Suara Keras

Menjadi orangtua itu tidak mudah, apalagi saat anak berada di usia dini. Segala kata dan tindak orangtua dapat dengan mudah ditiru dan direkam oleh anak-anak. Menyadari hal tersebut, beberapa orang tua pun menjadi sangat aware dengan perilaku mereka di hadapan anak-anak. Meski belum pernah merasakan sendiri, saya percaya bahwa tindakan itu tidak mudah.

Permasalahan orang dewasa yang cukup pelik seolah harus bisa “disembunyikan” jika sedang berhadapan dengan anak-anak. Masyarakat Jawa percaya bahwa “anak” adalah akronim dari “apa-apa kudu ana lan enak”. Artinya, anak-anak (di mana pun ia berada) selalu ingin serbaada dan serbaenak. Itu wajar, namanya juga anak-anak.

Oleh karena itu, menjadi masalah apabila dalam kesehariannya anak tidak mendapatkan keenakan (baca: kenyamanan). Makna serbaada dan serbaenak itu bukan sekadar materi, melainkan juga kasih sayang, rasa aman, dan nyaman di dalam rumah.

Suara keras di dalam rumah, yang timbul karena pertengkaran atau ungkapan emosi dari kedua orang tua, akan berdampak pada psikologi anak. Apa pun alasannya, hak kenyamanan anak di dalam rumah seolah tercerabut karena teriakan dan bentakan yang ia tak tahu alasannya.

Ketika mendengar orangtuanya bertengkar hebat, misalnya, anak-anak usia dini tidak akan mau tahu alasan dibalik pertengkaran itu. Mereka belum mengerti tentang salah-benar juga pembenaran kenapa harus mengeluarkan suara keras. Satu hal yang mereka pahami adalah “rumah saya tidak nyaman”. Lain lagi dengan anak-anak yang sudah menginjak usia remaja atau dewasa. Remaja yang labil, umumnya akan menilai dengan memperhatikan keseharian orang tuanya, namun mereka tetap masih mengedepankan ego sendiri. Sedangkan anak di usia dewasa yang menjadi saksi munculnya suara-suara keras di dalam rumah cenderung akan lebih banyak berpikir tentang akar masalahnya. Anak akan menilai apa kekurangan ayahnya, apa kekurangan ibunya, serta kelebihan-kelebihannya. 

Pada akhirnya, anak pun akan menjadikan segala hal di dalam rumahnya sebagai pelajaran berharga untuk membangun rumah tangganya. Kelak, anak pun akan memilih apakah akan mengikuti jejak laku orangtuanya di dalam rumah atau memperbaiki kekurangannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s