Featured

Saya selalu percaya bahwa setiap kejadian yang menimpa saya adalah sebuah pesan dari Allah untuk saya yang lebih baik. Pemaknaan di setiap kejadian bagi saya menjadi suatu rutinitas yang istimewa. Tiada yang lebih indah dari sebuah cerita yang dimengerti apa pesannya :)273401_1702485402_2224678_n

Advertisements

Mainan

Istriku, jika engkau ingin sungguh-sungguh kepada Allah maka anggaplah selain Dia hanya dolanan/mainan.

Dulu aku hanya bermain seadanya seperti batu bata, pasir, cepon, pelepah pisang, tetapi dunia teman-temanku menjadikanku kanak-kanak yang obsesif terhadap mobil-mobilan, robot-robotan plastik, konsol game. Makin kita terbawa teman dan lingkungan makin kita meninggalkan keaslian kita yang luas. Bahwasanya segala macam hal di dunia ini adalah dolanan.

Orang jawa tahu benar bagaimana itu dipraktekan.

Dolanan watu, dolanan pasir, dolanan aspal, dolanan umah, dolanan proyek, dolanan tanah, dolanan minyak, dolanan kayu, dolanan wesi, dolanan duit

Atau begini:
Ndolani kanca, ndolani anak, ndolani istri, ndolani suami

Juga bisa begini:
Dolan Jakarta, dolan singapura, dolan eropa, dolan ngalor ngidul

Silakan tambahi apapun jenis profesimu, kesibukanmu, mainanmu. Yang selalu menutupi siapa dirimu sebenarnya: orang yang sedang bermain.

Aku teringat dulu dolanan layang-layang ketika mencari layangan yang putus di langit. Angan dan kaki mengejar dan terus mengejar tanpa menengok kanan dan kiri. Tahu-tahu aku berada di desa sebelah. Begitulah dunia, selalu membuat kita lupa waktu, lupa buat pulang.

Kami berbagi satu laptop dan diakhir tulisan ini baru saya sadar ini wordpress istri saya.Hehehe (By: Suamimu)

Pospak Pertamaku (2)

Hai, mau ngelanjutin cerita tentang pospak yang saya tulis tempo hari ya.

Jadi, hari itu untuk kali pertama Atiq tidur memakai pospak. Setelah ganti pospak baru, saya berharap sekali dia bisa tidur lelap lagi seperti sebelumnya. Tapi ternyata, semua berubah ketika negara api menyerang, Saudara-saudara, hahaha. Atiq justru nangis kejer setelah beberapa menit terlelap. Saya gak tahu dia kenapa, apa kolik atau kedinginan ya? Saya tenangin tapi gak tenang-tenang. Sampai saya lepas pospaknya dan ternyata ada noda kuning yang menyebar ke seluruh area pospak. Dia eek, Saudara.

Setelah pospak dilepas dan diganti popok kain biasa, Atiq jauh lebih tenang. Malam itu dia tidur nyenyak meski sesekali terbangun karena pipis dan harus ganti popok. Emaknya yang gak nyenyak tidurnya hahaha. Jadi, sampai tulisan ini dibuat dua dua pekan kemudian, Atiq belum pernah pakai pospak lagi. hihihi

Pospak Pertamaku

Hari ini adalah acara aqiqahan Atiq. Sesuai tradisi di sini, Atiq akan diajak memutari orang-orang untuk minta didoakan. Karena padatnya acara, untuk kali pertama akhirnya Atiq memakai pospak. Dia juga pakai sarung dan peci yang aku bikin beberapa hari lalu. Aih, kok, anakku keliatan sudah besar sekali ya, padahal belum genap sebulan hehehe.
Malamnya, sekarang pukul 1.19, dari habis magrib sampai jam 9-an, Atiq tidur nyenyak. Sesekali terbangun minta mimik lalu tidur lagi. Padahal, biasanya ia beberapa kali bangun karena pipis dan eek. Jam 9-an itu saya lepas pospaknya karena mendengar suara eek dia hihihi. Setelah dilepas, Atiq tidur lagi tapi bangun hampir setiap jam, kadang sekian menit, karena pipis. Sampai pukul satu tadi saya masih berkutat dengan mengganti popok.

Lalu saya mulai lelah, Bloggy. Acara tadi beneran menguras tenaga. Saya capek sekali karena tidak tidur siang. Suami, yang biasa gantian “jaga malam”, juga udah tepar. Ibu pun pasti lelah sekali. Ibu acap kali panik kalau Atiq nangis malam-malam, tadi aja sempat melongok ke kamar. Mempertimbangkan agar ibu bisa istirahat tanpa mengkhawatirkan cucunya, akhirnya saya putuskan memakaikan pospak lagi ke Atiq. Semoga gak bangun-bangun karena pipis lagi, ya, Nak.

Atiq sekarang lagi di pangkuan saya, lagi saya gendong. Udah nyenyak boboknya. Sengaja gak saya taruh di kasur dulu takut dia kebangun lagi, jadi nunggu dia bener-bener nyenyak banget. Saya ngeblog dulu deh ^^

Doa antara Azan dan Iqamat

Suatu malam, saat dari pagi sampai sore Atiq gak rewel, tidur-mimi-tidur lagi, selesai minum ASI dan eek banyak sekali, matanya terbuka lebar dan bibirnya bergerak-gerak seperti bercerita. Kami mengobrol ala kadarnya, Atiq menjawab tanpa suara dan saya mentranslatenya sesuka saya, kemudian ia lelah berbaring dan ingin digendong. Saya pun menggendongnya dengan jarik yang disimpul pangkal–salah satu keuntungan jadi anak Pramuka adalah bisa nggendong pake simpul jangkar dan ngarang lagu seperti bikin yel-yel wkwkwk–sambil membereskan tempat tidur.

Azan isya pun terdengar merdu. Saya lalu mengajak Atiq mengobrol dalam gendongan

“Nak, ada azan tuh. Yuk, jawab azannya yuk, Nak.” (Terus jawab azan sampai selesai)

“Habis azan baca doa setelah azan ya Nak. Bismillahirrohmanirrohim…” Saya masih usrek beberes ini itu dan tidak menengok bocah di gendongan.

“Ya Allah, semoga dedek Atiq jadi anak soleh, pintar, berbakti dan nurut sama bapak ibu. Amiin. Gitu, Nak. Jadi kalau ada azan tuh, dijawab, terus dedek baca doa setelah azan deh. Habis itu boleh berdoa apa aja, karena doa antara azan dan iqamat itu mustajab. Oke, Nak?”

Toweenk, ternyata si bocah udah tiduur. Untuk kesekian kalinya si emak ngomong sendiri muluu >,< hehehe. Cepet gede, ya, Nak. Biar kalau ngobrol, ibu ada yang nyautin ^^

 

Ketakutan Pikiran

Hai, Bloggy (lama banget ya gak nyapa-nyapa dulu hehehe). Pernah gak sih, Bloggy takut akan sesuatu yang sebenarnya berasal dari pikiran sendiri? Kadangkala saya suka merasakannya, mungkin karena saya senang berimajinasi kali ya. Pikiran-pikiran buruk tentang masa depan kadang datang dan menakut-nakuti saya. Tapi seringnya sih, ketakutan itu sebatas di pikiran aja. Kenyataan acap kali tak semenakutkan apa yang kita pikirkan. Toh, segala hal baik atau buruk yang menimpa kita, itu pasti yang terbaik menurut Allah kan?