Featured

Saya selalu percaya bahwa setiap kejadian yang menimpa saya adalah sebuah pesan dari Allah untuk saya yang lebih baik. Pemaknaan di setiap kejadian bagi saya menjadi suatu rutinitas yang istimewa. Tiada yang lebih indah dari sebuah cerita yang dimengerti apa pesannya :)273401_1702485402_2224678_n

Advertisements

Sedikit Mainan Lebih Baik

Sama-sama pelaku industri kreatif,  saya dan suami menyadari bahwa kreativitas seringkali muncul dalam kesempitan, keterjepitan, kegundahan, dan keterbatasan. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk menyajikan batas-batas tertentu dalam pengasuhan anak kami, terutama dalam hal materi. Persaingan gobal yang semakin tahun semakin menajam dan iklim bumi yang kian bergerak menuju ketidakteraturan menuntut generasi yang memiliki iritabilitas dan kecakapan dalam bertahan hidup. Jika kita sedikit membuka mata, dunia sudah semembara itu, bukan?

Baru-baru ini virus minimalisme mulai meyebar di masyarakat kita. Prinsipnya sederhana, lebih baik punya barang sedikit tapi berkualitas daripada banyak tapi berujung pada barang bekas. Minimalisme ini cukup menohok kami, tanpa kami sadari, ternyata kami dikelilingi banyak benda-benda tidak berguna yang hanya menyesakkan ruangan saja. Pemahaman ini bersinergi pada keputusan kami tentang batasan materi tadi. Kalau kami yang sudah terlanjur mengidap penyakit “sayang” membuang barang, penyakit gila nomor sekian versi Andrea Hirata, ini gemar sekali membeli barang yang  seringkali berakhir sampah, semoga anak kami tidak.

Untuk itu, batasan pertama kami dinulai dengan memberikan anak kami sedikit mainan, kalau perlu tidak sama sekali. Kami berharap, dengan sedikitnya mainan Atiq, akan membuncah daya kreativitasnya dalam memanfaatkan–memainkan–barang-barang di sekitarnya. Akan merangsang kepekaannya pada lingkungan dan menguatkan empatinya pada sesama.

Meskipun tidak punya banyak mainan, bukan berarti Atiq tak pernah bermain, ya. Dia bahkan lebih sering main daripada tidur di siang hari–dan kebalikannya di malam hari. Dia memainkan apa saja yang bisa dijamahnya. Dia membunyikan apa saja yang dipukulnya. Juga menertawakan apa-apa yang dilihatnya bergerak dengan cepat.

Kalaupun harus ada mainan, semoga ibunya bisa membuatkan mainan sendiri dari barang-barang di dalam rumah. Sebisa mungkin, tidak beli. Lagian, kualitas mainan-mainan di luar sana juga tidak bisa diandalkan, kan? Sampai saat ini, kami masih menganggap bahwa sedikit mainan itu lebih baik 🙂

Menunggu

Sembari menunggu jemputan suami, saya keluar kantor untuk membeli siomay. Saya pun melihat kerumitan Jalan Kartini yang dipenuhi orang-orang berjualan di sepanjang bibir jalan. Kemudian, saya teringat masa-masa inspirasi menyeruak di jalanan. Sudah jauh bertahun silam ternyata.

Masa ketika saya hanya berteman dengan kesendirian. Saya tuliskan apa-apa yang saya lihat dan rasakan. Tentang deru motor mobil yang mengalahkan pekik tangis anak kecil di gendongan. Tentang penjual sayur keliling yang memenuhi gerobak sayurnya dengan plastik-plastik kecil berisi aneka sayur dengan porsi kecil pula. Tentang wajah sendu pedagang yang menunggu pembeli sembari membersihkan toples dan kaca gerobaknya berkali-kali. Juga tentang banyak lain yang seolah mudah saja untuk dituliskan pada masa itu, tapi sulit di masa kini.

Masa sulit yang terlewat memang seringkali menjadi indah pada akhirnya ya 🙂

Sandal Baru

“Mas, beli sandal ya. Boleh?”

“Iya, aku beli sepatu boot buat nyawah ya, boleh?”

“Yaudah, nanti kita ke ATM dulu ambil duit. Kan kemarin duitnya udah dipake belanja sama syukuran tujuh bulan Atiq.”

“Oh iya. Aku masih ada cash sih.”

“Eh, kan hari ini kita mau anterin baju pelanggan. Bisa buat beli sepatu tahu, Mas.”

“Wah, serius? Yaudah ini digabungin sama uang aku jadi bisa beli sandal kamu juga.”

“Iya, masih sisa buat pegangan juga. Alhamdulillah.”

