Sudut Pandang

Dalam teori sastra, sudut pandang terbagi menjadi sudut pandang orang pertama dan orang ketiga. Orang pertama mengantarkan cerita yang berpusat pada aku, semua unsur dalam cerita berdasar pada perasaan dan pengetahuan tokoh aku. Sifat dan tanggapan tokoh lain juga dimunculkan melalui kacamata aku. Cerita dengan sudut pandang ini mampu menarik pembaca ke dalam pikiran si aku dan tenggelam di dalamnya. Dalam kehidupan sehari-hari, penggunaan sudut pandang orang pertama ini seperti saat kita sedang bercerita. Kita bercerita tentang bagaimana kita sedih, sebal, atau bahagia karena perilaku orang lain atas dasar persepsi diri kita sendiri.

Sementara sudut pandang orang ketiga bergerak lebih bebas dalam cerita. Biasanya tokoh yang dipakai langsung menyebutkan nama-nama yang memiliki kapasitas yang sama dalam menuturkan perasaan masing-masing. Cerita dengan sudut pandang orang ketiga ini biasanya lebih kompleks karena menggabungkan banyak karakter tokoh. Bisa saja, sikap salah satu tokoh (yang menurutnya biasa saja) dianggap tak biasa oleh tokoh lain sehingga memengaruhi sikap tokoh lain tersebut. Akhirnya, cerita yang dibangun pun lebih luas dan kaya akan berbagai sudut pandang.

Tidak ada sudut pandang orang kedua (kamu). Saya tidak pernah bisa membuat cerita berdasar pada perasaan dan pikiran kamu, bukan? Kecuali, saya keluar dari diri saya dan melihat kamu sebagai dia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s