Asing

Aku merasa

 asing 

dengan

 berbait

bait

biat

baut

buat

 nada nada nada

yang 

sebetulnya 

sama

Advertisements

Kepada Suami

Seorang perempuan karismatik, dengan segudang prestasi dan mimpi-mimpi, sedang berdialog dengan hati nuraninya sendiri. Tema dialognya sederhana, sebatas ketaatan pada suami dalam menjalani hari-hari.

Sang perempuan menatap suaminya lamat-lamat, bagaimana mungkin, pria dengan seribu perbedaan di depannya itu harus benar-benar ia patuhi. Atas dasar apa ia harus menanggalkan segala seleranya sendiri demi menyenangkan suami yang punya kesenangan lain lagi? Bagaimana mungkin, mimpi yang ia bangun bertahun-tahun dengan berdarah-darah akan bisa dilenyapkan dalam sekejap hanya dengan kata “tidak” dari suami?

Argh, memangnya siapa suami itu hingga ia mempunyai segala hak atas diri seorang istri? 

Lantas dalam kelelahan pikirannya sendiri, seorang perempuan tadi tertidur dan bermimpi. Dalam mimpinya itu, bertemulah ia dengan seorang nyai.

Riuh renda ia dengar ngendikane nyai tentang suami, tentang hidup. Bahwa hidup bukan tentang hari ini, juga bukan tentang sepuluh dua puluh tahun lagi, jika itu masih seputaran duniawi. Hidup itu tentang di mana kita setelah mati, sedang apa yang akan ditanyai pertama kali nanti adalah tentang salatmu dan suami. Ya, suami.

Suami adalah raja bagi istri. Sedemikian besar hak suami atas istrinya. Hingga kadar kebaikan suami diukur dari bagaimana sikapnya kepada istri. Tiada suami yang mulia sebelum ia memuliakan istrinya.

Lantas, mengapa kau terus saja bertanya? Segala apa yang kau peroleh di dunia: rupa harta, piala berjuta-juta, sampai jasa tiada terkira akan dilenyapkan begitu saja tatkala hilang syukurmu atas suami. Ketika kasar lisan dan jemawamu pada suami. Segala apa yang sudah diraih, tiada ada artinya lagi.

Adakah yang patut kita tunduki selain suami yang kelak harus memikul dosadosa kita di akhirat nanti? Kiranya itu jelas tak sebanding dengan sebongkah mimpi yang mengandung duniawi.

Perempuan tadi terbangun dari mimpi dan mendapati suaminya tak lagi di sisi. Hatinya gundah tak bertepi, namun selang beberapa sesi, datanglah suami dengan segelas air madu dan roti. Juga ucapan selamat pagi. 

Lalu terbitlah sesal di lubuk hati, mulai esok dan seterusnya, hidupnya hanya untuk suami. Tiada penting yang lain lagi.

Terima kasih, nyai, sudah menasihati meski hanya lewat mimpi.

Menikahi Sunyi


Engkau adalah kesunyian. Sedang aku adalah riak yang menikahimu.

Beristirahatlah segala kata yang sebelumnya mendera reda di angkasa. Aku tak kuasa merekatkan huruf, mengikat dan menadakannya karena setiap detik harihariku menjadi sunyi. Bahkan setiap kekosongan yang bersepi di telinga pun mengirim makna. Aku tak pernah menduga, bahwa sekerat kata dapat hilang begitu saja hanya karena pandangan matamu yang tiada dasarnya. Tak kubutuhkan lagi katakata penyimbol perasaan atau kebahagiaan. Tak kubutuhkan lagi sapa dan pengakuan langit raya serta apasaja yang hidup di bawahnya.

Duniaku menjadi sunyi, menjadi engkau.

Setelah Menikah Denganmu

Setelah menikah denganmu, terbitlah cahaya yang kurindukan dari pekik sepi yang menghiasi sudut rumahmu

Sesederhana itu,

Setelah menikah denganmu, terbitlah relung sadarku tentang betapa nikmatnya hidup di dalam kesunyian, tanpa recok suka dan komentar

Sempurna adalah aku dan kamu, tanpa seorangpun di luar sana yang tahu

Setelah menikah denganmu, terbitlah rasa cukupku untuk sekadar mengharap pengakuan dari semesta, 

tak apalah kita tetap tak bersuara, biarlah mereka mereka-reka tentang kita semaunya

Yang terpenting sekarang adalah kita

Aku dan kamu sebenar-benarnya, sediri-dirinya

Maka ketika semua yang fana haruslah hilang pada masanya, tak apalah, selagi kita masih bersama-sama

Lingkaran

Lelaki : Kamu tahu, kenapa aku memintamu menggunting banyak sekali lingkaran?

Perempuan : Seperti cincin yang melingkar di jariku, melingkar sempurna tanpa ada ujungnya, begitu kan seharusnya kita saling menjaga cinta? Tapi tahukah kau betapa sulitnya membentuk lingkaran yang sempurna sekalipun sudah ada garis bantunya?

Lelaki : Ya, aku tahu. Seperti itu pula kita harus menjaga cinta yang telah ada. Akan ada masa ketika kita lelah dan melenceng dari garis yang telah ditentukan. Lingkaran kita akan cacat. Tapi tekad kita harus tetap bulat.

Perempuan : Lingkaran tak pernah mengajarkan kita untuk berhenti. Meski bulatnya tak sempurna, lingkaran masih memberi kesempatan untuk kembali sempurna. Dan untuk menyempurnakannya, ada kalanya kita perlu membuang ego kita sendiri. Ada kalanya kita perlu menurunkan standar demi mendapatkan lingkaran yang sempurna, tapi dengan ukuran yang lebih kecil. Seperti itulah cinta, bukan? Cinta tak pernah memaksakan kehendak, cinta memberikan kesempatan untuk sempurna bersama-sama.

Lelaki : Ya, cinta bukan tentang apa yang aku atau kamu mau, tapi tentang kita. Tentang bagaimana inginku bersisian dengan inginmu, juga sebaliknya.

Perempuan : Benar, itu sudah seharusnya.