Menjaga Kewarasan

Hal paling berat selama hampir sembilan bulan mengandung ternyata bukanlah tentang mual dan pegal, melainkan tentang menjaga kewarasan. Sensitivitas ibu hamil memang meningkat sekian kali lipat dari biasanya. Kalau di hari biasa perempuan akan menjadi begitu manja dan menyebalkan saat datang bulan, di masa kehamilan, hal ini dapat terjadi setiap hari, setiap jam, bahkan setiap detik! Tentu, ini sudah tak lagi menjadi rahasia dan orang-orang yang mengelilingi ibu hamil pun sedikit banyak telah tercerahkan hingga meluapkan pemakluman-pemakluman. Betapa spesialnya ibu hamil itu, bukan?

Namun, pemakluman dan perhatian orang-orang tersayang itu ternyata hanya berdampak kecil bagi “kewarasan” sang ibu hamil. Sebagian besarnya berasal dari diri ibu sendiri. Sekecil apa pun rasa badmood yang dialami ibu, itu berdampak pada kondisi bayi di kandungan. Sungguh! Kesal, bete, sebal, atau kesentil sama omongan gak enak yang padahal gak ditujukan buat si ibu bisa menjadi “malapetaka” bagi kenyamanan dan keharmonisan gerak bayik di dalam perut–apa banget deh–. Meski kelihatannya sepele, sentilan-sentilan kesal itu akan menjadikan hari-hari ibu hamil dipenuhi dengan ketidaknyamanan baik dari segi kesehatan maupun kebahagiaan.

Untuk itu, sangat penting untuk menjaga hati dan pikiran agar tetap happy setiap hari, apalagi di bulan Ramadan ini. Baby yang diajak puasa seolah lebih sensitif jika ibunya dilanda kegalauan dan ketidakbombongan karena rasa sebal yang mungkin sangat sedikit kadarnya.

Saya perhatikan selama lima hari berpuasa, si dedek lebih nurut dan gak banyak “tingkah” kalau sedari sahur saya mengawali hari dengan happy. Dedek santai saja gitu dibawa puasa, ikut saya menjahit, mencuci baju, beres-beres kamar, dan mengaji. Sebaliknya, kalau dari sahur aja saya gagal menjaga kewarasan, sudah bete karena ini dan itu, dan kekesalan itu tidak segera diolah menjagi kewarasan tadi, puasa jadi terasa begitu berat. Badan terasa tak nyaman, perut kencang dan mulas karena asam lambung naik, sampai tidur pun tak nyenyak meski sudah berganti-ganti posisi.

Saya jadi terharu, lho, Bloggy. Ada jiwa yang sebegitunya membutuhkan saya, sebegitunya terhubung dengan perasaan saya, sebegitunya menginginkan saya tetap happy di tengah carut marut dunia ini. Masya Allah, sebentar lagi ada jiwa yang asupan makanannya mengandalkan diri saya, yang kenyamanannya mengandalkan pelukan saya, dan yang canda tawanya serta merta dengan dunia batin saya, ibunya.

Doakan saya, Bloggy. Semoga saya masih dan akan terus mampu menjaga kewarasan, sepanjang usia saya. Amin.

Advertisements

Aura Positif

Saya percaya, di dunia ini ada orang-orang yang diberi keistimewaan oleh Allah dengan aura positif yang senantiasa memancar dalam dirinya. Mereka adalah manusia-manusia pilihan yang bukan sembarang manusia, yang ketika kita berjumpa dengannya, bahkan hanya sekadar mendengar suaranya, hari-hari kita sekejap jadi lebih berwarna.

Ramadan Kami

Tahun ini, alhamdulillah saya kembali dipertemukan dengan bulan Ramadan yang memesona. Ramadan ini pun menjadi sangat istimewa karena untuk kali pertama saya melaksanakannya bersama suami dan jabang bayi di dalam perut. Luar biasa sekali rasanya berpuasa dalam keadaan hamil 9 bulan. Beruntung Allah menyiapkan suami yang siap siaga memijit setiap saya kelelahan. Alhamdulillah. Bahagia banget setiap suami–di tengah rasa letihnya setelah bekerja seharian–memijat kecil telapak kaki atau punggung saya. Seperti sedang di surga hehehe.

Meski terkadang selipan rindu suasana keluarga di rumah datang merayap, rasa syukur atas segala nikmat mampu mengobatinya. Tidak hanya suami, ada pula ibu mertua yang luar biasa sabar dan pengertian, gak pernah sekalipun mengomel atas perilaku buruk menantunya ini, maaf ya, Bu, gak bisa bantu-bantu, semoga ibu sehat selalu. Ibu juga yang selalu siap menyiapkan makan sahur dan buka puasa untuk kami semua. Semoga Allah memberikan segala keberkahan kepada kepada ibu mertua saya. Amiiin.

