Efek Theraplay (?)

Hari ini, seorang anak yang tadinya tak pernah berangkat sekolah, yang tak mau sekalipun masuk kelas, yang kalau diajak berkegiatan selalu lari ke sana ke mari, juga yang aktifnya luar biasa sekali, menjawab pertanyaan saya dengan gembira?

“Siapa yang ketawa keras tadi? Kamu?”

Dia mengangguk keras, masih dengan senyum lebar yang mengembang di pipinya.

“Kamu senang?”

“Iyaa. Seneeeng!” ujarnya penuh semangat ketika pelajaran hari ini berakhir. 

Saya tidak tahu apakah perubahannya itu karena efek theraplay yang saya berikan kemarin. Tapi sedikit banyak, sentuhan yang diberikan guru ke anak didik memang memberikan dampak yang mungkin kurang signifikan.

Ada satu hal yang saya pelajari dari “bocah pecicilan” itu, yaitu kemampuannya dalam berbahasa Inggris!

Sebentar, saya cerita sedikit soal dia kali ya biar gak bingung hehe.

Dia adalah seorang anak pertama, laki-laki, hitam kuat. Ayah ibunya seorang pedagang pasar. Setiap hari ia bertemu dengan lingkungan pasar, kosakata yang masuk ke kepalanya juga kosa kata orang pasar. Gaya bicaranya keras dan medhok, sulit sekali diajak komunikasi pakai bahasa Indonesia.

Tahun lalu, dia pernah sekolah (waktu saya belum daftar jd guru), tapi gak pernah masuk juga. Lebih suka di pasar, akhirnya keluar. Dia juga kecanduan gadget, gak pernah lepas dari tabletnya. Sudah sangat mahir mendownload bermacam permainan dengan segala tetek bengeknya. Soal ilmu keponselan–baterai lemah, layar terlalu terang, volume, dsb–dia paham betul layaknya orang dewasa.

Nah, belum lama ini, dia mendadak minta sekolah lagi. Pertama lihat dia di sekolah, saya ngelus dada berkali-kali. Ini anak kerjanya lari-larian ke sana ke mari. Diajak bicara gak nyambung, ditanya apa jawabnya apa. Setiap mainan gak pernah boleh dipinjem temen lain. Pokoknya semua keinginan dia harus dipenuhi. Jika tidak, dia akan memukul anak lain yg tak menuruti kemauannya -,-”

Saya menaruh perhatian ke dia ketika suatu hari saat saya ajak masuk kelas dia gak mau.

“Kenapa gak mau masuk?”

“Aku mau ke Korea Selatan, Bu!”

“Ke Koreanya nanti kalau udah besar. Sekarang sekolah dulu.” begitu komentar bapaknya yang terlihat sangat sabar dan bijaksana. Tapi dia tetep gak mau sekolah dan memilih pulang.

Untuk anak-anak seusia dia, di tempat tinggal sekitar saya, rasanya teramat unik ketika ia mengenal Korea ๐Ÿ˜€

Well, kemarin waktu dia main sama mamanya, saya tanya krayon yang dipegangnya itu warna apa. Dia jawab “red.” lalu saya tanya lagi warna lain, dia jawab in English jugak. 

“Di tabletnya ada mainan warna sama angka, Bu” kata orangtuanya.

Sejak itu, saya sedikit-sedikit ajak dia komunikasi pakai bahasa Inggris. Logat inggrisnya cakep banget, lho, Bloggy! Bahkan, ketika diminta menghitung jumlah dalam gambar. Secara refleks dia membilangnya dengan one, two, three, four ๐Ÿ˜€

Dia terlihat nyaman saat saya tak mempermasalahkan jawaban dia yang selalu inggris. Tentu, saya selalu memintanya mengulang jawabannya itu dengan bahasa Indonesia. 

Dan yeay! Hari ini dia mau ikut belajar di dalam kelas. Di akhir sesi, saat anak-anak melantunkan “Janji Pulang Sekolah” dia ikut serta dengan gembira.

Dia senang, saya lebih dari senang ๐Ÿ˜€

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s