Diary

Bloggy, apa kamu senang menulis diary? Saya termasuk orang yang rutin menulis diary lho, setidaknya sampai akhir tahun 2015. Hingga kini, saya masih menyimpan satu kardus berisi buku diary saya selama kuliah di UI. 

Kemarin, saat mencari buku di tumpukan kontainer, bertemulah saya dengan buku-buku diary yang berisi catatan suram, mempriharinkan, dan alay! Ahahaha. Ada beberapa hal yang saya rasakan ketika membaca diary masa lampau

1. Ternyata, semua yang dulu terasa berat, sekarang biasa saja

Membaca masa-masa sulit bikin saya banyak merenung. Ternyata segala hal yang terpikir berat, tidak seberat itu ketika dijalani. Apalagi jika sudah selesai, dunia seolah sebentar sekali. Dan memang begitu kenyataannya kan ya, kita hidup di dunia super sebentar banget kalau dibandingin waktu di akhirat nanti. Jadi, selow aja kalau lagi memasuki masa-masa kelam. Jalanin dengan sabar, gak usah panik apalagi merasa dunia bakal kiamat. Semuanya bakal terasa biasa kok nantinya.

2. Selalu ada teman baik di setiap situasi buruk di kehidupan kita

Kalau ada yang bilang masalah itu menjadi semacam filter buat menyaring orang-orang baik di kehidupan kita, saya setuju banget. Dari diary yang saya baca, selalu ada nama yang entah kata, laku, atau pikirannya mampu membantu kita melalui hari-hari penuh masalah. Nama itu kadang sangat jauh dari kehidupan kita. Tapi kedatangannya yang seolah jadi pahlawan membuat saya merasakan sekali bahwa pertolongan Allah sangat-sangat dekat. Bahwa kuasa Allah sangat-sangat akurat. Allah bisa menggerakkan siapa saja buat membantu kita ๐Ÿ™‚

3. Omongan yang menyebalkan ternyata cukup bisa diiyakan.

Kadang, diary mencatat orang-orang “jahat” yang memandang kita sebelah mata. Omongannya yang pedas juga sangat menyakiti kita pada masa itu. Tapi waktu sangat bijaksana karena mampu membuat kita lebih membuka mata. Karena terkadang, penilaian orang kepada kita juga ada benarnya. Kita saja yang tak mampu mengendalikan ego kita.

4. Kembali mengaminkan doa teman yang tercacat rapi

Diary seringkali mencatat perkataan bijak dan doa orang-orang baik yang ketika terbuka bisa kembali kita aminkan. Saya bertemu dengan doa seorang teman yang cukup menyebalkan ketika saya ulang tahun ke-22

“Semoga hati yang sakit segera sembuh dan mendapat jodoh yang mengerti kamu, keluargamu, dan teman-temanmu”

Saat itu saya memang sedang patah hati dan membaca doa dia menyebalkan sekali. Alhamdulillah sekarang sakit hati saya sudah sembuh. Tinggal jodohnya yaa semoga segera datang ๐Ÿ™‚

5. Jodoh itu sederhana

Saya masih tidak tahu siapa jodoh saya. Namun, membaca catatan tentang kisah cinta yang rumit dalam buku diary saya kemarin membuat saya berpikir bahwa jika jodoh, tidak akan serumit itu. Ada banyak kata tersimpan dalam catatan senang dan suram. Namun faktanya, segala rangkai kalimat itu ujungnya hanya sekadar bertemu titik. Selesai sudah segala racau kacau yang sempat memukau. Semoga jodoh saya juga akan sedemikian sederhananya. 

Sejak awal 2016 saya sudah tidak lagi menulis diary. Saya tidak tahu alasannya. Tapi saya masih menikmati hidup saya. Mungkin, next time saya akan berdiaryria lagi. Mungkin juga tidak. Entah.

Satu hal yang masih belum saya temukan jawabannya adalah: beruntai-untai kisah masa lalu dalam diary-diary saya itu harus diapain ya? 

Advertisements

7 thoughts on “Diary

  1. Waah.. diary nya suci menyebutkan namaku enggak yahh.. hahahhaa.. dlu kan pernah sekelas.. wkwkkww๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜Š

  2. Aku juga suka bangeeet nulis diary, Kaaak. Wkwk walopun diarynya sih banyakan dalam bentuk puisi gitu. Tapi, diary selalu mejembataniku utk lebih mengenal diriku.
    Btw, salam kenal, Kaaak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s