Cerita Teman

Ini adalah cerita teman yang lebih dulu berkasih-kasihan. Dari semua cerita, ada satu kisah kasih yang terngiang di kepala saya: tentang LDR.

Katanya, “LDR itu capek banget tahu, Mbak. Capek kalau kangen gak bisa ketemu haha.”

“Apalagi ya kan kami ketemunya jarang, terus giliran mau ketemu dan ada kendala keciiil aja yang bikin pertemuan kita batal itu rasanya sebel bukan main. Ya secara momen ketemu kan gak setiap hari. Kadang aku udah dandan rapi-rapi terus entah ada apa gitu kami gak jadi ketemu. Gak ada motor lah, hujan, jalanan macet, atau harus kerja saat itu juga. IIih, sumpah bete banget.”

“Tapi kadang cowok kan gak ngerti ya Mbak, suka selow aja gitu. Kalau ngambek dibilang besar-besarin masalah lah atau malah balik marah. Jadi kami sering banget berantem gegara hal-hal gak penting. Akhirnya capek sendiri aku, Mbak. Gak kuat. Putus deh.”

“Ya ada sih pasangan LDR yang harmonis dan langgeng. Tapi kayaknya semua cewek bakal ngerasain hal-hal menjengkelkan macem tadi. Kamu pernah, Mbak?”

Saya menggeleng. Dia tersenyum kecut. Kan saya sudah bilang dari awal, kalau mau curhat begitu-begitu jangan ke saya, gak berpengalaman menjalin hubungan soalnya hahaha. Eh, tapi, gimana kalau nanti saya ngerasa begitu juga? Semoga Masnya ngerti yaa dan gak bilang saya kayak anak kecil yang besar-besarin masalah :-p

Advertisements

Konfirmasi

Hai, Bloggy. Selamat pagi! šŸ˜€

Akhirnya saya bisa kembali menulis di pagi hari, seneng deh hehehe. Hmm, selama bulan Januari kemarin saya ikut tantangan #30haribercerita di instagram jadi ceritanya lebih banyak di sana deh^^. Hari ini saya mau nulis tentang ā€œKonfirmasi Sebagai Upaya Memperlancar Komunikasiā€, kyaa udah kayak judul karya ilmiah aja yaa hahaha. Cekidot yaa :-p

Konfirmasi memiliki arti ā€œpenegasan; pengesahan; pembenaranā€. Konfirmasi diperlukan ketika kita terlibat dalam suatu pertemuan atau pemenuhan undangan. Pola pikir dan kebiasaan dua orang yang berbeda menjadi alasan mengapa konfirmasi itu diperlukan. Sayangnya, tidak semua orang menyadari arti penting sebuah konfirmasi.

Beberapa hari lalu, saat hendak COD barang yang saya pesan di olshop, saya dibuat geregetan karena pihak penjual tidak memberikan konfirmasi atau penegasan bahwa benar ia akan datang. Kami janjian sekitar pukul 18.30 di lokasi yang kebetulan dekat dengan rumah saya. Namun, sampai pukul 20.00 sama sekali tidak ada konfirmasi dari sana, pesan saya juga belum dibaca. Sebagai sesama manusia, saya bisa berbaik sangka terkait kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi kepada penjual itu. Tapi jujur, saya tidak terbiasa dengan tidak adanya konfirmasi. Saya menunggu sampai ketiduran. Saat jam sepuluh saya bangun, ada pesan beruntun dari penjual yang menyatakan dia otw (sekitar pukul 20.30), sampai di tempat, lalu menunggu-nunggu dan bertanya-tanya tentang balasan saya. Terus, salah gue? Salah emak bapak guee?

Meskipun bukan orang yang ontime-ontime banget, saya selalu memberikan konfirmasi ketika merasa saya akan terlambat dari jadwal yang telah disepakati. Misalnya, sekitar pukul 18.10 saya akan mengirimkan konfirmasi keterlambatan, seperti ā€œEh, kayaknya gue gak bisa setengah tujuh sampe sana nih, paling jam segitu baru dari rumah hehehe.ā€ Dengan memberikan konfirmasi, saya berharap orang yang akan saya temui nanti tidak bertanya-tanya dan menunggu-nunggu.

