Featured

Saya selalu percaya bahwa setiap kejadian yang menimpa saya adalah sebuah pesan dari Allah untuk saya yang lebih baik. Pemaknaan di setiap kejadian bagi saya menjadi suatu rutinitas yang istimewa. Tiada yang lebih indah dari sebuah cerita yang dimengerti apa pesannya :)273401_1702485402_2224678_n

Advertisements

Atiq ke Pasar

Pekan lalu, bapak harus mengurus sawah di Pekalongan. Ibu dan Atiq ditinggal di Tegal selama lima hari.  Dalam jangka waktu yang terasa begitu lama itu, ibu merasa sedih dan ingin keluar rumah untuk sekadar menjeda rindu yang menumpuk. Akhirnya, ibu mengajak Tante Ismi ke pasar untuk belanja kain. Atiq ikut, tentu saja!

Ibu menggendong Atiq dengan babywrap hanaroo. Atiq merasa nyaman digendong model kanguru dengan posisi didekap ibu. Sayangnya, menggendong dengan metode ini belum familiar di daerah sini, apalagi di pasar hahaha. Akhirnya, ibu dan Atiq menjadi pusat perhatian banyak orang. Setiap berjalan, orang-orang menatap kami aneh sekaligus penasaran. Beberapa komentar yang kami dengar adalah

“Wah, anget banget itu ya digendong begitu.”

“Tidur nyenyak ya. Anget kali ya.”

“Itu gendongan cina ya?”

Komentar terakhir membuat ibu dan tante tertawa di sepanjang jalan.

Mainan Atiq: Buku Rabbithole

“Atiq gak dibeliin mainan?” tanya bapak mertua saya.

“Udah banyak, Pak di kamar.”

Memang, sebagai orangtua baru kami terlihat jarang sekali membelikan anak mainan. Meskipun begitu, bukan berarti anak kami gak pernah main, ya. Atiq main terus malah (dengan barang-barang seadanya hehe). Mainan Atiq murah meriah dan gak pake beli. Apa aja itu? Ini diaa…

1. Buku High Contras Rabbithole

Atiq sudah kami bacakan buku sejak usianya 40 hari. Buku yang dibaca adalah buku-buku Rabbithole yang sesuai dengan perkembangan anak. Saya suka sekali dengan buku ini, simpel dan gak banyak kata. Buku ini masih terus dibacakan sampai sekarang (7 bulan) dan sepertinya akan terus dipakai untuk bahan bermain.

Kami memang bertekad untuk mendekatkan Atiq dengan buku. Namun, kami tidak membelikannya banyak buku. Kenapa? Karena prinsip kami adalah lebih baik satu buku tapi dapat dipraktikkan isinya daripada banyak buku tapi hanya dibaca sekadarnya. Toh, buku sebenarnya hanya alat, bukan tujuan jadi gak perlu banyak, yng penting konsisten dibacakan.

Yang kami lakukan bukan membacakan banyak buku, melainkan mengenalkannya betapa asyiknya bermain dengan buku itu. Buku bisa membuat kita tertawa dan bahagia. Itulah kenapa saya seringkali menyanyikan kata-kata di dalam buku. Kadang saya bernyanyi, kadang bercerita tentang indahnya hari ini melalui satu halaman buku saja. Kadang juga menjadikan buku sebagai burung yang bisa terbang tinggi atau menara yang harus segera dirobohkan.

Bersama buku bisa seasyik itu kok! 😉

Sedikit Mainan Lebih Baik

Sama-sama pelaku industri kreatif,  saya dan suami menyadari bahwa kreativitas seringkali muncul dalam kesempitan, keterjepitan, kegundahan, dan keterbatasan. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk menyajikan batas-batas tertentu dalam pengasuhan anak kami, terutama dalam hal materi. Persaingan gobal yang semakin tahun semakin menajam dan iklim bumi yang kian bergerak menuju ketidakteraturan menuntut generasi yang memiliki iritabilitas dan kecakapan dalam bertahan hidup. Jika kita sedikit membuka mata, dunia sudah semembara itu, bukan?