Keistimewaan ramadan ini tak cukup sampai di situ. Saya juga untuk kali pertama merasakan nikmatnya tarawih dalam keadaan hamil. Betapa amazing ketika si baby bergerak-gerak mengikuti bacaan alfatihah dan surat pendek imam. Betapa syahdunya tatkala harus kembali bangkit setelah salam untuk menuntaskan 23 rakaat tarawih. Benar-benar perjuangan! Setelah selesai, rasanya happy sekali. Sungguh.

Tapi malam ini saya tidak tarawih karena badan terasa begitu letih dan kontraksi dirasa semakin sering. Sepertinya, asam lambung saya juga naik. Duh, tetiba saya kepikiran empat dress yang belum selesai dijahit. Semoga pekan depan selesai ya, Nak. Semoga kamu keluar setelah semua jahitan ibu selesai yaa.

Mohon doanya, ya, Bloggy. Semoga saya dan baby dapat melewati Ramadan ini dengan baik :))

Malam

Kembali saya bertemu malam, kemudian menikmatinya. Rasanya baru kemarin, saya merenda-renda di tengah malam untuk mengadukan segala persoalan tentang pendidikan. Masa perkuliahan yang penuh perjuangan itu ternyata sudah tinggal kenangan.

Rasanya baru kemarin, ketika memantapkan diri terjun di usaha konveksi. Menghabiskan segala modal tabungan dan tenaga cadangan untuk berjibaku pada tumpukan kain yang serasa tak habis-habis. Baru kemarin sekali rasanya saya membuat banyak pola, memotong satu demi satu baju dengan amat sederhananya, sebegitu manualnya. Sebegitu nekatnya karena hanya modal ilmu kursus yang gak seberapa. Sudah setahun berlalu, rupanyaa.

Kini saya masih dengan rutinitas yang sama, hanya sedikit lebih rapi dan terarah. Tidak lagi saya tidur di tengah tumpukan kain, tidak pula jari saya sampai kapalan dan harus dioperasi kecil karena muncul mata ikan akibat kaget berinteraksi dengan gunting yang terlalu sering. Subhanallah walhamdulillah walailahaillah allahuakbar. Adalah Allah SWT yang telah menguatkan dan menyehatkan saya–dan bayi di kandungan saya–sehingga sampai detik ini saya masih bisa bekerja. Saya masih bisa memotong ratusan kain meski berangsur-angsur. Kadang, seperti tak percaya dengan kemampuan saya sendiri.

Ah, bisa apa saya ini, yang membuat saya mampu itu kan Allah. Tanpa-Nya, entah jadi apa saya sekarang. Malam ini saya bersyukur, dibalik segala pedih perih yang mengiringi perjalanan indyra, ada bungah yang merekah tatkala menilik segala karunia-Nya. Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah atas segala nikmat yang seringkali tak terlihat. Terima kasih atas ujian, tantangan, harapan, dan kasih sayang yang tak henti Kau curahkan. Malam-malam-Mu tak henti memberi tahu: tiada satu nikmat pun yang bisa kami dustakan.

Ahad Pagiku

Setiap kali Ahad tiba, saya selalu merindukan suara mamak yang membangunkan kami di pagi buta. Beliau yang mau gelar dagangan, kami, anak-anaknya, juga kebagian repotnya. Padahal, Ahad kan waktunya bangun siang, seharusnya. Menjelang Subuh, mamak sudah meminta kami bangun untuk membantunya menyiapkan dagangan karena sebelum matahari meninggi mamak sudah harus berangkat. Jadilah suasana Ahad pagiku teramat ricuh jika dibandingkan dengan syahdu damai rumahmu.

Kini, enam bulan sudah saya “tak jadi” anak mamak. Tak kudapati lagi ricuh Ahad pagi yang dulu begitu menjemukan dan sekarang amat dirindukan: membuat saya sadar bahwa akan ada masanya ketika kita merindukan masa-masa sulit dan menyebalkan dalam hidup. Saya bukan lagi anak mamak yang tak tertib beberes rumah, bukan lagi anak mamak yang gemar bersungut-sungut ketika kena omel karena tak bergegas cuci piring, juga bukan lagi anak mamak yang membantunya menyiapkan makanan untuk keluarga selama mamak berjualan. Sekarang saya sudah jadi istri orang dan sejak itu, Ahad pagiku tak pernah lagi sama. Saya hanya bisa berdoa semoga dagangan mamak laris dan Ahad paginya membahagiakan.

Saya kini punya kesibukan sendiri, membersamai suami, menjadi anak ibunya suami, dan sebentar lagi akan menjadi ibu dari seorang bayi. Ahad pagiku yang dulu tak kan pernah terulang lagi. Meski sesekali teramat kurindui, tak menjadi Ahad pagiku kini tak berarti. Mungkin saya hanya perlu membesarkan hati. Untuk mempersiapkan diri. Menyajikan Ahad pagi yang happy buat anak-anak saya nanti 🙂