Featured

Saya selalu percaya bahwa setiap kejadian yang menimpa saya adalah sebuah pesan dari Allah untuk saya yang lebih baik. Pemaknaan di setiap kejadian bagi saya menjadi suatu rutinitas yang istimewa. Tiada yang lebih indah dari sebuah cerita yang dimengerti apa pesannyaย :)273401_1702485402_2224678_n

Advertisements

Malam

Kembali saya bertemu malam, kemudian menikmatinya. Rasanya baru kemarin, saya merenda-renda di tengah malam untuk mengadukan segala persoalan tentang pendidikan. Masa perkuliahan yang penuh perjuangan itu ternyata sudah tinggal kenangan.

Rasanya baru kemarin, ketika memantapkan diri terjun di usaha konveksi. Menghabiskan segala modal tabungan dan tenaga cadangan untuk berjibaku pada tumpukan kain yang serasa tak habis-habis. Baru kemarin sekali rasanya saya membuat banyak pola, memotong satu demi satu baju dengan amat sederhananya, sebegitu manualnya. Sebegitu nekatnya karena hanya modal ilmu kursus yang gak seberapa. Sudah setahun berlalu, rupanyaa.

Kini saya masih dengan rutinitas yang sama, hanya sedikit lebih rapi dan terarah. Tidak lagi saya tidur di tengah tumpukan kain, tidak pula jari saya sampai kapalan dan harus dioperasi kecil karena muncul mata ikan akibat kaget berinteraksi dengan gunting yang terlalu sering. Subhanallah walhamdulillah walailahaillah allahuakbar. Adalah Allah SWT yang telah menguatkan dan menyehatkan saya–dan bayi di kandungan saya–sehingga sampai detik ini saya masih bisa bekerja. Saya masih bisa memotong ratusan kain meski berangsur-angsur. Kadang, seperti tak percaya dengan kemampuan saya sendiri.

Ah, bisa apa saya ini, yang membuat saya mampu itu kan Allah. Tanpa-Nya, entah jadi apa saya sekarang. Malam ini saya bersyukur, dibalik segala pedih perih yang mengiringi perjalanan indyra, ada bungah yang merekah tatkala menilik segala karunia-Nya. Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah atas segala nikmat yang seringkali tak terlihat. Terima kasih atas ujian, tantangan, harapan, dan kasih sayang yang tak henti Kau curahkan. Malam-malam-Mu tak henti memberi tahu: tiada satu nikmat pun yang bisa kami dustakan.

Ahad Pagiku

Setiap kali Ahad tiba, saya selalu merindukan suara mamak yang membangunkan kami di pagi buta. Beliau yang mau gelar dagangan, kami, anak-anaknya, juga kebagian repotnya. Padahal, Ahad kan waktunya bangun siang, seharusnya. Menjelang Subuh, mamak sudah meminta kami bangun untuk membantunya menyiapkan dagangan karena sebelum matahari meninggi mamak sudah harus berangkat. Jadilah suasana Ahad pagiku teramat ricuh jika dibandingkan dengan syahdu damai rumahmu.

Kini, enam bulan sudah saya “tak jadi” anak mamak. Tak kudapati lagi ricuh Ahad pagi yang dulu begitu menjemukan dan sekarang amat dirindukan: membuat saya sadar bahwa akan ada masanya ketika kita merindukan masa-masa sulit dan menyebalkan dalam hidup. Saya bukan lagi anak mamak yang tak tertib beberes rumah, bukan lagi anak mamak yang gemar bersungut-sungut ketika kena omel karena tak bergegas cuci piring, juga bukan lagi anak mamak yang membantunya menyiapkan makanan untuk keluarga selama mamak berjualan. Sekarang saya sudah jadi istri orang dan sejak itu, Ahad pagiku tak pernah lagi sama. Saya hanya bisa berdoa semoga dagangan mamak laris dan Ahad paginya membahagiakan.

