Mewarnai Bersama

Aktivitas mewarnai merupakan hal yang menggembirakan bagi anak-anak. Dari sana, mereka dapat melihat banyak warna yang seolah diciptakan oleh tangannya sendiri. Mereka juga belajar memilih dan menentukan, warna mana yang pantas memperlihatkan dunia mereka.

Ada sebagian anak yang memberikan warna seperti apa yang pernah ia lihat. Seperti memberi warna hijau pada pohon, merah pada apel, atau biru pada langit. Biasanya anak-anak tipe ini seringkali bertanya banyak hal kepada orang dewasa. Saya taksir, mereka ini tipe-tipe perfeksionis ketika dewasa nanti. Mereka tak segan bertanya, “Bu, kalau mangga warnanya apa ya?” jika lupa warna apa yang pernah mereka lihat itu.

Namun, ada pula yang menorehkan warna sesuka hatinya mau warna apa. Tak peduli itu apel atau jeruk, kalau ia ingin beri warna hitam atau biru, terjadilah warna itu. Anak-anak golongan ini, sepanjang pengamatan saya, terdiri dari dua tipe. Pertama, anak yang memang masih belum begitu mengerti warna atau belum pernah melihat gambar yang akan diwarnainya dalam objek nyata. Biasanya mereka lebih senang berekspresi dengan banyak warna. Alasannya sederhana, karena mereka suka. Sedangkan tipe kedua ditujukan bagi anak-anak yang memiliki imajinasi yang tinggi. Ketika mewarnai, mereka juga sambil membayangkan bagaimana serunya benda yang sedang diwarnainya itu. Anak-anak tipe ini umumnya suka bereksperimen, mereka sudah mengenal warna dan ingin mencoba warna-warna baru di objek yang sudah biasa mereka lihat.

“Bu, boleh gak apelnya aku kasih warna biru?”. Pertanyaan yang muncul menunjukkan bahwa si anak sudah tahu bahwa apel berwarna merah. Tapi, ia ingin lihat seperti apa jika apel itu berwarna biru? Pasti lebih seru! Pikirnya.

Perkara mewarnai memang kelihatannya sederhana, padahal dari sana kita bisa melihat banyak hal terkait perkembangan anak. Ketika sekelompok anak bersama-sama mewarnai satu gambar, perkembangan yang bisa dilihat jauh lebih banyak lagi.

Mewarnai bersama tidak hanya mengajarkan kerja sama dalam kelompok, tetapi juga dapat melatih anak agar teregulasi dengan baik. Anak-anak akan belajar berbagi peran dan bersabar menunggu giliran. Mewarnai bersama juga akan merangsang sikap kepemimpinan. Secara alamiah, pekerjaan kelompok akan menghadirkan leader yang mampu memosisikan diri untuk memimpin teman dan kelompoknya ke arah yang lebih baik. 

Selanjutnya, kegiatan mewarnai bersama ini akan lebih baik jika hasil kerja anak-anak dipajang di depan kelas. Mereka akan merasa bangga ketika pekerjaannya bersandar gagah di tembok kelasnya. Secara tidak langsung, hal ini dapat meningkatkan rasa percaya diri anak.

Kita juga dapat melihat bagaimana anak-anak tipe visual yang akan masih selalu ingat gambar mana yang dia warnai dan mana yang temannya warnai. Hal yang lebih membahagiakan jika ada anak yang masih akan mengingat bagaimana keseruan yang ia rasakan ketika mewarnai bersama teman-temannya. Tentu, tak ada yang lebih membahagiakan dari cerita kebahagiaan yang kita timbulkan, bukan?

Selamat mewarnai bersama 😀

Advertisements

Efek Theraplay (?)

Hari ini, seorang anak yang tadinya tak pernah berangkat sekolah, yang tak mau sekalipun masuk kelas, yang kalau diajak berkegiatan selalu lari ke sana ke mari, juga yang aktifnya luar biasa sekali, menjawab pertanyaan saya dengan gembira?

“Siapa yang ketawa keras tadi? Kamu?”

Dia mengangguk keras, masih dengan senyum lebar yang mengembang di pipinya.

“Kamu senang?”

“Iyaa. Seneeeng!” ujarnya penuh semangat ketika pelajaran hari ini berakhir. 

