakan hidup yang sebenarnya.

Di sana aku menemukan seorang sahabat yang kian lama kudamba, yang selalu terlantun dalam setiap doaku: pengharapan akan seorang sahabat yang membuatku nyaman untuk mengisahkan segala perjalanan hidupku yang untuk ku tulis saja rasanya jengah. Hilda, dialah makhluk mungil yang dikirim Tuhan untuk menemani hari-hariku.

Dari predikat buruh yang kusandang aku diajari banyak bersyukur, sebagai karyawan gudang latar belakang keluarga kami rata-rata sama, sebagian besar kawan-kawan di sana memiliki Askeskin (Asuransi Kesehatan Miskin) jadi bisa dibayangkan kan seperti apa keadaan kami?

Aku bersyukur karena di tengah keterbatasanku aku bisa bersekolah di sekolah yang kini menjadi satu-satunya sekolah bergelar Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI), sebuah kesempatan yang tidak diterima teman-temanku yang lain dengan keterbatasan hidupnya yang senada denganku. Setidaknya aku memiliki satu hal yang tidak mereka miliki dalam hal etika dan estetika. Aku yang berani bercita-cita kuliah di perguruan tinggi terkemuka di negeri ini pun yang menjadikan aku sedikit berbeda dengan mereka. Itu semua membuatku merasa “takut” karena dianggap sebagai orang yang paling pintar dan serba bisa.

Untungnya ketakutan itu membuatku lebih dekat dengan Sang Penguasa Hati, meminta perlindungan dari sikap sombong yang kapan saja siap menjarah tubuhku yang rentan terhadap pujian ini.

Aku belajar sabar menghadapi tingkah Azizah yang begitu slowly dan memerlukan proses yang lama untuk memutuskan sesuatu. Neny, yang hanya matanya saja yang berbicara ketika diajak bersenda gurau. Mbak Endang,  yang selalu kukuh mempertahankan pendapatnya meski kadang tak selalu benar.

Lalu Mbak Nur  yang harus dijelaskan dua sampai tiga kali untuk memahami satu hal, dan seabrek karakter teman yang lain, ada yang dikit-dikit marah, perasa, suka menyombongkan diri, sampai yang tak punya urat malu juga ada, belum lagi perilaku para mandor yang terkadang sungguh menyebalkan.

Akan tetapi, itu semua terobati dengan siraman rohani mbak Baety yang selalu mengeluarkan dalil di setiap pembicaraan yang kita lontarkan, membuatku semakin yakin bahwa Alqur’an memang benar-benar menjawab segalanya.

Aku belajar disiplin dengan mengayuh sepeda dengan gigi empat (begitu kata Madam untuk mendeskripsikan saking ngebutnya mengendara) untuk sekadar mendapat warna hitam di kartu absenku. Untuk tak melempar batu pada pagar besi yang sudah ditutup, minta dibukakan pintu. Juga untuk menghindari rasa malu tatkala menjadi pusat perhatian memasukkan kartu absen sendirian saat yang lain tengah disibukkan tugas masing-masing. Yang terpenting gak mau seperti Madam, wanita paruh baya yang mempunyai dua anak tetapi selalu malu ketika membawa anaknya ke puskesmas, katanya “ Masa aku nggendong anak kesana-kemari kayak ibu-ibu ajah!”, yang sampai dipanggil HRD lantaran kartu absennya dipenuhi angka merah.

Memang, Madam ini sering sekali datang terlambat. Dia adalah orang paling kocak dan sumber inspirasi terbesar selama aku mengabdikan diri sebagai buruh di pabrik itu, dialah yang menggugah semangat menulisku, mungkin ada sekitar lima cerpen yang ku buat bersumber dari kisah-kisah seru dan fantastis dalam hari-harinya.

Kini, air mataku menetes karena saat-saat bersama mereka segera berakhir, aku akan bebas dari segala kepenatan dan hawa pengap pabrik, namun diri ini tak akan mudah terbebas begitu saja dengan senyuman mereka, dengan segudang tingkah mereka yang begitu “amazing!”

 

“Iya, aku bakal pisah bareng kalian…huhuhu”

“Eh, ke Madam yuk, Madam bikin cerpen tentang keluarga sakinah mawaddah warrahmah lho…”

“Serius?? Manaaaa???!”

***

Universitas Indonesia, dengan segala kesejukan yang menyeruak dari kesahajaan setiap komponennya, aku berdiri. Kurentangkan kedua lengan, kutapakkan kaki buruh ini di atas jembatan Texas nan mempesona, sepotong kertas dari Madam kubuka, seketika polah Madam terbayang dengan gaya khasnya, menari-narikan jemari di depan dada seperti tokoh-tokoh bollywood.

***

Tegal, 27 Mei 2010

Persahabatan Bagai kepompong

Assalamu’alaikum wr. wb…..

Aku bekerja di sebuah pabrik PT. Asaputex Jaya Tegal. Di sana cara kerjaku berkelompok, memproduksi/packing bermacam-macam sarung dan corak. Karena cara kerjanya berkelompok akhirnya kami jadi teman/sahabat dekat dengan julukan “Keluarga Sakinah, Mawaddah, Warrahmah” terdiri dari 6 orang diantaranya: Mb Endang, Suci, Mb Beti, Hilda, Ani, Nurchasanah.

Adapun sifat/kebiasaan mereka:

  • Mb Endang sifatnya:

Kadang bisa galak, kadang lemah gemulai, dia suka bercerita tentang ke-2 anaknya yang bernama Lia dan Rafli. Makanan favorit: bodin godong (singkong rebus)

  • Suci Indyra

Orangnya pandai, sering mengajari kami bermacam-macam hal seperti hp, chatingan internet/computer dan dia bisa tahu dalam segala hal/bidang. Makanan favoritnya orog-orog. Dia suka menulis cerpen. Tulisannya sering dimuat di majalah-majalah terkenal dan dapat imbalan.