Saya kini punya kesibukan sendiri, membersamai suami, menjadi anak ibunya suami, dan sebentar lagi akan menjadi ibu dari seorang bayi. Ahad pagiku yang dulu tak kan pernah terulang lagi. Meski sesekali teramat kurindui, tak menjadi Ahad pagiku kini tak berarti. Mungkin saya hanya perlu membesarkan hati. Untuk mempersiapkan diri. Menyajikan Ahad pagi yang happy buat anak-anak saya nanti ๐Ÿ™‚

Cerita Panjang tentang Akang (End)

Haii, Bloggyyy. Maaf yaa lama gak nongool. Aslinya udah pengen banget lanjutin cerita ini, tapi urusan baju-baju indyra yang kudu segera dikirim ke distributor bikin gak ngeh sama kamuu hehehe. Okey, ini saya lanjutin yaa cerita tentang akangnya, sekalian saya tamatin deh! ๐Ÿ˜€

“Saya berdoa semalaman, Such. Begitu keluar mentari bersinar. Benar, such. Aku suka kamu.”

Begitu jawaban akang saat pagi hari saya mengecek hape. Tahu, gak, Bloggy, saya ketawa ngakak dong pagi-pagi. Ini orang kok lucu alay agak gimana gitu yaa hahaha.

Saya sempat bingung gimana balasnya, secara kami gak pernah terlibat pembicaraan yang ada modus-modusnya gitu. Jadi rasanya aneh banget, saya tetap jaga-jaga buat gak GR karena khawatir ternyata ini cuman gimmick doang kekeke.

Singkat cerita, kami ketemu di Jakarta (si akang bela-belain ke Jakarta) buat membicarakan ini. Selama pembicaraan saya berkali-kali menegaskan bahwa ini serius dan bukan hasil bajak membajak atau canda iseng teman-temannya. Saya gak punya perasaan apa pun sama akang kala itu, apalagi saya masih belum bisa move on kan dari patah hati saya.

Namun, sekali lagi saya mencoba membijakan diri sendiri, bahwa setiap orang berhak mendapat kesempatan untuk menyampaikan maksud baiknya. Saya pun memberinya kesempatan untuk menyampaikan alasan-alasan kenapa yakin memilih saya untuk menjadi teman hidupnya.

“Karena kamu itu sederhana, Such.” katanya.

Saya juga mendengar ceritanya tentang hidup, aktivitasnya, juga pandangannya tentang rumah tangga, peran istri dan anak-anak dalam hidupnya, sampai rencana masa depannya. Apa yang ia sampaikan serta merta sejalan dengan keinginan saya, sejauh yang saya tahu, sepertinya kami bisa “jalan” bareng. Jadi, ibarat milih temen main tuh kayaknya kami cocok, tapi soal rasa belum ada sama sekali hihihi.

Akhirnya saya minta waktu buat mikir sambil ngelepasin perkara patah hati yang kok kayaknya mengganggu banget huhuhu. Saya pun mengatur rencana dan meminta kangmas ke rumah agar bertemu dengan orangtua saya (tapi pas saya lagi gak ada hehehe)

Yah, begitulah. Saya istikharoh dan cenderung tidak menemukan alasan buat menolak meski tidak tahu juga kenapa saya harus menerima dia menjadi imam saya. Kemudian terjadilah, saya menerima dia, dia menemui bapak kembali untuk menyampaikan maksud baiknya, lalu kami bertunangan 12 Desember 2016 dan berencana menikah di bulan Maret. Tapi karena satu dan lain hal, pernikahan kami diundur sampai bulan syawal. Alhamdulillah, akhirnya pada 27 Agustus 2017 kami sah menjadi suami istri.

Saya senang, karena setelah menikah dengannya, saya jadi kenal pengajian di pondok. Saya menemukan guru yang menuntun saya menjadi muslimah yang Allah ridai (amiin). Saya juga senang, karena setelah menikah dengannya, saya jadi punya partner buat mengembangkan indyra dengan membuat konveksi kecil-kecilan. Saya bisa mengajak keluarga, tetangga, serta teman-teman saya untuk membantu saya mengurus bisnis kecil ini.