Akan tetapi, beberapa hari ini saya bertemu dengan orang-orang yang tidak terbiasa melakukan konfirmasi. Awalnya sebal, tapi kemudian saya sadar bahwa kita tidak bisa memaksakan apa yang biasa kita lakukan untuk dilakukan pula oleh mereka. Seorang terpelajar harus adil sejak dalam pikiran, bukan?ā€”Om Pram, ngutip kata-katanya ya. Selamat ulang tahun, Om!

Berdasarkan pengamatan saya, ada beberapa tipe orang dalam melakukan konfirmasi, yaitu

  1. Konfirmasi alay

Orang dengan tipe ini senang sekali mengonfirmasi jadwal berkali-kali. Jika jadwal disepakati hari Rabu, hari Selasa (pagi, siang, malam) dia mengonfirmasi kehadiran dan ketidakhadirannya. Di satu sisi, orang dengan tipe ini membuat semua menjadi jelas sedari awal, tapi di sisi lain keberlebihannya dalam mengonfirmasi jadwal seringkali membuat sebal juga.

  1. Konfirmasi keterlambatan

Ini yang biasa saya lakukan jika merasa akan terlambat dari jadwal yang telah disepakati. Namun, jika tidak terlambat, tipe ini biasanya akan sepi dari omongan, dia akan datang tepat di waktu yang sudah disepakati. Jika jadwal itu sudah disepakati sejak seminggu lalu, dia akan mengonfirmasi sehari sebelumnya dan biasanya akan lapor kalau sudah benar-benar otw

  1. Konfirmasi sepi

Ada juga tipe orang yang sepi dari konfirmasi alias diem-diem aja. Tidak ada konfirmasi menjelang jadwal yang disepakati, juga tidak ada laporan otw. Namun, dia akan ada pada waktunya tanpa membuat orang mencari-cari lagi. Orang dengan tipe ini biasanya akan melakukan konfirmasi jika merasa akan terlambat, sama dengan tipe di atas.

  1. Antikonfirmasi

Ini orang-orang macem penjual olshop tadi yang tidak memberitahukan pembeli jika ia akan terlambat. Orang dengan tipe ini bukan tidak mau menepati janji, tapi memang tidak terbiasa melakukan konfirmasi. Biasanya, orang-orang yang masuk ke tipe ini merupakan orang yang tak suka jika privasinya diketahui oleh orang lain. Mungkin, bagi sebagian orang, sah-sah saja memberitahukan alasan keterlambatanā€”seperti motor mogok di jalan, tiba-tiba kebelet BAB, atau anaknya nangisā€”kepada mitranya, tapi bagi orang tipe ini, hal itu serasa tidak perlu dilakukan. Itu urusan gue, loe gak perlu tahu, yang penting gue berusaha nepatin janji gueā€”gak peduli walau telat. Yaa its okay sih, cuma kan kalau mitranya macem tipe 1 atau tipe 2, hal-hal macem ini bisa memperburuk komunikasi.

Tipe-tipe orang dalam melakukan konfirmasi itu perlu kita pahami agar sebagai manusia kita bisa bersikap adil dan tidak seenaknya sendiri. Kita tidak bisa memaksa apalagi mengubah orang lain seperti apa yang kita inginkan, tapi setidaknya kita bisa mencoba mengerti kemudian menerima sikap-yang-bukan- kita-banget-itu dengan kebesaran jiwa. Setelah mengerti seperti apa sikap lawan bicara kita, tentu kita tak akan marah atau dongkol. Mau dongkol kayak apa juga emang dia begitu orangnya kan hahay. Jadi, cukup tahu aja kalau janjianĀ  jam 8 terus kamu baru jalan dari rumah jam 8 (oh berarti dia modelnya begitu, oke) kalau mau ketemu jam 8 yang bilangnya jam 7 aja biar beneran jadi sampainya jam 8 hahahaha. Jadi, saling mengerti aja.

