Lingkaran

Lelaki : Kamu tahu, kenapa aku memintamu menggunting banyak sekali lingkaran?

Perempuan : Seperti cincin yang melingkar di jariku, melingkar sempurna tanpa ada ujungnya, begitu kan seharusnya kita saling menjaga cinta? Tapi tahukah kau betapa sulitnya membentuk lingkaran yang sempurna sekalipun sudah ada garis bantunya?

Lelaki : Ya, aku tahu. Seperti itu pula kita harus menjaga cinta yang telah ada. Akan ada masa ketika kita lelah dan melenceng dari garis yang telah ditentukan. Lingkaran kita akan cacat. Tapi tekad kita harus tetap bulat.

Perempuan : Lingkaran tak pernah mengajarkan kita untuk berhenti. Meski bulatnya tak sempurna, lingkaran masih memberi kesempatan untuk kembali sempurna. Dan untuk menyempurnakannya, ada kalanya kita perlu membuang ego kita sendiri. Ada kalanya kita perlu menurunkan standar demi mendapatkan lingkaran yang sempurna, tapi dengan ukuran yang lebih kecil. Seperti itulah cinta, bukan? Cinta tak pernah memaksakan kehendak, cinta memberikan kesempatan untuk sempurna bersama-sama.

Lelaki : Ya, cinta bukan tentang apa yang aku atau kamu mau, tapi tentang kita. Tentang bagaimana inginku bersisian dengan inginmu, juga sebaliknya.

Perempuan : Benar, itu sudah seharusnya.

Bagai Duri dalam Daging

Akhir-akhir ini, saya sedang tidak ingin melakukan apa-apa. Rasanya malas saja. Saya sebal melihat segala reaksi berlebihan (menurut saya) dari orang-orang di sekitar saya. Saya bosan melihat berjengkal-jengkal masalah yang berputar di situ-situ saja alih-alih saya pun tak bisa berbuat apa-apa. Saya lelah dengan racau kacau orang-orang yang berkomentar atas segala apa yang bahkan temanya pun tak mereka tahu tentang apa. 

Semua itu membuat saya malas beraktivitas. Saya malas bertemu orang-orang, saya malas membalasi chat teman-teman. Saya hanya ingin tidur seharian, bangun menonton televisi, kemudian tidur lagi. Begitu saja seterusnya sampai segala gundah pergi sendiri. Saya ingin menarik diri dari siapa saja, ingin lepas dari berbagai bentuk ikatan sosial yang mendera saya di dunia. Tapi apa daya, jelas semua itu tak mungkin bisa.

Kecuali saya pindah ke hutan belantara dan menghapus rasa sungkawa hingga serta merta merasa “biasa saja” mengetahui orang-orang panik mencari saya.

Asing

Pada satu masa, saya bisa merasa asing dengan setiap aktivitas yang melingkupi saya setiap hari. Seperti hilang rasa dan tak ingin besok ada. Apa ini yang dinamakan bosan, ya? 

Saya kehilangan semangat untuk sekadar mempersiapkan baju apa yang akan saya kenakan. Jangankan persiapan, menjalankan pekerjaan saja rasanya ogah-ogahan. Ada banyak faktor, tentu, tapi biasanya, yang terbesar itu dari diri sendiri.

Tapi kemudian saya berpikir, apa setiap jengkal kebosanan ini hadir karena rasa ketidaktertarikan yang mulai menyeruak ke permukaan? Jejak langkah orang-orang sekitar, gulir waktu yang menggebu, hingga jadwal yang tak bisa dikawal membuat sendu menghalau jiwa dan raga saya.

Pergi? Ingin, tapi saya belum siap dirayap kekosongan. Haruskah saya menunggu cawan-cawan ini penuh dengan hal-hal menakjubkan? Tapi kapan? 

Sepertinya saya memang butuh seorang “kawan”

Hakikat Hidup

Tidak ada satu manusiapun di dunia ini yang hidupnya mulus tanpa ujian. Bahkan, orang dengan harta melimpah sekalipun, masih merasa gundah meski sekadar menyoal di mana ia bisa menyimpan hartanya dengan aman. Di setiap permasalahan, ada kadar yang tak akan pernah bisa kita sama-samakan. Ada orang yang bunuh diri hanya karena putus cinta, sedang kita di sini putus cinta malah jadi bahan tertawa-tawa. Ada yang kehilangan benda jadi bukan main setresnya, sedangkan di belahan dunia lain ada saja yang melepas benda-benda kesayangannya dengan gampangnya. Atau, ada pula yang gundah gulana karena sakit anaknya yang tak kunjung reda, sementara dalam kasus yang sama, ada yang masih baik-baik saja menjadi tangan dan kaki bapak yang menahun sakitnya.

Hidup itu soal cara pandang, bukan?

Ibarat di dunia peran, ada satu masa ketika kita tak bisa memilih peran yang telah disiapkan. Menjadi apa kita, yang harus dilakukan adalah menjalaninya dengan sebaik-baiknya. Tidak mungkin semua manusia menjalani peran yang sama. Harus ada yang rela menjadi miskin sementara yang lain kaya raya. Harus ada yang pasrah duduk di singgasana sementara teman-temannya jadi rakyat jelata. Hey, ini soal peran saja. Derajat manusia tidak dilihat berdasarkan perannya di dunia saja.

Barangkali kita sudah sering dengar, kalau Tuhan mau, bisa saja semua manusia tercipta sama baik harta dan imannya. Jadi, tidak sama keadaan di dunia bukan berarti tidak ada keadilan, kan? Hari akhir itu ada, dan nasib akhir manusia, bagaimana baik dan buruknya, baru akan ketahuan di sana. 

Lantas, sebenarnya apa esensi dari permasalahan yang hinggap dan bergelayut di kehidupan manusia? Agaknya tak jauh dari bumbu penyedap rasa yang menjadikan hidup kita lebih berwarna. So, hidup itu bukan tentang seberapa besar masalahnya, tapi seberapa besar sabarnya.

Akhlak Pemuda Kita

Teduh rasanya ketika melihat para pemuda bergerombol di pinggir jalan kemudian gegap gempita membantu orangtua yang berat barang belanjaannya. Sepele memang, tapi toh zaman sekarang hal sepele itu sudah jarang ditemukan. Apalagi di kota-kota besar.

Belum lama ini saya melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana seorang tua yang membawa banyak sekali barang terlihat begitu lelah mengangkutnya masuk ke dalam rumah. Alih-alih, tepat di depannya dua orang pemuda sedang duduk santai dengan ponsel di tangannya. Bisa ditebak, apa yang pemuda-pemua itu lakukan? Ya, hanya diam menikmati dunia ponselnya. Jangankan beranjak mengangkat tangan, melirik pun tidak.

Bahkan, ketika saya turun tangan membantu seorang tua tadi, mereka masih saja di posisinya. Huh, tak perlulah bicara soal menghargai wanita, memandang baik orangtua saja mereka seperti tak bisa. Inikah akhlak pemuda kita?