Asing

Pada satu masa, saya bisa merasa asing dengan setiap aktivitas yang melingkupi saya setiap hari. Seperti hilang rasa dan tak ingin besok ada. Apa ini yang dinamakan bosan, ya? 

Saya kehilangan semangat untuk sekadar mempersiapkan baju apa yang akan saya kenakan. Jangankan persiapan, menjalankan pekerjaan saja rasanya ogah-ogahan. Ada banyak faktor, tentu, tapi biasanya, yang terbesar itu dari diri sendiri.

Tapi kemudian saya berpikir, apa setiap jengkal kebosanan ini hadir karena rasa ketidaktertarikan yang mulai menyeruak ke permukaan? Jejak langkah orang-orang sekitar, gulir waktu yang menggebu, hingga jadwal yang tak bisa dikawal membuat sendu menghalau jiwa dan raga saya.

Pergi? Ingin, tapi saya belum siap dirayap kekosongan. Haruskah saya menunggu cawan-cawan ini penuh dengan hal-hal menakjubkan? Tapi kapan? 

Sepertinya saya memang butuh seorang “kawan”

Advertisements

Tentang Sekitar

Hai, Kamu, 

Kamu tahu, betapa menyedihkannya ketika kita tak bisa mengutarakan kesedihan. Malang nian rasanya ketika kita harus sabar sendirian sementara orang-orang masih setia menebar sangar.

Tentang sekitar, sesiapa bisa membuat hati kita bergetar. Tak hanya soal haru atau sendu, hingar bingar suara kasar pun bisa membikin hati bergetar-getar. Menggelegar!

Kamu tahu, kan, kalau manusia memang akan diuji dengan aneka ketakutan dan kekurangan. Tapi nyatanya tidak setiap orang menyadari hal itu. Siapa-siapa pula yang masih menjadikan ujian sebagai kenikmatan? Yang aja malah memenuhi hidupnya dengan deru gerutuan.

Kamu juga tahu kan, kalau batas sabar itu tak pernah ada. Tapi bagaimana jika kita harus sabar sendirian? Bagaimana bila kita kudu berperan menjadi penggiat iman alih-alih tiada satupun dukungan? Seperti masuk kubangan di angan-angan. Menyedihkan!

Dan jika kamu saja ingin tahu bagaimana rasanya, lebih baik jangan.

Hakikat Hidup

Tidak ada satu manusiapun di dunia ini yang hidupnya mulus tanpa ujian. Bahkan, orang dengan harta melimpah sekalipun, masih merasa gundah meski sekadar menyoal di mana ia bisa menyimpan hartanya dengan aman. Di setiap permasalahan, ada kadar yang tak akan pernah bisa kita sama-samakan. Ada orang yang bunuh diri hanya karena putus cinta, sedang kita di sini putus cinta malah jadi bahan tertawa-tawa. Ada yang kehilangan benda jadi bukan main setresnya, sedangkan di belahan dunia lain ada saja yang melepas benda-benda kesayangannya dengan gampangnya. Atau, ada pula yang gundah gulana karena sakit anaknya yang tak kunjung reda, sementara dalam kasus yang sama, ada yang masih baik-baik saja menjadi tangan dan kaki bapak yang menahun sakitnya.

Hidup itu soal cara pandang, bukan?

Ibarat di dunia peran, ada satu masa ketika kita tak bisa memilih peran yang telah disiapkan. Menjadi apa kita, yang harus dilakukan adalah menjalaninya dengan sebaik-baiknya. Tidak mungkin semua manusia menjalani peran yang sama. Harus ada yang rela menjadi miskin sementara yang lain kaya raya. Harus ada yang pasrah duduk di singgasana sementara teman-temannya jadi rakyat jelata. Hey, ini soal peran saja. Derajat manusia tidak dilihat berdasarkan perannya di dunia saja.

Barangkali kita sudah sering dengar, kalau Tuhan mau, bisa saja semua manusia tercipta sama baik harta dan imannya. Jadi, tidak sama keadaan di dunia bukan berarti tidak ada keadilan, kan? Hari akhir itu ada, dan nasib akhir manusia, bagaimana baik dan buruknya, baru akan ketahuan di sana. 

Lantas, sebenarnya apa esensi dari permasalahan yang hinggap dan bergelayut di kehidupan manusia? Agaknya tak jauh dari bumbu penyedap rasa yang menjadikan hidup kita lebih berwarna. So, hidup itu bukan tentang seberapa besar masalahnya, tapi seberapa besar sabarnya.

Akhlak Pemuda Kita

Teduh rasanya ketika melihat para pemuda bergerombol di pinggir jalan kemudian gegap gempita membantu orangtua yang berat barang belanjaannya. Sepele memang, tapi toh zaman sekarang hal sepele itu sudah jarang ditemukan. Apalagi di kota-kota besar.

Belum lama ini saya melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana seorang tua yang membawa banyak sekali barang terlihat begitu lelah mengangkutnya masuk ke dalam rumah. Alih-alih, tepat di depannya dua orang pemuda sedang duduk santai dengan ponsel di tangannya. Bisa ditebak, apa yang pemuda-pemua itu lakukan? Ya, hanya diam menikmati dunia ponselnya. Jangankan beranjak mengangkat tangan, melirik pun tidak.

Bahkan, ketika saya turun tangan membantu seorang tua tadi, mereka masih saja di posisinya. Huh, tak perlulah bicara soal menghargai wanita, memandang baik orangtua saja mereka seperti tak bisa. Inikah akhlak pemuda kita?

Seni Memilih

Apa yang kita dapat sekarang adalah hasil dari pilihan-pilihan kita sebelumnya. Begitulah hidup, hidup adalah seni memilih. Sebuah karya seni adalah hasil pilihan pembuatnya, lantas kemudian memberikan pilihan bagi penikmat-penikmatnya. Hidup memang tak jauh-jauh dari memilih dan dipilih.

Seperti seni, ada yang memilih menyenanginya, ada pula yang menolaknya. It’s okay, tidak jadi masalah. Seni tidak pernah meminta untuk dipilih, ia membebaskan dirinya untuk disenangi atau dibenci penikmatnya. Itu karena seni mengerti, sejatinya dalam hidup, kita tidak akan bisa menyenangkan semua orang.

Harus ada yang dikorbankan dalam setiap pilihan. Seperti tukang jejel kasur di desa-desa yang tak lagi menerima orderan setelah kita lebih memilih beli springbed. Seperti warung tetangga yang sepi karena kita lebih rajin berburu diskon di supermarket. Lalu apakah kita menjadi kejam? Bisa iya, bisa tidak.

Hidup adalah seni memilih. Setiap dari kita bertanggung jawab atas pilihan yang kita raih, namun sama sekali tidak berkepentingan jika pilihan kita disenangi atau dibenci orang lain. Jadilah seperti seni yang membebaskan dirinya sendiri. Sekali lagi, kita tidak akan pernah bisa menyenangkan semua orang.