Saya tidak tahu apakah perubahannya itu karena efek theraplay yang saya berikan kemarin. Tapi sedikit banyak, sentuhan yang diberikan guru ke anak didik memang memberikan dampak yang mungkin kurang signifikan.

Ada satu hal yang saya pelajari dari “bocah pecicilan” itu, yaitu kemampuannya dalam berbahasa Inggris!

Sebentar, saya cerita sedikit soal dia kali ya biar gak bingung hehe.

Dia adalah seorang anak pertama, laki-laki, hitam kuat. Ayah ibunya seorang pedagang pasar. Setiap hari ia bertemu dengan lingkungan pasar, kosakata yang masuk ke kepalanya juga kosa kata orang pasar. Gaya bicaranya keras dan medhok, sulit sekali diajak komunikasi pakai bahasa Indonesia.

Tahun lalu, dia pernah sekolah (waktu saya belum daftar jd guru), tapi gak pernah masuk juga. Lebih suka di pasar, akhirnya keluar. Dia juga kecanduan gadget, gak pernah lepas dari tabletnya. Sudah sangat mahir mendownload bermacam permainan dengan segala tetek bengeknya. Soal ilmu keponselan–baterai lemah, layar terlalu terang, volume, dsb–dia paham betul layaknya orang dewasa.

Nah, belum lama ini, dia mendadak minta sekolah lagi. Pertama lihat dia di sekolah, saya ngelus dada berkali-kali. Ini anak kerjanya lari-larian ke sana ke mari. Diajak bicara gak nyambung, ditanya apa jawabnya apa. Setiap mainan gak pernah boleh dipinjem temen lain. Pokoknya semua keinginan dia harus dipenuhi. Jika tidak, dia akan memukul anak lain yg tak menuruti kemauannya -,-”

Saya menaruh perhatian ke dia ketika suatu hari saat saya ajak masuk kelas dia gak mau.

“Kenapa gak mau masuk?”

“Aku mau ke Korea Selatan, Bu!”

“Ke Koreanya nanti kalau udah besar. Sekarang sekolah dulu.” begitu komentar bapaknya yang terlihat sangat sabar dan bijaksana. Tapi dia tetep gak mau sekolah dan memilih pulang.

Untuk anak-anak seusia dia, di tempat tinggal sekitar saya, rasanya teramat unik ketika ia mengenal Korea 😀

Well, kemarin waktu dia main sama mamanya, saya tanya krayon yang dipegangnya itu warna apa. Dia jawab “red.” lalu saya tanya lagi warna lain, dia jawab in English jugak. 

“Di tabletnya ada mainan warna sama angka, Bu” kata orangtuanya.

Sejak itu, saya sedikit-sedikit ajak dia komunikasi pakai bahasa Inggris. Logat inggrisnya cakep banget, lho, Bloggy! Bahkan, ketika diminta menghitung jumlah dalam gambar. Secara refleks dia membilangnya dengan one, two, three, four 😀

Dia terlihat nyaman saat saya tak mempermasalahkan jawaban dia yang selalu inggris. Tentu, saya selalu memintanya mengulang jawabannya itu dengan bahasa Indonesia. 

Dan yeay! Hari ini dia mau ikut belajar di dalam kelas. Di akhir sesi, saat anak-anak melantunkan “Janji Pulang Sekolah” dia ikut serta dengan gembira.

Dia senang, saya lebih dari senang 😀

Praktik Theraplay di Kelas

Seminggu yang lalau saya mengikuti seminar Theraplay dan Bahasa Indonesia di Jakarta. Acaranya super seru banget! Selain mendapatkan banyak ilmu seputar pendidikan anak usia dini dan pengendalian emosi anak, saya juga bertemu dengan orang-orang luar biasa yang menerjunkan diri di dunia PAUD. Tunggu cerita lengkapnya, ya, Bloggy. Kali ini, saya mau bercerita soal praktik Theraplay yang saya lakukan di kelas dulu hehe.

Theraplay sendiri merupakan sebuah terapi yang dilakukan untuk menciptakan kedekatan. Metodenya dengan permainan yang menyenangkan. Intinya, dalam theraplay, anak-anak harus senang. Tak peduli apa pun yang terjadi.

