Biarkan Menangis

Hai,
Saya sedang merasa menjadi seorang anak kecil yang ingin terus menangis sepanjang hari karena tidak mengerti bagaimana mengungkapkan apa yang saya rasakan kepada orang dewasa.
Dulu, saya pernah berhadapan dengan seorang anak yang menangis tanpa sebab. Saya bertanya kenapa, dia tak menjawab. Saya tawarkan banyak hal, dia bersikap sama. Juga ketika saya mereka-reka beberapa kejadian buruk yang mungkin saja menimpanya. Anak kecil itu terus saja diam dan menangis tanpa memberikan sedikit pun penjelasan. Malah, sesekali merajuk menyebalkan dan membuat orang dewasa yang melihatnya semakin kesal. Continue reading

Bloggy, saya mau kasih tahu satu hal. Sekarang ini, saya sedang berhadapan dengan orang yang tidak biasa. Tidak biasa ada di kehidupan saya maksudnya. Haha.

Semasa

Pada satu waktu, entah aku atau kamu

akan singgah pada satu masa penuh haru

saling berburu rindu, tanpa tahu seberapa jauh sudah melaju

ada semasa yang akan tertinggal

sementara masa lain menanti

jauh menapak hati-hati

hey, bisakah ini disebut sedih? atau bahagia yang berbisik lirih?

Adem

Pagi, Bloggy.

Beberapa jam lalu saya mengidap sedih mendadak *apaan tuh?*. Pernah ngerasain hal serupa gak sih? Ketika selepas Subuh, mendadak hati kita merasa sedih sesedih-sedihnya. Lalu mulai terpikir hal-hal yang tak berhasil kita capai. Mulai menyalahkan orang-orang atas segala keburukan yang menimpa diri. Mulai bertanya-tanya keadilan Allah kenapa begini dan begini. Astaghfirullah :((

Hm, kalau sudah begitu, saya bisa menangis berjam-jam tanpa alasan *lebay*, ya nggak berjam-jam juga sih, cuma cukup lama lah ya. Merasa hidup tuh susah banget dilalui, merasa lelah dengan nasihat sabar sabar sabar yang seringkali didengungkan banyak orang. Huh

Akhirnya saya memilih tidur. Haha. Sejauh ini, tidur menjadi salah satu obat mujarab untuk penyakit gak jelas yang suka datang tiba-tiba. Begitu bangun, kepala saya sedikit pusing. Ya iyalah, tidur sambil nangis gimana gak pusing!
Nah, tapi setelah itu, saya bertemu dengan kata-kata bagus. Dan mendadak, hati saya menjadi adem banget. Serius, deh. Begini bunyinya

“Yakinlah ada sesuatu yang menantimu selepas banyak kesabaran, yang akan membuatmu terpana hingga kau lupa betapa pedihnya rasa sakit.” (Sayyidina Ali. Ra)

Subhanallah, alhamdulillah. Sesuatu yang dikatakan dari hati pasti sampai ke hati :))

Allah Maha Penyayang

Hai, kau tahu Bloggy, bulan di luar sedang indah sekali. Menelurkan kuning keemasan yang bersemu malu di bawah lembayung malam. Malam tadi, dia tak sebersinar sekarang. Wajahnya masih pucat meski telah sempurna bulat. Lantas, ketika malam bertambah gelap, aura cantiknya semakin mempesona.
Kamu masih ingat kan, Bloggy, filosofi malam gelap yang sering saya agung-agungkan? Malam yang paling gelap adalah malam menjelang fajar. Yah, sepakat! Ternyata sinar bulan temaram itu juga muncul pada detik malam mengeluarkan titik tergelapnya. Ah, betapa syahdunya. Bahwa jika kita mau melihat lebih dekat, keindahan suatu masalah adalah ketika sudah berada pada titik klimaksnya. Saya tidak bohong, sungguh. Setidaknya, bukankah saat itu kamu jauh lebih dekat dengan Tuhanmu?
Jika yang mendekatkan kita kepada Allah adalah masalah-masalah itu, betapa besar jasa si masalah itu, bukan?
Allah Maha Penyayang. Itu hal pertama yang saya tahu ketika belajar mengenal Tuhan saya, sewaktu kecil dulu. Dan saya sangat percaya, tentu saja.

Depok, menjelang pagi
9 September 2014