Tipe-Tipe Pendengar

Pernah gak, ketemu anak kecil yang cerita panjang lebar tanpa spasi, terus begitu cerita selesai, cukup kita kasih senyum dan belaian lembut di kepalanya, anak kecil itu akan kembali main dengan riang. Dia tidak butuh apa-apa, hanya butuh ceritanya didengar saja. Udah.

Dunia orang dewasa tidak sesederhana itu. Sikap, pengetahuan, keingintahuan, serta rasa perhatian kepada lawan bicara seringkali membuat sosok pendengar menyela pembicaraan yang belum selesai diucapkan. Dia memberi pandangan, solusi, komentar, atau bahkan pujian yang membahagiakan, tetapi tanpa ia sadari justru menjadikan esensi cerita kita tidak tersampaikan dengan baik. Menjadi pendengar yang baik memang tidak serta merta menjadi patung ketika mendengarkan lawan bicara. Tapi setidaknya, seorang pendengar harus belajar tentang kebutuhan orang yang sedang ingin didengar, apakah memang sedang membutuhkan tanggapan atau tidak. Reflek seorang yang membutuhkan tanggapan tentu akan memberikan pertanyaan seperti, “Gimana menurut kamu?”; “Jadi aku harus gimana?”; “Aku gak tahu harus ngapain setelah ini…” atau sikap lain yang menyiratkan dia butuh masukan atas persoalan yang dihadapi.

Ada tiga tipe pendengar yang sering saya temui di kehidupan sehari-hari.

  • Si Cuek

Pendengar yang tidak memperhatikan lawan bicaranya seringkali membuat orang gondok. Orang seperti ini masuk ke dalam tipe cuek. Ketika kita bercerita padanya, ia lebih sibuk dengan gadget-nya, malah asyik dengerin musik, atau mendengarkan dengan malas tanpa sekali pun menatap mata kita. Ada beberapa hal yang membuat seseorang begitu cuek ketika mendengarkan rekannya, di antaranya tidak senang atau tidak paham dengan topik yang sedang disampaikan, tidak terbiasa mendengarkan, atau sedang memberi pelajaran karena sebal dengan si lawan bicara (haha).

Namun, apa pun alasannya, seharusnya kita bisa lebih menghargai seseorang yang sedang bicara dengan kita. Ketika bercerita dengan pendengar yang cuek, seseorang akan merasa tersisih dan tak berarti. Kalau kata-katanya saja tak menarik perhatian, bagaimana dengan yang lain? Bloggy, jangan jadi pendengar yang cuek, ya, trust me, itu nyakitin!

  • Si Gak Mau Kalah

Pendengar yang Gak Mau Kalah adalah tipe pendengar yang seringkali menyela sebelum habis pembicaraan. Pengalaman hidup yang banyak dan—mungkin—mengesankan membuatnya ingin menanggapi setiap hal yang telah ia ketahui lebih dulu. Orang dengan tipe ini, umumnya tidak bisa mendengarkan dalam waktu yang lama. Mereka cenderung akan lebih banyak bercerita. Jika berhadapan dengan orang tipe ini, kita bukannya menyelesaikan cerita kita, malah kita yang “kalah” dan lebih banyak mendengarkan mereka berkisah.

Misalnya, si pencerita bercerita bahwa ia pernah dicakar kucing ketika tak sengaja menginjak ekor kucing. Pendengar yang gak mau kalah langsung merespons dengan menjelaskan psikologi kucing yang diinjak kakinya, lengkap dengan pengaruh sel-sel saraf yang merangsang kucing merenggangkan kuku-kukunya. Sampai akhir pembicaraan, si pendengar tidak akan tahu bahwa si pencerita sebenarnya ingin memberitahukan bahwa bekas cakaran kucing itu masih ada hingga sekarang dan ternyata membentuk namanya! Mereka terlanjur membicarakan kucing!

  • Si Baik

Pendengar yang baik akan menghadirkan rasa aman dan nyaman bagi orang yang bercerita kepadanya. Ia tahu kapan ia harus mengunci rapat mulut dan menahan komentar keluar dari mulutnya, kapan ia harus menepuk-nepuk punggung si pencerita, atau menyediakan minum dan tisu. Ia juga tahu kapan ia harus bicara dan memberi masukan yang menenangkan. Tidak banyak orang yang bisa menjadi pendengar yang baik—termasuk saya—sehingga tak jarang orang akan membayar mahal untuk sekadar bisa didengar, seperti bercerita dengan psikolog.

Pendengar yang baik umumnya bisa mengklasifikan kebutuhan apa yang diperlukan oleh si pencerita: apakah hanya sekadar telinga dan tatapan mata yang teduh atau solusi dan tindakan konkret. Misalnya, ketika sedang bercerita kenakalannya di masa lalu, pendengar yang baik akan mendengarkan sampai ceritanya habis. Alasannya, si pencerita itu mungkin sedang ingin mengenang kejadian yang mengalirkan kebahagiaan setiap kali kembali dikenang. Pendengar tak perlu berkomentar apa-apa—lha wong kejadiannya aja udah lewat—cukup memberikan senyum sebagai tanda ia turut menikmati cerita itu.

Lain cerita jika yang dikisahkan adalah cerita masa lalu yang berhubungan dengan kehidupan si pencerita di masa sekarang, seperti masa-masa traumatik atau tekanan batin. Dalam situasi seperti ini, pendengar yang baik perlu menempatkan diri sebagai sahabat yang memberinya nasihat dan semangat untuk terus bergerak menuntaskan ceritanya.

Nah, Bloggy. Sama-sama belajar jadi pendengar yang baik, yuk! 🙂

Advertisements