Featured

Saya selalu percaya bahwa setiap kejadian yang menimpa saya adalah sebuah pesan dari Allah untuk saya yang lebih baik. Pemaknaan di setiap kejadian bagi saya menjadi suatu rutinitas yang istimewa. Tiada yang lebih indah dari sebuah cerita yang dimengerti apa pesannya :)273401_1702485402_2224678_n

Advertisements

Menerima Rasa Sakit

Memandang anak yang sedang nyenyak tidur sembari menahan lapar (karena mager bangun dari kasur, ngeblog dulu bentar deeh hehe), membuat saya–entah kenapa–jadi ingat masa-masa melahirkan.

Ada satu poin yang saya ingat betul ketika bu bidan mengatakan bahwa tubuh saya begitu lemah untuk meneruskan perjuangan. Beliau bilang, “Coba kalau kontraksi, sakitnya jangan dilawan. Tapi diterima, dilepaskan, dinikmati, insya Allah bisa.”

Sambil meringis saya mengumpat dalam hati, bagaimana mungkin rasa sakit yang luar biasa itu bisa dinikmati? Namun, di ruang persalinan saya mencoba untuk benar-benar menikmati rasa sakit itu. Setiap kontraksi datang, saya tak lagi menegang dan mencengkeram suami kuat. Saya justru menarik napas dalam dan mencoba rileks. Iya, rileks, saya terima rasa sakit itu dengan lapang dada. Kenyataannya, saya justru merasa lebih kuat.

Sejak itu, saya jadi belajar bahwa sakit itu sama seperti halnya senang. Keduanya hanya rasa semata yang harus diterima dan dijadikan teman, bukan untuk dilawan. Maka ketika sakit–termasuk sakit hati juga yak–datang, kita perlu memperlakukannya seperti tamu. Kita jamu ia dengan senyuman dan ketabahan. Kita jadikan obat sebagai jamuan sampai ia kan pergi dengan kelapangan 🙂

Selamat makan!^^

Setahun Pernikahan

Alhamdulillah, sampailah kami pada satu tahun usia pernikahan. Beribu syukur kami panjatkan atas nikmat sehat, gembira, bersama, dan hadirnya anak tercinta di hari-hari kami. Suka duka terlewati, tangis tawa dijalani.

Selama satu tahun ini, suami saya sering menanyakan apa kebutuhan saya. Apa saya butuh mesin jahit yang lebih bagus, kulkas, skincare, laptop, baju baru, atau apa? Setiap kali ia bertanya saya sering bingung menjawabnya. Sejatinya keinginan, satu dipenuhi pasti ingin yang lain lagi, kan?

Dulu saya ingin beli mesin jahit industri biar lebih efisien, setelah kebeli, sekarang pengen mesin portable yang ringkas dan banyak fiturnya. Pernah juga pengen beli mesin obras, pas udah punya pengen beli mesin lubang kancing, udah ada tinggal ngidam mesin neci. Ya begitulah keinginan, gak akan pernah habis. Beruntung, semua yang saya sebutkan tadi sudah masuknya kebutuhan ya, bukan sekadar keinginan. Suami juga kan tanyanya “Kamu butuh apa” bukan “Kamu ingin apa” hehehe

Akhir-akhir ini saya banyak merenung. Kalau dipikir-pikir, selama satu tahun ini satu demi satu kebutuhan kami mulai terpenuhi, tapi kenapa rasa tidak puas selalu menuntut lagi dan lagi? Dari situlah saya teringat tentang syukur. Memang tanpa syukur, kita gak akan pernah hidup tenang.

Pun ketika suami yang masih saja sering bertanya, “Kamu butuh apa lagi?” kemudian ia akan berjuang untuk memenuhi kebutuhan saya, saya harus sangat mensyukurinya. Karena berjuang itu wajib, tapi berhasil tidak. Segala yang saya butuhkan akan membantu dan menjadikan saya bahagia. Namun, yang terpenting adalah esensi perjuangan suami dalam memenuhi kebutuhan itu. Toh, percuma jika semua kebutuhan sudah terpenuhi, namun suami gak ada di situ.

Pada akhirnya saya hanya ingin menjawab, saya hanya butuh kamu, suamiku :-*

Mainan

Istriku, jika engkau ingin sungguh-sungguh kepada Allah maka anggaplah selain Dia hanya dolanan/mainan.

