Ahad Pagiku

Setiap kali Ahad tiba, saya selalu merindukan suara mamak yang membangunkan kami di pagi buta. Beliau yang mau gelar dagangan, kami, anak-anaknya, juga kebagian repotnya. Padahal, Ahad kan waktunya bangun siang, seharusnya. Menjelang Subuh, mamak sudah meminta kami bangun untuk membantunya menyiapkan dagangan karena sebelum matahari meninggi mamak sudah harus berangkat. Jadilah suasana Ahad pagiku teramat ricuh jika dibandingkan dengan syahdu damai rumahmu.

Kini, enam bulan sudah saya “tak jadi” anak mamak. Tak kudapati lagi ricuh Ahad pagi yang dulu begitu menjemukan dan sekarang amat dirindukan: membuat saya sadar bahwa akan ada masanya ketika kita merindukan masa-masa sulit dan menyebalkan dalam hidup. Saya bukan lagi anak mamak yang tak tertib beberes rumah, bukan lagi anak mamak yang gemar bersungut-sungut ketika kena omel karena tak bergegas cuci piring, juga bukan lagi anak mamak yang membantunya menyiapkan makanan untuk keluarga selama mamak berjualan. Sekarang saya sudah jadi istri orang dan sejak itu, Ahad pagiku tak pernah lagi sama. Saya hanya bisa berdoa semoga dagangan mamak laris dan Ahad paginya membahagiakan.

Saya kini punya kesibukan sendiri, membersamai suami, menjadi anak ibunya suami, dan sebentar lagi akan menjadi ibu dari seorang bayi. Ahad pagiku yang dulu tak kan pernah terulang lagi. Meski sesekali teramat kurindui, tak menjadi Ahad pagiku kini tak berarti. Mungkin saya hanya perlu membesarkan hati. Untuk mempersiapkan diri. Menyajikan Ahad pagi yang happy buat anak-anak saya nanti 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s