Lelah

Manusia seringkali kalah oleh rasa lelah. Pekerjaan yang menumpuk, permasalahan yang menimpuk, atau persoalan yang makin majemuk membuat baling-baling pikiran berderu-deru tanpa sedikitpun mau terbang. Padahal, memikirkan segala persoalan yang menyusahkan itu jauh lebih melelahkan daripada mengerjakannya. 

Dimasak Apa?

Alkisah pada suatu siang di bulan ramadan, saya tidur dengan nyenyak kemudian sayup-sayup terdengar suara emak memberi perintah. Saya menjawab iya saja alih-alih hanya dengar kata “layah” “digangsa” “sambal goreng” “kentang” “bakso”. Tak berapa lama, emak pun pergi.

Setengah jam kemudian begitu saya terbangun, saya lihat ada ulegan bumbu di cobek (layah), tahu yang baru diiris sebagian, kentang yang udah digoreng, bakso, lombok kukus, irisan bawang merah dan bawang putih, kacang goreng, sama tauge dan tempe mentah yang belum diapa-apakan. Oh, ada mentimun juga. Ini tadi emak nyuruh saya ngapain yaaa? >,<

Sudut Pandang

Dalam teori sastra, sudut pandang terbagi menjadi sudut pandang orang pertama dan orang ketiga. Orang pertama mengantarkan cerita yang berpusat pada aku, semua unsur dalam cerita berdasar pada perasaan dan pengetahuan tokoh aku. Sifat dan tanggapan tokoh lain juga dimunculkan melalui kacamata aku. Cerita dengan sudut pandang ini mampu menarik pembaca ke dalam pikiran si aku dan tenggelam di dalamnya. Dalam kehidupan sehari-hari, penggunaan sudut pandang orang pertama ini seperti saat kita sedang bercerita. Kita bercerita tentang bagaimana kita sedih, sebal, atau bahagia karena perilaku orang lain atas dasar persepsi diri kita sendiri.

Sementara sudut pandang orang ketiga bergerak lebih bebas dalam cerita. Biasanya tokoh yang dipakai langsung menyebutkan nama-nama yang memiliki kapasitas yang sama dalam menuturkan perasaan masing-masing. Cerita dengan sudut pandang orang ketiga ini biasanya lebih kompleks karena menggabungkan banyak karakter tokoh. Bisa saja, sikap salah satu tokoh (yang menurutnya biasa saja) dianggap tak biasa oleh tokoh lain sehingga memengaruhi sikap tokoh lain tersebut. Akhirnya, cerita yang dibangun pun lebih luas dan kaya akan berbagai sudut pandang.

Tidak ada sudut pandang orang kedua (kamu). Saya tidak pernah bisa membuat cerita berdasar pada perasaan dan pikiran kamu, bukan? Kecuali, saya keluar dari diri saya dan melihat kamu sebagai dia.