Kami memulai permainan dengan pijakan awal berupa lagu salam dan sapa khas PAUD. Setelah itu, saya menyampaikan aturan bermain yang harus mereka patuhi: 1) Tidak saling menyakiti; 2) Selalu bersama; 3) Bersenang-senang! 😀 

Hal selanjutnya yang dilakukan adalah melakukan check up. Kami mengecek tangan anak dan membubuhi lotion di atasnya. Kami cek satu demi satu jemari anak sembari memijit-mijitnya. Kemudian, tangan mereka yang sudah licin oleh lotion itu kami tarik. Tarik menarik tangan licin ini ternyata cukup menyita perhatian anak. Beberapa anak merasa nagih dan meminta diulangi lagi. Senang rasanya melihat wajah-wajah kecil itu sumringah.

Permainan selanjutnya adalah memukul koran. Kami merentangkan koran dengan kedua tangan kemudian meminta anak memukulnya. Seru sekali, lho, Bloggy. Saya aja seneng mukul-mukul koran begitu. Apalagi anak-anak 😀

Ritual selanjutnya adalah berbagi makanan. Anak-anak kami suapi makanan satu demi satu secara bergantian. Wah wah, saya merasa terjalin kedekatan emosinya ketika melakukan itu mumumu.

Sayangnya, saya tak sempat mengabadikan momen seru tadi, Bloggy. Tapi ini ada video pukul koran waktu pelatihan. Mungkin bisa sedikit memberi gambaran 🙂

Jamur Kuku

Beberapa minggu belakangan, saya menaruh perhatian lebih pada salah satu murid di sekolah. Perhatian itu menuju pada kuku-kuku kecil yang meruncing di jemarinya yang mungil. Sayangnya, lentik jarinya seolah ternoda oleh bercak kuning-hitam pada salah satu kuku kecilnya.

Berawal dari kebiasaan saya menilik kuku-kuku kecil murid, saya mendapati sebuah kuku kotor yang tidak biasa. Kalau kuku kotor biasanya hitam, kuku murid saya itu sedikit terangkat hendak mengelupas dipenuhi bercak. Saya curiga itu jamur.

Sepulang sekolah, saya coba sampaikan pada ibunya. Maybe, bisa direndam air hangat agar jamurnya hilang. Namun, hari-hari berikutnya keadaan kuku itu justru semakin parah. Kebetulan murid itu memang tidak ditungguin ibunya selama di sekolah. Sang ibu juga jarang menjemput, si anak lebih sering pulang dengan teman dan ibu temannya.

Di sekolah saya, pembelajaran cuma sampai hari Kamis. Ketika Senin, saya cek keadaan kuku murid itu, bukannya lega, saya justru semakin miris. Kuku-kuku mungilnya tidak hanya panjang, melainkan juga hitam (tanda tidak dipotong atau diperiksa selama Jumat–Minggu di rumah). Selain itu, jamur kuku yang dulu saya dapati hanya pada satu jari, kini sudah menyebar ke mana-mana. Si anak selalu menggeleng ketika ditanya apakah tangannya sakit. Namun, saat ditanya apakah gatal, dia mengangguk.

Hari ini, tetiba saya ingat gadis kecil yang pendiam itu. Semoga keadaan jari-jarinya semakin baik. Pihak sekolah sudah melakukan perawatan ringan, tapi tentu semua itu harus didukung orangtua di rumah. Kami juga sudah menganjurkan agar sang ibu memeriksakan kuku anaknya ke dokter. Semoga Senin depan, saya bisa tersenyum lega melihat tangan kecilnya tertangani dengan baik. Amiin.

Gang Piring

Bunda, dunia anak adalah dunia bermain. Biarkan anak-anak kita bermain sepuasnya di usia anak-anak agar mereka tidak lagi bermain-main di usia dewasa.
Gang Piring merupakan permainan sederhana yang bisa Bunda buat sendiri di rumah. Alat dan bahan yang dibutuhkan juga mudah ditemukan. Yuk, bikin mainan sendiri!

Alat dan bahan:

  1. Piring plastik atau melamin yang agak lebar
  2. Kertas manila warna warni
  3. Isolasi
  4. Kelereng

Cara membuat:

  1. Potong kertas warna warni dengan lebar kira-kira 2-3 cm.
  2. Bentuk melengkung di atas piring lalu rekatkan ujung-ujungnya dengan isolasi
  3. Tempatkan beberapa kertas dengan jarak yang berbeda. Tinggi gang atau lengkungan juga bisa divariasi
  4. Letakkan kelereng pada piring kemudian mainan siap dimainkan

IMG_20160720_094746