Semoga Indyra Bisa Menghidupi Banyak Orang

Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk

Kita telah sampai pada bulan yang begitu mulia. Bulan yang setiap detik di dalamnya bisa bernilai ibadah. Bulan yang dipenuhi rahmat dan barokah. Bulan yang mengaminkan doa-doa manusia dalam desah harap dan takutnya. 

Ramadan menjadi berkah bagi siapa saja, terutama pedagang dan penjahit. Di bulan ini, jualan apa saja pasti laku. Begitupula dengan penjahit yang pastinya kebanjiran order jahitan lebaran dari awal puasa. Indyra, sudah jauh-jauh hari mempersiapkan orderan sejak sebelum lebaran. Ini kali pertama saya, yang tidak cukup fashionable, terjun di dunia bisnis fashion dengan persaingan super ketat.

Rasanya mobat mabit sekali. Selain pengalaman yang sangat minim–saya baru kursus setahun dan belum menjahit seratus baju–rutinitas bertemu orang-orang yang membantu saya kemudian me-manage waktu dan menilai pekerjaan mereka sungguh memunculkan dilema tersendiri bagi saya yang gak tegaan ini. Jadi, dalam mengerjakan usaha ini saya memang dibantu beberapa teman sesama penjahit.

Belum lagi, jika dibenturkan dengan kesibukan saya mengajar. Kamu tahu kan, Bloggy, dunia PAUD tak melulu soal kecerian anak-anak dan dunia bimbel juga tak melulu soal mengajar di kelas. Permulaan menuju Ramadan yang beririsan dengan jadwal UN, SBMPTN, UKK, dan penerimaan raport benar-benar membuat fokus saya tercerai berai. Kadang, saya merasa letiiiih sekali, sampai pengen nangis sendiri ngebayangin deadline pekerjaan yang gak selesai-selesai.

Mau gak mau, indyra yang berada di luar jalur pendidikan memang jadi sedikit tersisihkan. Akhirnya, sampai memasuki hari Raya belum selesai juga–padahal awalnya pengen rampung sebelum puasa. Sedih, saya merasa begitu lemah di bulan penuh berkah ini. Terlalu banyak yang harus dikerjakan hingga membuat daya tahan tubuh menurun dan ibadah tak maksimal. Ya Allah, saya minta dikuatkan.

Karena satu dan lain hal, geliat indyra di bulan ini tidak segencar bulan sebelumnya. Saya lebih banyak memikirkan hal lain yang melambatkan laju indyra dan berimbas pada menurunnya produktivitas pekerja. Sedih bercampur haru ketika tetangga saya yang biasa dimintai tolong memasang kancing kemeja, datang mengayuh sepeda dengan wajah reda.

Mbak, durung ana pegawean?

Meminta pekerjaan untuk bekal lebaran

Saya sadar, menjalani semua dari bawah begini bukanlah hal yang gampang. Saya juga sadar, cepat atau lambat saya harus meninggalkan dunia mengajar–setelah sebelumnya saya menutup keinginan untuk menulis buku–jika ingin indyra berkembang dengan pesat. Karena tidak ada orang hebat yang tidak fokus dengan usahanya. Semua harus dipilih dan setiap pilihan pasti mengorban pilihan lain.

Seperti yang pernah saya katakan, 

Memikirkan pekerjaan yang belum selesai jauh lebih melelahkan daripada mengerjakannnya

Jadi, saya memutuskan untuk tidak terlarut pada ketakutan atas deadline dan pikiran soal pekerjaan yang tak kunjung selesai. Saya tidak akan memikirkannya, tapi saya akan mulai menyelesaikannya! 

Saya memang bukan manusia yang banyak amalnya, tapi semoga di bulan menawan ini, ada satu doa saya yang dikabulkan: semoga indyra bisa menghidupi banyak orang.

Terima kasih kiranya Bloggy bersedia mengaminkan 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s