Featured

Saya selalu percaya bahwa setiap kejadian yang menimpa saya adalah sebuah pesan dari Allah untuk saya yang lebih baik. Pemaknaan di setiap kejadian bagi saya menjadi suatu rutinitas yang istimewa. Tiada yang lebih indah dari sebuah cerita yang dimengerti apa pesannya :)273401_1702485402_2224678_n

Advertisements

Cerita Panjang tentang Si Akang

Orang Random

“Such, kenapa kamu gak mau punya suami penulis?” 

Sebuah pesan singkat mampir di hape saya kala itu, sekitar tahun 2013, dari seorang senior Sintesa yang hanya saya kenal namanya, mukanya aja saya gak ingat kaya apa.

Dahi saya berkerut-kerut, kenapa tiba-tiba mas ini sms begini ya? Pikir saya waktu itu. Pasalnya, kami hampir tak pernah terlibat dalam satu pekerjaan. Saya hanya tahu namanya, kenapa saya simpan nomornya juga gak tahu kenapa. Hmmm, jadi aneh saja mendadak disms demikian. Tapi toh, iseng-iseng saya jawab juga.

“Emang aku pernah bilang begitu, ya, Mas?”

“Pernah update status begitu di FB, terus mendadak aku inget. Jadi tanya deh.”

Kerutan di keningku semakin melipat-lipat lantas jadi senyum-senyum sendiri. Apa iya aku pernah bikin status begitu ya? Haha

“Hmm, gak tahu, deh, Mas kenapanya. Gak asik aja kali ya. Haha.”

“Iya ya? Dua manusia sibuk di dunianya sendiri-sendiri, di hadapan laptop masing-masing, tanpa saling bicara. Sunyi. Membosankan sekali.”

“Eh, tapi Asma Nadia sama Isa Alamsyah juga pasangan penulis dan sepertinya seru-seru aja kok. Hehe.” Waktu itu habis ikut talkshownya Asma Nadia jadi keinget bales begitu.

Selesai. Pesan itu tidak dibalas lagi dan nama itu bertahun-tahun tak muncul lagi di kotak masuk ponsel saya. 

Setelah saya ingat-ingat, nama yang sama juga pernah sms saya di awal-awal saya kuliah. Isi smsnya random juga, seperti “Such, kenapa kamu suka senyum-senyum sendiri?”

Lha, kaget sekali saya dapet sms aneh begitu, tanpa basa basi pula. Dari orang yang gak saya kenal baik juga pula! Ini orang kok aneh banget sih, pikir saya waktu itu. Namun, saya agak khawatir juga disms begitu, berarti kalau saya senyum-senyum sambil jalan gitu ada yang liat dong ya wkwkwk. Saya lupa sih saya jawab apa waktu itu, tapi seinget saya mah saya gak dapet balasan lagi dari senior aneh tadi. Jadi saya pikir, emang itu orang super random yang jalan pikirannya acak adut hahaha.

Terus gak nyangka aja sekarang senior aneh bin random itu malah jadi suami saya. Duh, akang! 😍

Memang interaksi kami terbilang sangat minim, hampir gak pernah malah. Akan tetapi, kami sama-sama senang menulis dan suka membaca tulisan masing-masing. Dulu masih zaman saya seneng nulis di notes FB dan si akang ini jadi salah satu orang yang saya tag buat baca tulisan saya, bersama teman-teman Sintesa pada umumnya. Sampai saya kenal wordpress dan ketemu sama blog si akang juga. Blognya rapi dan ringkas, bahasannya juga berbobot, gak seperti blog saya yang isinya curhatan alay semua hihihi.

Menulis bagi saya itu saat yang tepat untuk meyelami diri sedalam mungkin. Saat menulis, saya bisa sejenak melupakan segala pelik peristiwa kehidupan yang sedang saya jalani. Jadi menulis itu semacam hiburan buat saya pribadi, baca-baca tulisan orang juga. Tulisan-tulisan si akang ini jadi bahan “hiburan” saya juga kalau lagi suntuk sama masalah-masalah yang menggelatuk. Cuman ya itu, ketika merasa cukup, yasudah, saya kembali ke realita. Karena itu, saya sebenarnya kurang suka jika tulisan saya dikomentari banyak orang. Pasalnya, ketika selesai menulis, “selesai” pula perkaranya. Kalau dikomentari nanti jadi gak selesai-selesai, hahaha

Ketika akhirnya menikah dengan si akang, banyak yang bertanya bagaimana kisah menarik di antara kami. Kenapa bisa tiba-tiba nikah, seunyu apa sih ceritanya? 