Alhamdulillah, kalau ditanya sekarang gimana perasaan saya ke kangmas, gak perlu saya jawab lah yaa hehehe. Doakan saja biar baby di perut saya sehat dan lahir selamat tiada kurang satu apapun ๐Ÿ™‚

Nah, kisah pernikahan kami yang saya tulis sampai bersesi-sesi ini, sama Mas cuman dibikin empat bait puisi, begini bunyinya

Kita serupa dua pengembara asing
Yang sedang luka dan menggigil
Oleh tajam serpihan kenangan
Pada sepi dingin perjalanan jauh

Kita sebatangkara dan tak mengenal
Kemudian saling berpapasan
Di persimpangan ruang dan waktu
Di ujung batas penantian

Ini adalah pertemuan yang kita nantikan
Dari air mata yang bertahan untuk jatuh
Dari kesedihan yang takkan terungkap
Dan rindu yang terus menjaga misterinya

Lewat kata-kata yang gaib
Aku menyerahkan diriku kepadamu
Dan engkau menerima penyerahanku

(Budi Mulyawan, Desember 2017)

Cerita Panjang tentang Akang (4)

Patah Hati

Yippy, sesuai janji saya di seri sebelumnya, seri ini sudah saatnya saya menceritakan bagaimana akhirnya bisa menikah dengan Kangmas. Tapi kok itu judulnya malah patah hati? Ahaha, iya soalnya sedikit banyak kisah patah hati saya itu cukup memengaruhi jalan cerita kami, jadi sebelum sampai ke pernikahan, saya mau cerita soal patah hati saya dulu ^^

Percaya atau tidak, patah hati itu semacam penyakit cacar air yang pasti melanda umat manusia paling gak sekali dalam seumur hidupnya. Orang sealim apapun, maybe pernah lah ngalamin sama yang namanya patah hati. Cuman bedanya tinggal gimana orang itu ngadepinnya aja hehehe.

Kalau saya tuh ngerasain suka sama orang dan patah hati yang banget-banget tuh setelah lulus kuliah. Kalau jaman now muncul meme betapa sakitnya ditinggalin pas lagi sayang-sayangnya ya mungkin itu bisa ngegambarin perasaan saya kala itu. Wkwkwk, mengingatnya entah kenapa jadi pengen ketawa. 

Jadi ceritanya, dulu tuh ada cowok yang suka sama saya dan ngejar-ngejar gitu (cieileh GR buangeeet!) tapi sayanya ogah-ogahan karena gak mau pacaran. Etapi gak tahu kenapa kami malah terlibat kegiatan bareng terus dan si dia gak patah semangat pula buat naklukin hati saya. Singkat cerita, saya yang awalnya biasa aja jadi berasa-rasa, tapi ngerasa ada yang salah juga dibalik perasaan yang semakin meningkat kadarnya. In the end, saya gak tahan dan kasih doi pilihan: berhenti atau berjuang bareng-bareng (secara kami berasal dari keluarga yang kayaknya gak sealur gitu cara hidupnya), tapi doi malah pilih berhenti karena ngerasa belum siap buat berjuang ke jenjang yang lebih serius. Beberapa bulan kemudian dia malah pacaran sama adik tingkat saya. Sakit gak sih, Bloggy….hahaha

Nah, di masa patah hati yang pertama kali itu, saya berubah jadi manusia super alay. Bawaannya tuh saya pengen setiap orang yang saya temui kudu tahu kalau saya lagi patah hati hihihi. Sampai dibilang kalau saya ini terlambat patah hati, “Udah gak lucu kali, Ci, umur segini masih patah hati sampai segitunya. Aku kayak kamu tuh pas jaman SMA” begitu komentar teman. Ya gimana, orang baru ngerasainnya pas udah kerjaaa T.T

Nah, paling beraaat itu pas ndilalah ada beberapa teman saya yang kenal si doi dan mereka tergolong manusia yang kagum sama doi. Kebayang gak sih, pas kita lagi sakit ati bangeet sama doi, terus ketemu orang yang bawaannya muji-muji doi muluu T.T. Rasanya pengen bilang betapa jahatnya doi ke saya dan dia gak pantes buat dikagumin hahaha. Tapi engga sih, saya masih sadar untuk melihat dia sebagai manusia dan saudara seiman yang kudu dijaga aibnya. Kasihan juga kan kalau pamornya turun gegara cerita melankolis saya yang ternyata kalau diingat sekarang itu lebay banget! hehehe.

Yasudah, walau bagaimanapun hidup harus terus berjalan kan. Saya memutuskan untuk pulang ke Tegal di tengah kegalauan yang semakin hari semakin gila. Nah, si kangmas ini salah satu senior yang saya mintai pendapatnya tentang balik kampung. Pasalnya, Mas itu emang udah gak merantau lagi dan konon kerjaannya ngurus batik di Tegal. Pas diskusi sama Mas, dia mendukung seratus persen biar saya balik Tegal aja.

