Featured

Saya selalu percaya bahwa setiap kejadian yang menimpa saya adalah sebuah pesan dari Allah untuk saya yang lebih baik. Pemaknaan di setiap kejadian bagi saya menjadi suatu rutinitas yang istimewa. Tiada yang lebih indah dari sebuah cerita yang dimengerti apa pesannya :)273401_1702485402_2224678_n

Advertisements

Penyejuk Hati

Suatu pagi, mood saya sedang tidak bagus, saya sebal sekali karena sesuatu hal di rumah. Saking sebalnya, saya sampai enggan menyentuh nasi sama sekali. Alih-alih makanan sudah tersaji di meja, saya malah bikin martabak manis. Masih dalam keadaan sebal saya makan martabak sembari beberes rumah. Liat nasi rasanya muak sekali 😦

Saya lanjut beres-beres mumpung si bayik bobok. Perut lapar, tapi ogah sarapan nasi, akhirnya makan martabak lagi, tapi bosan. Duh, parah banget ini badmoodnya. Sampai si bayik bangun dan nangis, saya kasih mimik dia menyusu lahap sekali. Mendadak air mata saya jatuh sendiri. Selesai mimik dia masih nangis, saya elus-elus dan gendong dia sampai nangisnya reda. Lalu saya dudukkan di bouncer.

Kemudian saya makan sambil terisak. Duh, Nak, maafkan ibu yaa. Ibu isi bensin dulu, habis ini ayok mimik lagi yang banyaak!

Saking terharunya saya sampai gak sadar kalau udah menghabiskan jatah makan suami saya juga hahaha.

Saya Sudah Jadi Ibu

Hari ini saya sedikit kesal karena Atiq rewel. Sebenarnya tidak rewel sih, dia setiap mau tidur memang suka menangis–fyi, Atiq kalau nangis keras sekali, kadang saya malu dikomentarin sana sini 😦 huhu–kencang. Dia juga tidak akan tidur kalau belum capek main. Nah, tapi kadang emaknya yang udah capek atau mau ngerjain hal lain makanya berharap banget Atiq lekas tidur. Jadinya, sedikit “memaksa” si bocah dengan melalukan beberapa ritual sebelum tidur. Hasilnya? Karena merasa “dipaksa” dia seringkali menjadi tantrum dengan nangis kejer keras sekali. Duh, kalau sudah begini, nanti yang denger jadi pada mendekat dan menanyakan macam-macam; membikin suasana hati saya jadi nambah tak karuan.

Liat Atiq nangis kejer, saya jadi gemas. Kadang–seperti hari ini–rasanya sungguh mengesalkan, tapi hal itu menyadarkan saya bahwa sebagai seorang ibu saya tidak boleh mengeluarkan kata-kata atau sikap yang kurang baik di hadapan anak. Akhirnya, saya hanya diam sambil sesekali menghapus air matanya.

Padahal, kalau mau jujur nih ya, pengennya ikut teriak dan mengusir siapa saja yang mendekat. “Pergi semua! Tinggalkan aku sendiriaaaaaan!” Begitu inginnya, seperti adegan di sinetron haha.

Atiq diam setelah saya gendong, setelah sekian kali sudah digendong sampai capai kaki ini hiks, sambil dengerin dia sesenggukkan, saya elus kepalanya. Pas dia udah tenang, saya bilang “Ibu gak suka Atiq kayak tadi.” Perasaan saya masih kesal sekali, sebal, marah, capek, plus sumuk pengen mandi.

Atiq diam, masih menyandarkan kepalanya di bahu saya sambil memandang burung perkutut di dalam sangkar. “Ibu tahu Atiq belum pengen bobok ya, masih pengen main. Tapi ibu capek, Nak. Maafin ibu ya.” saya elus-elus lagi kepalanya.

“Sini, cium ibu.” Saya pandangi wajahnya dan dia balik menatap saya tanpa suara. Saya tempelkan pipi saya di mulutnya. Saya ciumi pipi tembamnya. Dia tersenyum geli.

“Sudah, bobok ya, nanti bangun bobok happy ya.”

Atiq masih memandangi perkutut, tak menunggu lama ia mencari-cari ASI. Setelah ketemu, ia minum dengan lahapnya. Kemudian tidur, saya pindah ke kasur.

Saya mengobati perasaan aneh ini dengan menulis dan makan satai melon ini. Selamat pagi, Bloggy 🙂

Menerima Rasa Sakit

Memandang anak yang sedang nyenyak tidur sembari menahan lapar (karena mager bangun dari kasur, ngeblog dulu bentar deeh hehe), membuat saya–entah kenapa–jadi ingat masa-masa melahirkan.

Ada satu poin yang saya ingat betul ketika bu bidan mengatakan bahwa tubuh saya begitu lemah untuk meneruskan perjuangan. Beliau bilang, “Coba kalau kontraksi, sakitnya jangan dilawan. Tapi diterima, dilepaskan, dinikmati, insya Allah bisa.”

