Praktik Theraplay di Kelas

Seminggu yang lalau saya mengikuti seminar Theraplay dan Bahasa Indonesia di Jakarta. Acaranya super seru banget! Selain mendapatkan banyak ilmu seputar pendidikan anak usia dini dan pengendalian emosi anak, saya juga bertemu dengan orang-orang luar biasa yang menerjunkan diri di dunia PAUD. Tunggu cerita lengkapnya, ya, Bloggy. Kali ini, saya mau bercerita soal praktik Theraplay yang saya lakukan di kelas dulu hehe.

Theraplay sendiri merupakan sebuah terapi yang dilakukan untuk menciptakan kedekatan. Metodenya dengan permainan yang menyenangkan. Intinya, dalam theraplay, anak-anak harus senang. Tak peduli apa pun yang terjadi.

Kami memulai permainan dengan pijakan awal berupa lagu salam dan sapa khas PAUD. Setelah itu, saya menyampaikan aturan bermain yang harus mereka patuhi: 1) Tidak saling menyakiti; 2) Selalu bersama; 3) Bersenang-senang! 😀 

Hal selanjutnya yang dilakukan adalah melakukan check up. Kami mengecek tangan anak dan membubuhi lotion di atasnya. Kami cek satu demi satu jemari anak sembari memijit-mijitnya. Kemudian, tangan mereka yang sudah licin oleh lotion itu kami tarik. Tarik menarik tangan licin ini ternyata cukup menyita perhatian anak. Beberapa anak merasa nagih dan meminta diulangi lagi. Senang rasanya melihat wajah-wajah kecil itu sumringah.

Permainan selanjutnya adalah memukul koran. Kami merentangkan koran dengan kedua tangan kemudian meminta anak memukulnya. Seru sekali, lho, Bloggy. Saya aja seneng mukul-mukul koran begitu. Apalagi anak-anak 😀

Ritual selanjutnya adalah berbagi makanan. Anak-anak kami suapi makanan satu demi satu secara bergantian. Wah wah, saya merasa terjalin kedekatan emosinya ketika melakukan itu mumumu.

Sayangnya, saya tak sempat mengabadikan momen seru tadi, Bloggy. Tapi ini ada video pukul koran waktu pelatihan. Mungkin bisa sedikit memberi gambaran 🙂

Advertisements

Jamur Kuku

Beberapa minggu belakangan, saya menaruh perhatian lebih pada salah satu murid di sekolah. Perhatian itu menuju pada kuku-kuku kecil yang meruncing di jemarinya yang mungil. Sayangnya, lentik jarinya seolah ternoda oleh bercak kuning-hitam pada salah satu kuku kecilnya.

Berawal dari kebiasaan saya menilik kuku-kuku kecil murid, saya mendapati sebuah kuku kotor yang tidak biasa. Kalau kuku kotor biasanya hitam, kuku murid saya itu sedikit terangkat hendak mengelupas dipenuhi bercak. Saya curiga itu jamur.

Sepulang sekolah, saya coba sampaikan pada ibunya. Maybe, bisa direndam air hangat agar jamurnya hilang. Namun, hari-hari berikutnya keadaan kuku itu justru semakin parah. Kebetulan murid itu memang tidak ditungguin ibunya selama di sekolah. Sang ibu juga jarang menjemput, si anak lebih sering pulang dengan teman dan ibu temannya.

Di sekolah saya, pembelajaran cuma sampai hari Kamis. Ketika Senin, saya cek keadaan kuku murid itu, bukannya lega, saya justru semakin miris. Kuku-kuku mungilnya tidak hanya panjang, melainkan juga hitam (tanda tidak dipotong atau diperiksa selama Jumat–Minggu di rumah). Selain itu, jamur kuku yang dulu saya dapati hanya pada satu jari, kini sudah menyebar ke mana-mana. Si anak selalu menggeleng ketika ditanya apakah tangannya sakit. Namun, saat ditanya apakah gatal, dia mengangguk.

Hari ini, tetiba saya ingat gadis kecil yang pendiam itu. Semoga keadaan jari-jarinya semakin baik. Pihak sekolah sudah melakukan perawatan ringan, tapi tentu semua itu harus didukung orangtua di rumah. Kami juga sudah menganjurkan agar sang ibu memeriksakan kuku anaknya ke dokter. Semoga Senin depan, saya bisa tersenyum lega melihat tangan kecilnya tertangani dengan baik. Amiin.