Konfirmasi

Hai, Bloggy. Selamat pagi! 😀

Akhirnya saya bisa kembali menulis di pagi hari, seneng deh hehehe. Hmm, selama bulan Januari kemarin saya ikut tantangan #30haribercerita di instagram jadi ceritanya lebih banyak di sana deh^^. Hari ini saya mau nulis tentang “Konfirmasi Sebagai Upaya Memperlancar Komunikasi”, kyaa udah kayak judul karya ilmiah aja yaa hahaha. Cekidot yaa :-p

Konfirmasi memiliki arti “penegasan; pengesahan; pembenaran”. Konfirmasi diperlukan ketika kita terlibat dalam suatu pertemuan atau pemenuhan undangan. Pola pikir dan kebiasaan dua orang yang berbeda menjadi alasan mengapa konfirmasi itu diperlukan. Sayangnya, tidak semua orang menyadari arti penting sebuah konfirmasi.

Beberapa hari lalu, saat hendak COD barang yang saya pesan di olshop, saya dibuat geregetan karena pihak penjual tidak memberikan konfirmasi atau penegasan bahwa benar ia akan datang. Kami janjian sekitar pukul 18.30 di lokasi yang kebetulan dekat dengan rumah saya. Namun, sampai pukul 20.00 sama sekali tidak ada konfirmasi dari sana, pesan saya juga belum dibaca. Sebagai sesama manusia, saya bisa berbaik sangka terkait kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi kepada penjual itu. Tapi jujur, saya tidak terbiasa dengan tidak adanya konfirmasi. Saya menunggu sampai ketiduran. Saat jam sepuluh saya bangun, ada pesan beruntun dari penjual yang menyatakan dia otw (sekitar pukul 20.30), sampai di tempat, lalu menunggu-nunggu dan bertanya-tanya tentang balasan saya. Terus, salah gue? Salah emak bapak guee?

Meskipun bukan orang yang ontime-ontime banget, saya selalu memberikan konfirmasi ketika merasa saya akan terlambat dari jadwal yang telah disepakati. Misalnya, sekitar pukul 18.10 saya akan mengirimkan konfirmasi keterlambatan, seperti “Eh, kayaknya gue gak bisa setengah tujuh sampe sana nih, paling jam segitu baru dari rumah hehehe.” Dengan memberikan konfirmasi, saya berharap orang yang akan saya temui nanti tidak bertanya-tanya dan menunggu-nunggu.

Akan tetapi, beberapa hari ini saya bertemu dengan orang-orang yang tidak terbiasa melakukan konfirmasi. Awalnya sebal, tapi kemudian saya sadar bahwa kita tidak bisa memaksakan apa yang biasa kita lakukan untuk dilakukan pula oleh mereka. Seorang terpelajar harus adil sejak dalam pikiran, bukan?—Om Pram, ngutip kata-katanya ya. Selamat ulang tahun, Om!

Berdasarkan pengamatan saya, ada beberapa tipe orang dalam melakukan konfirmasi, yaitu

  1. Konfirmasi alay

Orang dengan tipe ini senang sekali mengonfirmasi jadwal berkali-kali. Jika jadwal disepakati hari Rabu, hari Selasa (pagi, siang, malam) dia mengonfirmasi kehadiran dan ketidakhadirannya. Di satu sisi, orang dengan tipe ini membuat semua menjadi jelas sedari awal, tapi di sisi lain keberlebihannya dalam mengonfirmasi jadwal seringkali membuat sebal juga.

  1. Konfirmasi keterlambatan

Ini yang biasa saya lakukan jika merasa akan terlambat dari jadwal yang telah disepakati. Namun, jika tidak terlambat, tipe ini biasanya akan sepi dari omongan, dia akan datang tepat di waktu yang sudah disepakati. Jika jadwal itu sudah disepakati sejak seminggu lalu, dia akan mengonfirmasi sehari sebelumnya dan biasanya akan lapor kalau sudah benar-benar otw

  1. Konfirmasi sepi

Ada juga tipe orang yang sepi dari konfirmasi alias diem-diem aja. Tidak ada konfirmasi menjelang jadwal yang disepakati, juga tidak ada laporan otw. Namun, dia akan ada pada waktunya tanpa membuat orang mencari-cari lagi. Orang dengan tipe ini biasanya akan melakukan konfirmasi jika merasa akan terlambat, sama dengan tipe di atas.

  1. Antikonfirmasi

Ini orang-orang macem penjual olshop tadi yang tidak memberitahukan pembeli jika ia akan terlambat. Orang dengan tipe ini bukan tidak mau menepati janji, tapi memang tidak terbiasa melakukan konfirmasi. Biasanya, orang-orang yang masuk ke tipe ini merupakan orang yang tak suka jika privasinya diketahui oleh orang lain. Mungkin, bagi sebagian orang, sah-sah saja memberitahukan alasan keterlambatan—seperti motor mogok di jalan, tiba-tiba kebelet BAB, atau anaknya nangis—kepada mitranya, tapi bagi orang tipe ini, hal itu serasa tidak perlu dilakukan. Itu urusan gue, loe gak perlu tahu, yang penting gue berusaha nepatin janji gue—gak peduli walau telat. Yaa its okay sih, cuma kan kalau mitranya macem tipe 1 atau tipe 2, hal-hal macem ini bisa memperburuk komunikasi.

Tipe-tipe orang dalam melakukan konfirmasi itu perlu kita pahami agar sebagai manusia kita bisa bersikap adil dan tidak seenaknya sendiri. Kita tidak bisa memaksa apalagi mengubah orang lain seperti apa yang kita inginkan, tapi setidaknya kita bisa mencoba mengerti kemudian menerima sikap-yang-bukan- kita-banget-itu dengan kebesaran jiwa. Setelah mengerti seperti apa sikap lawan bicara kita, tentu kita tak akan marah atau dongkol. Mau dongkol kayak apa juga emang dia begitu orangnya kan hahay. Jadi, cukup tahu aja kalau janjian  jam 8 terus kamu baru jalan dari rumah jam 8 (oh berarti dia modelnya begitu, oke) kalau mau ketemu jam 8 yang bilangnya jam 7 aja biar beneran jadi sampainya jam 8 hahahaha. Jadi, saling mengerti aja.

Nah, yang jadi pertanyaan, dalam situasi apa saja kita harus mengalah? Sebagai manusia, kita juga ingin melakukan apa yang biasa kita lakukan, kan? Nah, lho.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s