Menjahit: Bekerja dengan “Ketakutan”

Ketika melihat orang-orang bekerja dengan kesibukan yang menjadi raja kemudian menjadikannya menghalalkan segala cara, saya seringkali berpikir dan berdoa, semoga saya jauh dari itu semua.

Bekerja adalah ibadah, seharusnya menjalaninya tentu dengan mengharap berkah. Namun, segala perkara dunia seringkali membuat kita terlena. Menjadikan daya dan upaya dikerahkan hanya untuk urusan dunia saja. 

Demi anak istri dan masa depan, katanya. Tapi lupa dengan hari pembalasan di alam sana.

Saya pun bersyukur saat pekerjaan saya mengalirkan rasa takut hingga, mau tak mau, membuat saya mengingat Yang Maha Kuasa. Meski “ketakutan” itu hanya muncul dari adegan memotong kain sebelum dijahit, saya sangat mensyukurinya.

Menjahit, dengan segala kerumitannya, mengantarkan saya pada kesadaran bahwa berusaha adalah cara terbaik untuk menghasilkan sesuatu. Dalam prosesnya, ada detak yang berdegup-degup setiap kali pola jahit selesai dan mulai memotong di kain. Jika salah, tamatlah saya–ini lebay.

Tapi setidaknya, “ketakukan” itu menggerakkan bibir saya untuk menyebut nama-Nya, menyelaraskan dengan gres gunting yang berjalan lamban. Melatih saya untuk berpasrah dan tak menyerah. Juga siap, jika akhirnya, kalah dengan gagah.

“Coba saja, kalaupun salah, potongan ini sudah ‘dipenuhi’ nama Tuhanmu” tanamku lekat-lekat

Apa pun pekerjaannya, selagi ia masih membuat kita mengingat Allah, ia jauh lebih baik. Semoga “ketakutan” itu tetap ada dan akan menang jikalau kesombongan datang menerjang 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s