Asing

Aku merasa

 asing 

dengan

 berbait

bait

biat

baut

buat

 nada nada nada

yang 

sebetulnya 

sama

Advertisements

Menikahi Sunyi


Engkau adalah kesunyian. Sedang aku adalah riak yang menikahimu.

Beristirahatlah segala kata yang sebelumnya mendera reda di angkasa. Aku tak kuasa merekatkan huruf, mengikat dan menadakannya karena setiap detik harihariku menjadi sunyi. Bahkan setiap kekosongan yang bersepi di telinga pun mengirim makna. Aku tak pernah menduga, bahwa sekerat kata dapat hilang begitu saja hanya karena pandangan matamu yang tiada dasarnya. Tak kubutuhkan lagi katakata penyimbol perasaan atau kebahagiaan. Tak kubutuhkan lagi sapa dan pengakuan langit raya serta apasaja yang hidup di bawahnya.

Duniaku menjadi sunyi, menjadi engkau.

Tentang Sekitar

Hai, Kamu, 

Kamu tahu, betapa menyedihkannya ketika kita tak bisa mengutarakan kesedihan. Malang nian rasanya ketika kita harus sabar sendirian sementara orang-orang masih setia menebar sangar.

Tentang sekitar, sesiapa bisa membuat hati kita bergetar. Tak hanya soal haru atau sendu, hingar bingar suara kasar pun bisa membikin hati bergetar-getar. Menggelegar!

Kamu tahu, kan, kalau manusia memang akan diuji dengan aneka ketakutan dan kekurangan. Tapi nyatanya tidak setiap orang menyadari hal itu. Siapa-siapa pula yang masih menjadikan ujian sebagai kenikmatan? Yang aja malah memenuhi hidupnya dengan deru gerutuan.

Kamu juga tahu kan, kalau batas sabar itu tak pernah ada. Tapi bagaimana jika kita harus sabar sendirian? Bagaimana bila kita kudu berperan menjadi penggiat iman alih-alih tiada satupun dukungan? Seperti masuk kubangan di angan-angan. Menyedihkan!

Dan jika kamu saja ingin tahu bagaimana rasanya, lebih baik jangan.

Lelah

Manusia seringkali kalah oleh rasa lelah. Pekerjaan yang menumpuk, permasalahan yang menimpuk, atau persoalan yang makin majemuk membuat baling-baling pikiran berderu-deru tanpa sedikitpun mau terbang. Padahal, memikirkan segala persoalan yang menyusahkan itu jauh lebih melelahkan daripada mengerjakannya.