Sambil meringis saya mengumpat dalam hati, bagaimana mungkin rasa sakit yang luar biasa itu bisa dinikmati? Namun, di ruang persalinan saya mencoba untuk benar-benar menikmati rasa sakit itu. Setiap kontraksi datang, saya tak lagi menegang dan mencengkeram suami kuat. Saya justru menarik napas dalam dan mencoba rileks. Iya, rileks, saya terima rasa sakit itu dengan lapang dada. Kenyataannya, saya justru merasa lebih kuat.

Sejak itu, saya jadi belajar bahwa sakit itu sama seperti halnya senang. Keduanya hanya rasa semata yang harus diterima dan dijadikan teman, bukan untuk dilawan. Maka ketika sakit–termasuk sakit hati juga yak–datang, kita perlu memperlakukannya seperti tamu. Kita jamu ia dengan senyuman dan ketabahan. Kita jadikan obat sebagai jamuan sampai ia kan pergi dengan kelapangan 🙂

Selamat makan!^^

Setahun Pernikahan

Alhamdulillah, sampailah kami pada satu tahun usia pernikahan. Beribu syukur kami panjatkan atas nikmat sehat, gembira, bersama, dan hadirnya anak tercinta di hari-hari kami. Suka duka terlewati, tangis tawa dijalani.

Selama satu tahun ini, suami saya sering menanyakan apa kebutuhan saya. Apa saya butuh mesin jahit yang lebih bagus, kulkas, skincare, laptop, baju baru, atau apa? Setiap kali ia bertanya saya sering bingung menjawabnya. Sejatinya keinginan, satu dipenuhi pasti ingin yang lain lagi, kan?

Dulu saya ingin beli mesin jahit industri biar lebih efisien, setelah kebeli, sekarang pengen mesin portable yang ringkas dan banyak fiturnya. Pernah juga pengen beli mesin obras, pas udah punya pengen beli mesin lubang kancing, udah ada tinggal ngidam mesin neci. Ya begitulah keinginan, gak akan pernah habis. Beruntung, semua yang saya sebutkan tadi sudah masuknya kebutuhan ya, bukan sekadar keinginan. Suami juga kan tanyanya “Kamu butuh apa” bukan “Kamu ingin apa” hehehe

Akhir-akhir ini saya banyak merenung. Kalau dipikir-pikir, selama satu tahun ini satu demi satu kebutuhan kami mulai terpenuhi, tapi kenapa rasa tidak puas selalu menuntut lagi dan lagi? Dari situlah saya teringat tentang syukur. Memang tanpa syukur, kita gak akan pernah hidup tenang.

Pun ketika suami yang masih saja sering bertanya, “Kamu butuh apa lagi?” kemudian ia akan berjuang untuk memenuhi kebutuhan saya, saya harus sangat mensyukurinya. Karena berjuang itu wajib, tapi berhasil tidak. Segala yang saya butuhkan akan membantu dan menjadikan saya bahagia. Namun, yang terpenting adalah esensi perjuangan suami dalam memenuhi kebutuhan itu. Toh, percuma jika semua kebutuhan sudah terpenuhi, namun suami gak ada di situ.

Pada akhirnya saya hanya ingin menjawab, saya hanya butuh kamu, suamiku :-*

Mainan

Istriku, jika engkau ingin sungguh-sungguh kepada Allah maka anggaplah selain Dia hanya dolanan/mainan.

Dulu aku hanya bermain seadanya seperti batu bata, pasir, cepon, pelepah pisang, tetapi dunia teman-temanku menjadikanku kanak-kanak yang obsesif terhadap mobil-mobilan, robot-robotan plastik, konsol game. Makin kita terbawa teman dan lingkungan makin kita meninggalkan keaslian kita yang luas. Bahwasanya segala macam hal di dunia ini adalah dolanan.

Orang jawa tahu benar bagaimana itu dipraktekan.

Dolanan watu, dolanan pasir, dolanan aspal, dolanan umah, dolanan proyek, dolanan tanah, dolanan minyak, dolanan kayu, dolanan wesi, dolanan duit

Atau begini:
Ndolani kanca, ndolani anak, ndolani istri, ndolani suami

Juga bisa begini:
Dolan Jakarta, dolan singapura, dolan eropa, dolan ngalor ngidul

Silakan tambahi apapun jenis profesimu, kesibukanmu, mainanmu. Yang selalu menutupi siapa dirimu sebenarnya: orang yang sedang bermain.

Aku teringat dulu dolanan layang-layang ketika mencari layangan yang putus di langit. Angan dan kaki mengejar dan terus mengejar tanpa menengok kanan dan kiri. Tahu-tahu aku berada di desa sebelah. Begitulah dunia, selalu membuat kita lupa waktu, lupa buat pulang.

Kami berbagi satu laptop dan diakhir tulisan ini baru saya sadar ini wordpress istri saya.Hehehe (By: Suamimu)