Saya pikir-pikir sepertinya gak ada yang menarik. Everything is biasa aja, jawab saya. Karena memang semuanya terjadi begitu saja, dengan sedemikian sederhananya. Baru akhir-akhir ini saya ingat-ingat kebersamaan kami berdua sampai akhirnya menikah. Ada beberapa kisah unik sih, salah satunya sms random di atas tadi. Dan emang jodoh itu bentuk rezeki dari Allah ya, datengnya bisa gak disangka-sangka, orangnya juga ^^

Oh iya, saya taksir cerita si akang bakal panjang, jadi akan saya bagi ke beberapa bagian. Itung-itung menyenangkam hati suami yang protes mulu pengen banget baca-baca tulisan saya lagi hihihi.

Gimana, Bloggy, udah siap baca tulisan (alay) saya lagi? :-p

Kepada Suami

Seorang perempuan karismatik, dengan segudang prestasi dan mimpi-mimpi, sedang berdialog dengan hati nuraninya sendiri. Tema dialognya sederhana, sebatas ketaatan pada suami dalam menjalani hari-hari.

Sang perempuan menatap suaminya lamat-lamat, bagaimana mungkin, pria dengan seribu perbedaan di depannya itu harus benar-benar ia patuhi. Atas dasar apa ia harus menanggalkan segala seleranya sendiri demi menyenangkan suami yang punya kesenangan lain lagi? Bagaimana mungkin, mimpi yang ia bangun bertahun-tahun dengan berdarah-darah akan bisa dilenyapkan dalam sekejap hanya dengan kata “tidak” dari suami?

Argh, memangnya siapa suami itu hingga ia mempunyai segala hak atas diri seorang istri? 

Lantas dalam kelelahan pikirannya sendiri, seorang perempuan tadi tertidur dan bermimpi. Dalam mimpinya itu, bertemulah ia dengan seorang nyai.

Riuh renda ia dengar ngendikane nyai tentang suami, tentang hidup. Bahwa hidup bukan tentang hari ini, juga bukan tentang sepuluh dua puluh tahun lagi, jika itu masih seputaran duniawi. Hidup itu tentang di mana kita setelah mati, sedang apa yang akan ditanyai pertama kali nanti adalah tentang salatmu dan suami. Ya, suami.

Suami adalah raja bagi istri. Sedemikian besar hak suami atas istrinya. Hingga kadar kebaikan suami diukur dari bagaimana sikapnya kepada istri. Tiada suami yang mulia sebelum ia memuliakan istrinya.

Lantas, mengapa kau terus saja bertanya? Segala apa yang kau peroleh di dunia: rupa harta, piala berjuta-juta, sampai jasa tiada terkira akan dilenyapkan begitu saja tatkala hilang syukurmu atas suami. Ketika kasar lisan dan jemawamu pada suami. Segala apa yang sudah diraih, tiada ada artinya lagi.

Adakah yang patut kita tunduki selain suami yang kelak harus memikul dosadosa kita di akhirat nanti? Kiranya itu jelas tak sebanding dengan sebongkah mimpi yang mengandung duniawi.

Perempuan tadi terbangun dari mimpi dan mendapati suaminya tak lagi di sisi. Hatinya gundah tak bertepi, namun selang beberapa sesi, datanglah suami dengan segelas air madu dan roti. Juga ucapan selamat pagi. 

Lalu terbitlah sesal di lubuk hati, mulai esok dan seterusnya, hidupnya hanya untuk suami. Tiada penting yang lain lagi.

Terima kasih, nyai, sudah menasihati meski hanya lewat mimpi.

Menikahi Sunyi


Engkau adalah kesunyian. Sedang aku adalah riak yang menikahimu.

Beristirahatlah segala kata yang sebelumnya mendera reda di angkasa. Aku tak kuasa merekatkan huruf, mengikat dan menadakannya karena setiap detik harihariku menjadi sunyi. Bahkan setiap kekosongan yang bersepi di telinga pun mengirim makna. Aku tak pernah menduga, bahwa sekerat kata dapat hilang begitu saja hanya karena pandangan matamu yang tiada dasarnya. Tak kubutuhkan lagi katakata penyimbol perasaan atau kebahagiaan. Tak kubutuhkan lagi sapa dan pengakuan langit raya serta apasaja yang hidup di bawahnya.

Duniaku menjadi sunyi, menjadi engkau.

Setelah Menikah Denganmu

Setelah menikah denganmu, terbitlah cahaya yang kurindukan dari pekik sepi yang menghiasi sudut rumahmu

Sesederhana itu,

Setelah menikah denganmu, terbitlah relung sadarku tentang betapa nikmatnya hidup di dalam kesunyian, tanpa recok suka dan komentar

Sempurna adalah aku dan kamu, tanpa seorangpun di luar sana yang tahu

Setelah menikah denganmu, terbitlah rasa cukupku untuk sekadar mengharap pengakuan dari semesta, 

tak apalah kita tetap tak bersuara, biarlah mereka mereka-reka tentang kita semaunya

Yang terpenting sekarang adalah kita

Aku dan kamu sebenar-benarnya, sediri-dirinya

Maka ketika semua yang fana haruslah hilang pada masanya, tak apalah, selagi kita masih bersama-sama