Nah, yang jadi pertanyaan, dalam situasi apa saja kita harus mengalah? Sebagai manusia, kita juga ingin melakukan apa yang biasa kita lakukan, kan? Nah, lho.

Halusinasi

Apa yang ada di pikiran kalian tentang halusinasi?

Halusinasi selalu memiliki ruang tersendiri yang tak akan pernah bisa menyatu dengan dunia nyata kita. Berhadapan dengan orang yang sedang berhalusinasi tentu akan menimbukan kemarahan yang amat luar biasa karena manusia normal tidak akan pernah bisa menyatu dengan alam pikiran mereka.

Jika penderita halusinasi mempercayai bisikan yang muncul di kepalanya, yang mengatakan bahwa Anda adalah orang jahat, misalnya, kemudian ia menanyakan kenapa Anda melakukan kejahatan. Tentu Anda akan marah karena merasa difitnah dan dituduh yang bukan-bukan. Itu wajar. Continue reading

Sabtu Bersama Bapak

Di hari Minggu, bersama sahabat, saya nonton “Sabtu Bersama Bapak”. Alasan nonton karena saya pernah hampir akan membaca novelnya dan tidak jadi entah karena apa saya lupa fufufu.

Filmnya lumayan bagus, meski alur dan jalan ceritanya biasa saja, ada keunikan tersendiri di bagian rekaman pesan-pesan bapak yang sudah meninggal. Yah, setidaknya kami belajar beberapa hal dari film ini:

  1. Rencana itu penting, tapi jangan lupa sama masa sekarang. Sebaik-baiknya nasihat seorang bapak pada anaknya, akan ada efek yang berbeda jika tidak disampaikan secara langsung. Bapak harus tetap ada di dalam rumah meskipun sibuk di luar mencari nafkah.
  2. Hubungan yang baik itu kalau dari kedua belah pihak sama-sama sadar untuk menguatkan dirinya sendiri. Menjadi baik dan lebih baik adalah tugas diri kita sendiri, bukan tugas pasangan kita. Toh, di akhirat nanti juga bakal sendiri-sendiri kan kuburannya. Yang penting adalah saling dengar pendapat dan hasilkan keputusan bersama, bukan sepihak.
  3. Memang sudah tugasnya istri buat nurut sama suami. Tapi suami yang baik seharusnya bisa memahami bagaimana usaha istri untuk bisa menyenangkannya setiap hari. Jika memang tidak sesuai ekspetasi, tolong hargai prosesnya.
  4. Kalau berantem sama suami, ngadunya ke ibu mertua aja, karena beliau yang jauh lebih tahu bagaimana watak anaknya.
  5. Belajarlah memasak sebelum menikah. Guru masak terbaik bagi istri adalah ibu mertuanya, apalagi kalau menyangkut selera anaknya hahaha.
  6. Satu lagi, buat para suami, kalau masakan istrinya gak selezat masakan ibu, tolong setelah mencicipi jangan langsung minum! Meskipun bilang enak, kalau habis makan langsung minum berarti pengen rasanya cepat dihilangkan. Huh.

Okey, sekian dan terima kasih :))

Peran

Sejatinya, kita bukanlah siapa-siapa. Apa yang ada pada diri kita sekarang hanyalah bagian dari sebuah peran yang diputuskan Tuhan. Tak peduli menjadi apa, tak peduli jadi siapa. Kita adalah kita yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab kita sendiri. Setiap ada kelak bermuara kepada-Nya. Tuhan tidak akan bertanya apa peran kita, tapi bagaimana kita berperan. Bagaimana kita mengingat Tuhan dan cinta sesama melalui peran kita. Sederhana saja, tidak perlu muluk-muluk.