Menikahi Sunyi


Engkau adalah kesunyian. Sedang aku adalah riak yang menikahimu.

Beristirahatlah segala kata yang sebelumnya mendera reda di angkasa. Aku tak kuasa merekatkan huruf, mengikat dan menadakannya karena setiap detik harihariku menjadi sunyi. Bahkan setiap kekosongan yang bersepi di telinga pun mengirim makna. Aku tak pernah menduga, bahwa sekerat kata dapat hilang begitu saja hanya karena pandangan matamu yang tiada dasarnya. Tak kubutuhkan lagi katakata penyimbol perasaan atau kebahagiaan. Tak kubutuhkan lagi sapa dan pengakuan langit raya serta apasaja yang hidup di bawahnya.

Duniaku menjadi sunyi, menjadi engkau.

Advertisements

Biarkan Menangis

Hai,
Saya sedang merasa menjadi seorang anak kecil yang ingin terus menangis sepanjang hari karena tidak mengerti bagaimana mengungkapkan apa yang saya rasakan kepada orang dewasa.
Dulu, saya pernah berhadapan dengan seorang anak yang menangis tanpa sebab. Saya bertanya kenapa, dia tak menjawab. Saya tawarkan banyak hal, dia bersikap sama. Juga ketika saya mereka-reka beberapa kejadian buruk yang mungkin saja menimpanya. Anak kecil itu terus saja diam dan menangis tanpa memberikan sedikit pun penjelasan. Malah, sesekali merajuk menyebalkan dan membuat orang dewasa yang melihatnya semakin kesal. Continue reading

Bloggy, saya mau kasih tahu satu hal. Sekarang ini, saya sedang berhadapan dengan orang yang tidak biasa. Tidak biasa ada di kehidupan saya maksudnya. Haha.

Semasa

Pada satu waktu, entah aku atau kamu

akan singgah pada satu masa penuh haru

saling berburu rindu, tanpa tahu seberapa jauh sudah melaju

ada semasa yang akan tertinggal

sementara masa lain menanti

jauh menapak hati-hati

hey, bisakah ini disebut sedih? atau bahagia yang berbisik lirih?

Adem

Pagi, Bloggy.

Beberapa jam lalu saya mengidap sedih mendadak *apaan tuh?*. Pernah ngerasain hal serupa gak sih? Ketika selepas Subuh, mendadak hati kita merasa sedih sesedih-sedihnya. Lalu mulai terpikir hal-hal yang tak berhasil kita capai. Mulai menyalahkan orang-orang atas segala keburukan yang menimpa diri. Mulai bertanya-tanya keadilan Allah kenapa begini dan begini. Astaghfirullah :((

Hm, kalau sudah begitu, saya bisa menangis berjam-jam tanpa alasan *lebay*, ya nggak berjam-jam juga sih, cuma cukup lama lah ya. Merasa hidup tuh susah banget dilalui, merasa lelah dengan nasihat sabar sabar sabar yang seringkali didengungkan banyak orang. Huh

Akhirnya saya memilih tidur. Haha. Sejauh ini, tidur menjadi salah satu obat mujarab untuk penyakit gak jelas yang suka datang tiba-tiba. Begitu bangun, kepala saya sedikit pusing. Ya iyalah, tidur sambil nangis gimana gak pusing!
Nah, tapi setelah itu, saya bertemu dengan kata-kata bagus. Dan mendadak, hati saya menjadi adem banget. Serius, deh. Begini bunyinya

“Yakinlah ada sesuatu yang menantimu selepas banyak kesabaran, yang akan membuatmu terpana hingga kau lupa betapa pedihnya rasa sakit.” (Sayyidina Ali. Ra)

Subhanallah, alhamdulillah. Sesuatu yang dikatakan dari hati pasti sampai ke hati :))