Pesan Langit

Sore tadi, saya jalan kaki ke tempat ngajar. Udah lama gak jalan-jalan sore sekalian menengadah melihat langit. Hari ini saya sengaja jalan emang mau lihat dan curhat sama langit–tapi curhatnya pakai telepati gitu ya jadi jangan dibayangin saya literally ngobrol sama langit. Katanya, menurut ilmu psikologi, orang yang ingin menangis bisa menghentikan air matanya dengan melihat ke atas. Langit menyadarkan saya tentang luasnya dunia yang tiada terkira, lalu sepoi angin yang berembus seolah menyentil bilang “Helo, Suci, gak usah merasa jadi orang tersusah di dunia deh. Hidup harus tetep jalan apapun yang terjadi.”

Langit juga mengingatkan saya pada ayat-ayat Alquran yang banyak menyebut langit–kalau ayatnya mana aja saya gak hapal, tapi banyaaak sepengetahuan saya hehe. Allah tidak menciptakan langit untuk bermain-main. Di surat Al-Anbiya awal-awal disebutin tentang langit yang menjadi atap yang terpelihara.

Oh ya, ngomong-ngomong soal Al-Anbiya, qadarullah, setiap sedang sedih saya dipertemukan dengan surat ini oleh Allah. Kadang sampai nangis sendiri, lalu baca terjemahannya makin mewek walaupun gak ngerti. Ada beberapa ayat yang menusuk, seperti tentang firman Allah yang akan menguji hambanya dengan kebaikan dan keburukan. Juga kisah-kisah nabi yang begitu sabar menjalani hidup.

Bayangin gimana dulu nabi nabi kita diolok-olok oleh sekelompok orang dengan olokan yang menyakitkan hati. Sedangkan di sini, dipandang sebelah mata atau digunjing tetangga saja rasanya sudah seperti jadi orang paling menderita sedunia. Seolah hidup itu sempit sekali padahal udah jelas langit aja sejauh dan seluas itu.

Gimana rasanya jadi nabi Ayub yang sakit berkepanjangan kemudian ditinggal istri dan anak-anaknya. Gimana sedihnya Nabi Musa sewaktu melihat kaumnya kembali menyembah patung, gimana perasaan Nabi Yunus di dalam perut ikan yang gelap. Gimana perjuangan Rosulullah Muhammad saw. yang sampai mengikat perutnya dengan batu saking laparnya šŸ˜„

Mengingat itu semua saya malu sekali rasanya. Nabi-nabi tak pernah mengeluh sedikit pun, bahkan doa-doa yang dipanjatkan tak lepas dari permohonan ampun dan pengakuan atas kedzaliman diri. Bagaimana dengan kita? Baru diuji sedikit aja udah ngeluh berpeluh-peluh, menangis-nangis minta dibebaskan dari ujian padahal jelas Allah gak bakal ngasih ujian di luar kesanggupan kita.

Sekarang sudah malam, langit sudah tak sebiru sore tadi. Mungkin saya perlu menengadahkan wajah sedikit lagi. Mari jalan-jalan malam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s