  • Nur Baety

Orangnya suka berceramah/siraman rohani setiap harinya, sering memberi nasehat, tapi dia punya penyakit “ngantuk” yang tidak ada tandingannya. Makanan favorit: arem-arem.

  • Ani

Orangnya suka nglawak, dia suka bernyanyi dan berdendang tiap harinya. Suci menjulukinya dengan sebutan “madam” akhirnya dia terkenal dengan sebutan madam. Ada lagu favorit Suci yang suka dia request yaitu lagu “Cinta Dunia Akhirat” dan Hilda juga request lagu “ Jatuh Bangun” Uwiiiih….kata mereka suaraku seperti Ratu dangdut kita, yaitu Rita Sugiarto iiii…..h aku jadi merinding mendengarnya dan merasa  teranjung karena suaraku mirip dengan Rita. Makanan favorit: Gorengan- sehari tidak makan gorengan seperti ada gempa tsunami.

  • Hilda, orangnya “WTP”

Wanita Tahan Panas, walaupun tempat kerjanya panas pada saat jam 2 siang, tapi dia tidak merasakan kepanasan, karena berada di sebelah Madam yang selalu bernyanyi dan berdendang, dan dia suka bersmsan. Makanan favorit: apa saja ia suka, asal perut laper langsung sikaaaa…..t…!!!

  • Nurchasanah

Orangnya kalau lagi nerveous/tegang tangannya selalu berkeringat membasahi meja. Kegemaran dia suka shoping ke pasar dan mall, tidak tanggung-tanggung setiap kali ditawari pergi wisata dia selalu bilang “OKe, oke!! Siapa takut!!!” karena wisata menurut  dia menghilangkan rasa jenuh dan stress, lelah seharian bekerja. Makanan favorit: cilok. Tujuan wisata yang ia suka yaitu waterboom, tempatnya di purbalinggo, purwokerto.

Tapi sebentar lagi keluarga sakinah, mawaddah, warrahmah akan kehilangan salah satu anggota keluarganya yaitu yang bernama Suci Indyra, ia akan meninggalkan Asaputex untuk menggapai cita-citanya. Dia ingin bersekolah lagi, kuliah di kampus UI ang tempatnya di Depok. Karena kecerdasannya dia mendapat beasiswa. Sebentar lagi tak ada canda dan tawa Suci, orangnya dewasa, percaya dirinya tinggi, dan pemberani. Pernah suatu ketika dia terlambat masuk kerja gara-gara sepeda yang dikayuh rantainya putus, sambil tengak-tengok dia bingung apa yang harus ia lakukan, beruntung di depannya ada kantor polisi dan ia pun bergegas ke sana untuk meminta tolong nitip sepeda.

Suci        : Assalamu’alaikum

Polisi  1    : W’alaikumsalam

Suci        : Permisi, maaf  Pak mengganggu, saya lagi terburu-buru mau berangkat kerja, tahu-tahu rantai sepeda putus, nah maksud kedatangan saya kemari mau nitip sepeda, boleh kan pak?

Polisa 2    : Oh, tidak bisa dek karena di sini bukan parkiran penitipan sepeda

Polisi 1     : (dia berbisik ke polisi 2) Tidak apa-apa bos, dia target kita, barangkali kita lagi dikamera masuk TV acara Tulung kita dapat imbalan, bagaimana bos?

Polisi 2    : tapi kalau terburu-buru ngga papa, taroh saja di sini dijamin aman koq

Suci    : Hore!!! Makasih ya pak polisi, nanti siang aku ke sini lagi buat ngambil sepeda jet matic

Polisi 1    : ternyata dia benar-benar minta tolong koq bos, karena tidak ada kamera

    Polisi 2    : okelah kalo beg beg begitu…..

    Suci        : terima kasih pak polisi…. Assalamu’alaikum

    Polisi 1&2    : iya, hati-hati dek.. wa’alaikumsalam

        Suci juga pernah bilang ingin main ke rumahku bersama Hilda, tapi aku tidak mengijinkan karena aku malu rumahku sempit, dan sofa/kursiku rusak. Kamu boleh main kalau kursiku sudah diservis, kataku

Dan ternyata Allah mengabulkan doaku, suatu hari ibuku dapat rejeki untuk menyervis kursi tersebut. Tapi sebelum Suci dan Hilda sempat ke rumahku Suci dapat panggilan untuk berangkat kuliah di UI.

Aku dan kawan-kawanku merasa sedih dan pilu terasa tersayat  sembilu bila mengenang pertemanan bersama Suci. Karena dia aku bisa belajar  matematik terutama pelajaran porogapit

Tapi semangat!!!! Kan ada HP, jadi walaupun jauh di mata tapi dekat di hati. “Es campur dalam gelas, yang kena sms harap membalas, kan setiap harinya ada gratis sampai 100 sms, tenang kita bisa smsn sampai puas!”

Dan jangan lupakan kami ya Ci, konco-konco Tegal. Don’t Forget me, mb Endang, mb Beti, Nurchasanah, Hilda, yang semuanya lucu-lucu dan imut-imut

Prikitiuuuu…..^^

Wassalamu’alaikum wr wb

***

Tulisan seorang buruh pabrik yang begitu eksotik, sangat sederhana, tapi tersirat jelas berasal dari luapan batin yang terdalam membuatku cekikikan, geli, lalu haru. Air mata ini menyeruak, mengalir bersama segala keindahan yang sedang kurasakan.

“Madam! Aku pasti main ke rumah Madam, mau nyobain kursi barunya. Tunggu aku!”

 

-Depok, 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s