Aura Positif

Saya percaya, di dunia ini ada orang-orang yang diberi keistimewaan oleh Allah dengan aura positif yang senantiasa memancar dalam dirinya. Mereka adalah manusia-manusia pilihan yang bukan sembarang manusia, yang ketika kita berjumpa dengannya, bahkan hanya sekadar mendengar suaranya, hari-hari kita sekejap jadi lebih berwarna.

Advertisements

Ramadan Kami

Tahun ini, alhamdulillah saya kembali dipertemukan dengan bulan Ramadan yang memesona. Ramadan ini pun menjadi sangat istimewa karena untuk kali pertama saya melaksanakannya bersama suami dan jabang bayi di dalam perut. Luar biasa sekali rasanya berpuasa dalam keadaan hamil 9 bulan. Beruntung Allah menyiapkan suami yang siap siaga memijit setiap saya kelelahan. Alhamdulillah. Bahagia banget setiap suami–di tengah rasa letihnya setelah bekerja seharian–memijat kecil telapak kaki atau punggung saya. Seperti sedang di surga hehehe.

Meski terkadang selipan rindu suasana keluarga di rumah datang merayap, rasa syukur atas segala nikmat mampu mengobatinya. Tidak hanya suami, ada pula ibu mertua yang luar biasa sabar dan pengertian, gak pernah sekalipun mengomel atas perilaku buruk menantunya ini, maaf ya, Bu, gak bisa bantu-bantu, semoga ibu sehat selalu. Ibu juga yang selalu siap menyiapkan makan sahur dan buka puasa untuk kami semua. Semoga Allah memberikan segala keberkahan kepada kepada ibu mertua saya. Amiiin.

Keistimewaan ramadan ini tak cukup sampai di situ. Saya juga untuk kali pertama merasakan nikmatnya tarawih dalam keadaan hamil. Betapa amazing ketika si baby bergerak-gerak mengikuti bacaan alfatihah dan surat pendek imam. Betapa syahdunya tatkala harus kembali bangkit setelah salam untuk menuntaskan 23 rakaat tarawih. Benar-benar perjuangan! Setelah selesai, rasanya happy sekali. Sungguh.

Tapi malam ini saya tidak tarawih karena badan terasa begitu letih dan kontraksi dirasa semakin sering. Sepertinya, asam lambung saya juga naik. Duh, tetiba saya kepikiran empat dress yang belum selesai dijahit. Semoga pekan depan selesai ya, Nak. Semoga kamu keluar setelah semua jahitan ibu selesai yaa.

Mohon doanya, ya, Bloggy. Semoga saya dan baby dapat melewati Ramadan ini dengan baik :))

Malam

Kembali saya bertemu malam, kemudian menikmatinya. Rasanya baru kemarin, saya merenda-renda di tengah malam untuk mengadukan segala persoalan tentang pendidikan. Masa perkuliahan yang penuh perjuangan itu ternyata sudah tinggal kenangan.

Rasanya baru kemarin, ketika memantapkan diri terjun di usaha konveksi. Menghabiskan segala modal tabungan dan tenaga cadangan untuk berjibaku pada tumpukan kain yang serasa tak habis-habis. Baru kemarin sekali rasanya saya membuat banyak pola, memotong satu demi satu baju dengan amat sederhananya, sebegitu manualnya. Sebegitu nekatnya karena hanya modal ilmu kursus yang gak seberapa. Sudah setahun berlalu, rupanyaa.

Kini saya masih dengan rutinitas yang sama, hanya sedikit lebih rapi dan terarah. Tidak lagi saya tidur di tengah tumpukan kain, tidak pula jari saya sampai kapalan dan harus dioperasi kecil karena muncul mata ikan akibat kaget berinteraksi dengan gunting yang terlalu sering. Subhanallah walhamdulillah walailahaillah allahuakbar. Adalah Allah SWT yang telah menguatkan dan menyehatkan saya–dan bayi di kandungan saya–sehingga sampai detik ini saya masih bisa bekerja. Saya masih bisa memotong ratusan kain meski berangsur-angsur. Kadang, seperti tak percaya dengan kemampuan saya sendiri.

Ah, bisa apa saya ini, yang membuat saya mampu itu kan Allah. Tanpa-Nya, entah jadi apa saya sekarang. Malam ini saya bersyukur, dibalik segala pedih perih yang mengiringi perjalanan indyra, ada bungah yang merekah tatkala menilik segala karunia-Nya. Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah atas segala nikmat yang seringkali tak terlihat. Terima kasih atas ujian, tantangan, harapan, dan kasih sayang yang tak henti Kau curahkan. Malam-malam-Mu tak henti memberi tahu: tiada satu nikmat pun yang bisa kami dustakan.

Ahad Pagiku

Setiap kali Ahad tiba, saya selalu merindukan suara mamak yang membangunkan kami di pagi buta. Beliau yang mau gelar dagangan, kami, anak-anaknya, juga kebagian repotnya. Padahal, Ahad kan waktunya bangun siang, seharusnya. Menjelang Subuh, mamak sudah meminta kami bangun untuk membantunya menyiapkan dagangan karena sebelum matahari meninggi mamak sudah harus berangkat. Jadilah suasana Ahad pagiku teramat ricuh jika dibandingkan dengan syahdu damai rumahmu.