Justru balik kampung itu pas kamu belum punya apa-apa kayak sekarang. Kehidupan di ibukota akan mengikat  dan terus mengikat kamu. Ora bakal bisa balik, Such dong wis neng kana setahun rong tahun. Durung dong wis mulai ana cicilan heuheuheu

Itu doang sih nasihatnya dan gak saya bales lagi karena saya anggap nasihat itu nyebelin karena bener hahaha. Berbulan-bulan berikutnya pun berlalu. Saya masih bolak-balik Tegal-Jakarta sembari terus memantapkan hati untuk beneran boyong Tegal.

Tiba-tiba Ngajak Nikah

Saya lupa kapan tepatnya, intinya saat itu saya masih bolak-balik Jakarta karena ngerjain proyek suntingan dan menghabiskan masa freelance di majalah. Patah hati saya masih belum sembuh, tapi lumayan reda. Saya sedih sekali waktu itu, “Ya Allah, saya nanti nikahnya sama siapa?” gundah saya di suatu malam. Teman-teman saya sudah pada menikah. Beberapa lelaki yang sempat modus juga udah pada mundur teratur karena jarang saya ladenin. Malam itu saya salat tahajud sambil nangis nggelolo, saya sampaikan segala kegundahan di hati saya.

Saya ingin menikah dengan orang yang ketika menikah dengannya, akan bertambah kedekatan saya pada Allah dan kebermanfaatan saya untuk sesama

Itu saja yang saya mau. Saya gak mau macem-macem. Lalu habis salat saya buka kontak dan scroll orang-orang yang pernah chat saya. Kok interaksi sama temen cowok sedikit ya, gak ada yang modus pula wkwkwk. Tapi entah kenapa pas sampai di akun kangmas, saya berhenti agak lama dan baca history chat kami yang udah lama pula. Sempet terlintas, “Apa dia ya the right one itu?” Hahaha. Bodo ah. Saya lanjut scrolling lagi sambil ketawa-ketawa sendiri lalu tidur. Sudah agak tenang dan lega perasaannya.

Beberapa hari kemudian, sebelum Subuh, sekitar jam 3-an, saya buka hape dan kaget ada chat dari kangmas

“Such, pernah mikir gak kalau kita itu jodoh?”

Lha? Kaget dong saya. Ini orang kesambet apa gimana ya tiba-tiba chat begitu. Biasanya kalau chat ya ngasih kerjaan atau suruh cek email. Ini gak ada angin gak ada hujan, setelah gak ngobrol berbulan-bulan pula. Kan aneh ya haha. Saya pun mikir oh mungkin itu orang hapenya sedang dibajak temennya yang rese.

“Ha? Dibajak ya?” jawab saya

“Engga, Such. Ini saya aseli, Budi Mulyawan.”

“Suci sudah ada calon belum?” tambahnya.

“Kenapa ujug-ujug nanya begitu?”

“Iya, saya habis merenung dalam-dalam semalaman, Such. Kata Op*nk jodoh itu dekat dan tidak kita sadari. Kemudian muncul namamu.”

Gubrak! Makin aneh aja kan ini orang wkwkwk. Saya saat itu gak merasa apa-apa, kayak kedapetan orang salah sambung lah. Lalu saya bales,

“Yaudah, Mas tidur dulu aja. Siapa tahu besok tercerahkan.”

Kemudian tidak ada balasan lagi.

 masih bersambung yaa ^^

Surga Dunia

Hari ini saya merasa bahagia karena suami lagi gak terlalu banyak kerjaan jadi kami bisa ngobrol banyak dari pagi. Agak siangan saya nyuci dengan hepii. Alhamdulillah, ibu mertua udah masak buat makan siang jadi saya bisa maskeran sambil nonton film India sambil nyemil jambu dan anggur hahaha. Nikmatnyaaa~ alhamdulillah ๐Ÿ˜€

Habis Dhuhur saya kembali berkutat dengan jahitan dan sekarang sudah masuk Ashar, rehat bentar ngeluh boyok duluu deeh. Habis ini siap-siap bikin makan malem seadanya ^^V