Dulu aku hanya bermain seadanya seperti batu bata, pasir, cepon, pelepah pisang, tetapi dunia teman-temanku menjadikanku kanak-kanak yang obsesif terhadap mobil-mobilan, robot-robotan plastik, konsol game. Makin kita terbawa teman dan lingkungan makin kita meninggalkan keaslian kita yang luas. Bahwasanya segala macam hal di dunia ini adalah dolanan.

Orang jawa tahu benar bagaimana itu dipraktekan.

Dolanan watu, dolanan pasir, dolanan aspal, dolanan umah, dolanan proyek, dolanan tanah, dolanan minyak, dolanan kayu, dolanan wesi, dolanan duit

Atau begini:
Ndolani kanca, ndolani anak, ndolani istri, ndolani suami

Juga bisa begini:
Dolan Jakarta, dolan singapura, dolan eropa, dolan ngalor ngidul

Silakan tambahi apapun jenis profesimu, kesibukanmu, mainanmu. Yang selalu menutupi siapa dirimu sebenarnya: orang yang sedang bermain.

Aku teringat dulu dolanan layang-layang ketika mencari layangan yang putus di langit. Angan dan kaki mengejar dan terus mengejar tanpa menengok kanan dan kiri. Tahu-tahu aku berada di desa sebelah. Begitulah dunia, selalu membuat kita lupa waktu, lupa buat pulang.

Kami berbagi satu laptop dan diakhir tulisan ini baru saya sadar ini wordpress istri saya.Hehehe (By: Suamimu)

Pospak Pertamaku (2)

Hai, mau ngelanjutin cerita tentang pospak yang saya tulis tempo hari ya.

Jadi, hari itu untuk kali pertama Atiq tidur memakai pospak. Setelah ganti pospak baru, saya berharap sekali dia bisa tidur lelap lagi seperti sebelumnya. Tapi ternyata, semua berubah ketika negara api menyerang, Saudara-saudara, hahaha. Atiq justru nangis kejer setelah beberapa menit terlelap. Saya gak tahu dia kenapa, apa kolik atau kedinginan ya? Saya tenangin tapi gak tenang-tenang. Sampai saya lepas pospaknya dan ternyata ada noda kuning yang menyebar ke seluruh area pospak. Dia eek, Saudara.

Setelah pospak dilepas dan diganti popok kain biasa, Atiq jauh lebih tenang. Malam itu dia tidur nyenyak meski sesekali terbangun karena pipis dan harus ganti popok. Emaknya yang gak nyenyak tidurnya hahaha. Jadi, sampai tulisan ini dibuat dua dua pekan kemudian, Atiq belum pernah pakai pospak lagi. hihihi

Pospak Pertamaku

Hari ini adalah acara aqiqahan Atiq. Sesuai tradisi di sini, Atiq akan diajak memutari orang-orang untuk minta didoakan. Karena padatnya acara, untuk kali pertama akhirnya Atiq memakai pospak. Dia juga pakai sarung dan peci yang aku bikin beberapa hari lalu. Aih, kok, anakku keliatan sudah besar sekali ya, padahal belum genap sebulan hehehe.
Malamnya, sekarang pukul 1.19, dari habis magrib sampai jam 9-an, Atiq tidur nyenyak. Sesekali terbangun minta mimik lalu tidur lagi. Padahal, biasanya ia beberapa kali bangun karena pipis dan eek. Jam 9-an itu saya lepas pospaknya karena mendengar suara eek dia hihihi. Setelah dilepas, Atiq tidur lagi tapi bangun hampir setiap jam, kadang sekian menit, karena pipis. Sampai pukul satu tadi saya masih berkutat dengan mengganti popok.

Lalu saya mulai lelah, Bloggy. Acara tadi beneran menguras tenaga. Saya capek sekali karena tidak tidur siang. Suami, yang biasa gantian “jaga malam”, juga udah tepar. Ibu pun pasti lelah sekali. Ibu acap kali panik kalau Atiq nangis malam-malam, tadi aja sempat melongok ke kamar. Mempertimbangkan agar ibu bisa istirahat tanpa mengkhawatirkan cucunya, akhirnya saya putuskan memakaikan pospak lagi ke Atiq. Semoga gak bangun-bangun karena pipis lagi, ya, Nak.

Atiq sekarang lagi di pangkuan saya, lagi saya gendong. Udah nyenyak boboknya. Sengaja gak saya taruh di kasur dulu takut dia kebangun lagi, jadi nunggu dia bener-bener nyenyak banget. Saya ngeblog dulu deh ^^