Baru-baru ini virus minimalisme mulai meyebar di masyarakat kita. Prinsipnya sederhana, lebih baik punya barang sedikit tapi berkualitas daripada banyak tapi berujung pada barang bekas. Minimalisme ini cukup menohok kami, tanpa kami sadari, ternyata kami dikelilingi banyak benda-benda tidak berguna yang hanya menyesakkan ruangan saja. Pemahaman ini bersinergi pada keputusan kami tentang batasan materi tadi. Kalau kami yang sudah terlanjur mengidap penyakit “sayang” membuang barang, penyakit gila nomor sekian versi Andrea Hirata, ini gemar sekali membeli barang yang  seringkali berakhir sampah, semoga anak kami tidak.

Untuk itu, batasan pertama kami dinulai dengan memberikan anak kami sedikit mainan, kalau perlu tidak sama sekali. Kami berharap, dengan sedikitnya mainan Atiq, akan membuncah daya kreativitasnya dalam memanfaatkan–memainkan–barang-barang di sekitarnya. Akan merangsang kepekaannya pada lingkungan dan menguatkan empatinya pada sesama.

Meskipun tidak punya banyak mainan, bukan berarti Atiq tak pernah bermain, ya. Dia bahkan lebih sering main daripada tidur di siang hari–dan kebalikannya di malam hari. Dia memainkan apa saja yang bisa dijamahnya. Dia membunyikan apa saja yang dipukulnya. Juga menertawakan apa-apa yang dilihatnya bergerak dengan cepat.

Kalaupun harus ada mainan, semoga ibunya bisa membuatkan mainan sendiri dari barang-barang di dalam rumah. Sebisa mungkin, tidak beli. Lagian, kualitas mainan-mainan di luar sana juga tidak bisa diandalkan, kan? Sampai saat ini, kami masih menganggap bahwa sedikit mainan itu lebih baik 🙂

Menunggu

Sembari menunggu jemputan suami, saya keluar kantor untuk membeli siomay. Saya pun melihat kerumitan Jalan Kartini yang dipenuhi orang-orang berjualan di sepanjang bibir jalan. Kemudian, saya teringat masa-masa inspirasi menyeruak di jalanan. Sudah jauh bertahun silam ternyata.

Masa ketika saya hanya berteman dengan kesendirian. Saya tuliskan apa-apa yang saya lihat dan rasakan. Tentang deru motor mobil yang mengalahkan pekik tangis anak kecil di gendongan. Tentang penjual sayur keliling yang memenuhi gerobak sayurnya dengan plastik-plastik kecil berisi aneka sayur dengan porsi kecil pula. Tentang wajah sendu pedagang yang menunggu pembeli sembari membersihkan toples dan kaca gerobaknya berkali-kali. Juga tentang banyak lain yang seolah mudah saja untuk dituliskan pada masa itu, tapi sulit di masa kini.

Masa sulit yang terlewat memang seringkali menjadi indah pada akhirnya ya 🙂

Sandal Baru

“Mas, beli sandal ya. Boleh?”

“Iya, aku beli sepatu boot buat nyawah ya, boleh?”

“Yaudah, nanti kita ke ATM dulu ambil duit. Kan kemarin duitnya udah dipake belanja sama syukuran tujuh bulan Atiq.”

“Oh iya. Aku masih ada cash sih.”

“Eh, kan hari ini kita mau anterin baju pelanggan. Bisa buat beli sepatu tahu, Mas.”

“Wah, serius? Yaudah ini digabungin sama uang aku jadi bisa beli sandal kamu juga.”

“Iya, masih sisa buat pegangan juga. Alhamdulillah.”

Kemudian kami mengantarkan baju pesanan pelanggan kami, lalu pergi ke rumah embah Atiq, belanja sayur, lantas ke toko sepatu milik Pak Kyai di dekat rumah kami. Singkat, kami dapat sandal dan sepatu boot berkualitas dengan harga bersahabat.

Kami bahagia sekali. Rasanya seperti makan nasi saat kita lapar sekali. Sesampainya di rumah kami coba alas kaki baru kami.

“Sejak kecil, setiap beli sepatu baru aku selalu mencobanya di rumah.” kata suami.

“Lha, aku jugaa hahaha. Ayo kita foto!”

Cekrek!

Kebahagian adalah masa kanak-kanak yang masih tersisa dalam diri orang dewasa

😀