Kini, enam bulan sudah saya “tak jadi” anak mamak. Tak kudapati lagi ricuh Ahad pagi yang dulu begitu menjemukan dan sekarang amat dirindukan: membuat saya sadar bahwa akan ada masanya ketika kita merindukan masa-masa sulit dan menyebalkan dalam hidup. Saya bukan lagi anak mamak yang tak tertib beberes rumah, bukan lagi anak mamak yang gemar bersungut-sungut ketika kena omel karena tak bergegas cuci piring, juga bukan lagi anak mamak yang membantunya menyiapkan makanan untuk keluarga selama mamak berjualan. Sekarang saya sudah jadi istri orang dan sejak itu, Ahad pagiku tak pernah lagi sama. Saya hanya bisa berdoa semoga dagangan mamak laris dan Ahad paginya membahagiakan.

Saya kini punya kesibukan sendiri, membersamai suami, menjadi anak ibunya suami, dan sebentar lagi akan menjadi ibu dari seorang bayi. Ahad pagiku yang dulu tak kan pernah terulang lagi. Meski sesekali teramat kurindui, tak menjadi Ahad pagiku kini tak berarti. Mungkin saya hanya perlu membesarkan hati. Untuk mempersiapkan diri. Menyajikan Ahad pagi yang happy buat anak-anak saya nanti 🙂

Cerita Panjang tentang Akang (End)

Haii, Bloggyyy. Maaf yaa lama gak nongool. Aslinya udah pengen banget lanjutin cerita ini, tapi urusan baju-baju indyra yang kudu segera dikirim ke distributor bikin gak ngeh sama kamuu hehehe. Okey, ini saya lanjutin yaa cerita tentang akangnya, sekalian saya tamatin deh! 😀

“Saya berdoa semalaman, Such. Begitu keluar mentari bersinar. Benar, such. Aku suka kamu.”

Begitu jawaban akang saat pagi hari saya mengecek hape. Tahu, gak, Bloggy, saya ketawa ngakak dong pagi-pagi. Ini orang kok lucu alay agak gimana gitu yaa hahaha.

Saya sempat bingung gimana balasnya, secara kami gak pernah terlibat pembicaraan yang ada modus-modusnya gitu. Jadi rasanya aneh banget, saya tetap jaga-jaga buat gak GR karena khawatir ternyata ini cuman gimmick doang kekeke.

Singkat cerita, kami ketemu di Jakarta (si akang bela-belain ke Jakarta) buat membicarakan ini. Selama pembicaraan saya berkali-kali menegaskan bahwa ini serius dan bukan hasil bajak membajak atau canda iseng teman-temannya. Saya gak punya perasaan apa pun sama akang kala itu, apalagi saya masih belum bisa move on kan dari patah hati saya.

Namun, sekali lagi saya mencoba membijakan diri sendiri, bahwa setiap orang berhak mendapat kesempatan untuk menyampaikan maksud baiknya. Saya pun memberinya kesempatan untuk menyampaikan alasan-alasan kenapa yakin memilih saya untuk menjadi teman hidupnya.

“Karena kamu itu sederhana, Such.” katanya.

Saya juga mendengar ceritanya tentang hidup, aktivitasnya, juga pandangannya tentang rumah tangga, peran istri dan anak-anak dalam hidupnya, sampai rencana masa depannya. Apa yang ia sampaikan serta merta sejalan dengan keinginan saya, sejauh yang saya tahu, sepertinya kami bisa “jalan” bareng. Jadi, ibarat milih temen main tuh kayaknya kami cocok, tapi soal rasa belum ada sama sekali hihihi.

Akhirnya saya minta waktu buat mikir sambil ngelepasin perkara patah hati yang kok kayaknya mengganggu banget huhuhu. Saya pun mengatur rencana dan meminta kangmas ke rumah agar bertemu dengan orangtua saya (tapi pas saya lagi gak ada hehehe)

Yah, begitulah. Saya istikharoh dan cenderung tidak menemukan alasan buat menolak meski tidak tahu juga kenapa saya harus menerima dia menjadi imam saya. Kemudian terjadilah, saya menerima dia, dia menemui bapak kembali untuk menyampaikan maksud baiknya, lalu kami bertunangan 12 Desember 2016 dan berencana menikah di bulan Maret. Tapi karena satu dan lain hal, pernikahan kami diundur sampai bulan syawal. Alhamdulillah, akhirnya pada 27 Agustus 2017 kami sah menjadi suami istri.

Saya senang, karena setelah menikah dengannya, saya jadi kenal pengajian di pondok. Saya menemukan guru yang menuntun saya menjadi muslimah yang Allah ridai (amiin). Saya juga senang, karena setelah menikah dengannya, saya jadi punya partner buat mengembangkan indyra dengan membuat konveksi kecil-kecilan. Saya bisa mengajak keluarga, tetangga, serta teman-teman saya untuk membantu saya mengurus bisnis kecil ini.

Alhamdulillah, kalau ditanya sekarang gimana perasaan saya ke kangmas, gak perlu saya jawab lah yaa hehehe. Doakan saja biar baby di perut saya sehat dan lahir selamat tiada kurang satu apapun 🙂

Nah, kisah pernikahan kami yang saya tulis sampai bersesi-sesi ini, sama Mas cuman dibikin empat bait puisi, begini bunyinya

Kita serupa dua pengembara asing
Yang sedang luka dan menggigil
Oleh tajam serpihan kenangan
Pada sepi dingin perjalanan jauh

Kita sebatangkara dan tak mengenal
Kemudian saling berpapasan
Di persimpangan ruang dan waktu
Di ujung batas penantian

Ini adalah pertemuan yang kita nantikan
Dari air mata yang bertahan untuk jatuh
Dari kesedihan yang takkan terungkap
Dan rindu yang terus menjaga misterinya

Lewat kata-kata yang gaib
Aku menyerahkan diriku kepadamu
Dan engkau menerima penyerahanku

(Budi Mulyawan, Desember 2017)