Kemudian kami mengantarkan baju pesanan pelanggan kami, lalu pergi ke rumah embah Atiq, belanja sayur, lantas ke toko sepatu milik Pak Kyai di dekat rumah kami. Singkat, kami dapat sandal dan sepatu boot berkualitas dengan harga bersahabat.

Kami bahagia sekali. Rasanya seperti makan nasi saat kita lapar sekali. Sesampainya di rumah kami coba alas kaki baru kami.

“Sejak kecil, setiap beli sepatu baru aku selalu mencobanya di rumah.” kata suami.

“Lha, aku jugaa hahaha. Ayo kita foto!”

Cekrek!

Kebahagian adalah masa kanak-kanak yang masih tersisa dalam diri orang dewasa

😀

2018-ku

Hai, Bloggy. Tak terasa ya tahun 2018 sudah berlalu. Sepertinya saya tak begitu banyak menulis di tahun itu. Meski demikian, tahun 2018 adalah tahun ketika saya merasakan banyak sekali rasa dalam kehidupan. Dimulai dari menikmati masa-masa kehamilan di tengah merosotnya usaha suami. Kami mengawali tahun 2018 dengan banyak sekali pembelajaran. Qodarullah, usaha yang dijalankan suami tidak seperti yang diharapkan. Meski tidak sampai kekurangan, kami menjadi lebih tegas dengan skala prioritas. Saat itu, kami tersadarkan, ternyata apa yang kami inginkan lebih banyak dari apa yang kami butuhkan.

Namun, indahnya berwirausaha adalah ketika satu pintu rezeki tertutup, akan terbuka pintu lainnya. Pelan-pelan, pelangan jahitan saya mulai bertambah. Saya banyak mendapat pesanan, apalagi menjelang lebaran–dan menjelang melahirkan. Kami juga masih terus merangkak lagi menjadi supplier batik indyra yang belum menemukan ciri khasnya. Perlahan tapi pasti, kami bisa melaluinya dengan happy.

Tahun 2018, kami menjadi orangtua. Ananda Atiqurrohman hadir menyegarkan segala permasalahan yang kami hadapi. Setelah Atiq lahir, kami sebagai orangtuanya pun seperti terlahir lagi dengan jiwa baru. Kami akhirnya menemukan napas indyra yang insya Allah akan berfokus pada batik Tegal. Berkali kami mengucap syukur karena akhirnya menemukan jati diri indyra :’). Suami gak perlu bolak-balik Tegal–Pekalongan lagi untuk kulak batik (gak kulak batik tapi tetep ke Pekalongan buat tilik sawah hehe) Suami saya juga menemukan dunianya di pertanian. Sawah kami di Pekalongan yang selama ini digarap orang, mulai kami handle sendiri. Masya Allah, terharu sekali saya ketika suami minta dibuatkan baju untuk bertani.

Jadilah tahun 2018 membekali kami kehidupan baru. Hidup sederhana bersama anak tercinta. Inilah bapak dan ibumu, Nak. Bapakmu petani, ibumu penjahit (juga ngajar bimbel buat hiburan hihihi), dan namamu, ATIK BATIK, akan menjadi nama toko batik kita kelak, biar selain menyuplai batik ke Jakarta, kita juga bisa buka toko sendiri.

Kami sudah merangkak di 2018. Kami siap berjalan dan berlari di 2019. Salam 🙂

Dunia Bapak

Suami saya sedang menekuni nursery, darinya saya melihat bagaimana biji-biji tumbuh indah di atas tanah. Pekerjaan barunya membuat kami sedikit gila dengan biji dan dunia tanam menanam. Sekarang, kalau makan buah, biji gak boleh dibuang! Makin hari merambah ke sayuran, beberapa hari lalu saat saya masak kangkung, suami menelisik batangnya dan melarang saya untuk membuangnya.

“Emang bisa ditanam?”

“Bisa,” katanya mantap sekali.

Jadilah kami merendam batang kangkung itu di air dan selang berapa hari setelahnya, muncul akar dan daun baru! Lekaslah suami memindahkannya ke polybag. Duh, Gusti, nikmat sekali hidup di Indonesia, apa saja bisa tumbuh :’)

“Buah dan sayuran di luar sana dipenuhi pestisida, Buk. Semoga kita bisa makan apa-apa yang kita tanam sendiri, ya. Ayo berpermakultur!” ajak bapak penuh semangat.

Saya jadi merenungi betapa setiap hari kita dipenuhi dengan tanaman yang sebenarnya bisa kita tumbuhkan sendiri. Biji cabai yang iseng saya lempar sudah tumbuh segar, bawang putih yang lama tak dimasak sudah tumbuh tunas, daun bawang yang saya tancapkan ke pot sudah memperlihatkan daun baru. Indah sekali, bukan?