Featured

Saya selalu percaya bahwa setiap kejadian yang menimpa saya adalah sebuah pesan dari Allah untuk saya yang lebih baik. Pemaknaan di setiap kejadian bagi saya menjadi suatu rutinitas yang istimewa. Tiada yang lebih indah dari sebuah cerita yang dimengerti apa pesannyaΒ :)273401_1702485402_2224678_n

Advertisements

Bicara Empat Mata

Kata suami saya, membaca blog seseorang itu seperti kita sedang bicara empat mata dengan orang tersebut. Berhadap-hadapan, dari hati ke hati. Sebaliknya, membaca cerita seseorang di media sosial, Instagram, Facebook, dsb., itu seperti sedang berkomunikasi di ruang publik, terbuka, dan tidak face to face.

Iya juga sih, saya baru menyadarinya setelah asyik membaca tulisan beberapa teman di blognya. Memang beda rasanya. Ketika membaca blog seseorang, kita seperti memasuki ruang pribadi yang terjaga rapi. Ada kisah yang ditulis dengan nurani dan kerendahan hati. Orang yang membacanya juga butuh niat yang tulus: sengaja-ngaja mengunjungi blognya, dengan menekan tautan misalnya, untuk membaca. Bukan sekadar membaca karena tertampil di beranda. Makanya, sampai sekarang saya lebih senang dan nyaman menulis di blog πŸ™‚

Jodohnya saya dan suami juga mungkin karena kami sama-sama suka nulis di blog kemudian sama-sama suka baca-baca blog teman juga. Jadi, saat menikah, walaupun gak pernah kenal baik sebelumnya, sedikit banyak kami seperti sudah saling mengenal karena telah saling-membaca cerita hidup di blog masing-masing :’)

Menjaga Kewarasan (ii)

“Mba Suci babyblues ndak?” tanya seorang kawan yang datang menengok bayi kemarin. Alhamdulillah, sejauh ini saya tidak mengalami babyblues dan segala tetek bengeknya. Saya masih happy punya bayi meski kadang sebal karena harus begadang sambil menahan sakit jahitan. It’s okay, pikir saya.

Tapi sayang, di hari Lebaran kemarin, kewarasan saya kembali diuji. Saya rindu, rindu serindu-rindunya dengan suasana Lebaran di rumah mamak. Saya rindu dengan rekah senyum tetangga yang menjejali gang sempit kami demi bersilaturahim dengan tetangga kanan dan kiri. Rindu juga dengan tradisi kumpul di rumah budhe untuk makan bersama. Di sini, rumah mertua, suasananya gak sama. Rasanya ingin nangis di pojokan tapi inget kalau udah punya anak hihihi.

Menjaga kewarasan setelah melahirkan ternyata lebih susah daripada ketika hamil. Saya bisa baper parah seharian dan pasti itu berpengaruh pada bayi. Pengaruhnya bisa kita lihat secara langsung, live! Gimana gak sedih cobak huhu

Saya ingin tinggal di rumah mamak, makan masakan mamak, dilayani mamak, dipijitin mamak, manja-manjaan sama mamak. Juga pengen dengar omelannya mamak yang panas di telinga tapi mendadak jadi suara yang paling dirindukan. Ah, belum lagi, kalau ada teman berkunjung yang menanyakan perihal pilihan kami untuk tetap tinggal di rumah mertua, makin-makin bikin baper deeh hiks. Respons teman yang frontal sampai yang biasa aja ketika mendapati jawaban saya tentang di mana kami tinggal sekarang tetep aja bikin baper, Bloggy

“Kamu kuat banget bisa tinggal di mertua setelah melahirkan?”

Lha emangnya kenapa dengan rumah mertua? Semenyeramkan itukah? Hehehe. Alhamdulillah mertua saya baik sekali, kalau mamak saya sering marah-marah di rumah, ibu (mertua) hampir gak pernah marah selama saya tinggal di sini. Tapi ya, sebaik-baiknya ibu tetep aja beda sama mamak sendiri, tetep aja kangen sama omelan mamak hehehe. Tentang ketidakenakan dan ketidaknyamanan yang sering dirasakan para menantu yang tinggal di rumah mertua, saya juga merasakannya kok. Meski di luar sana cerita tentang betapa tidak enaknya tinggal bersama mertua, alhamdulillah saya sejauh ini enak-enak aja. Tapi bukan berarti saya gak baper yaa, yang namanya lagi sensitif mah apa aja bisa masuk ke hati. Bahkan, kebaikan ibu aja bisa bikin baper parah. Kayak ketika saya bangun, ibu sudah mencuci baju-baju saya, suami saya, dan anak saya 😦 Gak enak banget rasanya, tapi gimana, saya juga sedang tak berdaya hehehe. Lagi-lagi, hanya doa terbaik yang bisa saya lantunkan untuk ibu mertua tersayang :-*

“Oh, di mertua ya, kirain di rumah kamu sendiri, buu.”

Pernyataan biasa yang jleb sih, entah kenapa. Jadi ngerasa gimana gitu setiap denger ada yang komentar demikian. Bapeer? Bangeeet. Terus jadi inget rumah, pengen pulang aja, dan seterusnya perasaan yang sama seperti yang sudah saya sebutkan. Beruntung rumah mamak masih deket jadi saya tinggal telp/sms nanti mamak bisa langsung meluncur ke sini.

“Oh gitu, siip ^^”

Bahkan, ya, kalimat sesimpel itu pun bikin saya baper juga lhoo πŸ˜“. Iya, setelah ada yg tanya saya tinggal di mana dan saya jawab “di rumah mertua” terus dia jawab begitu, entah kenapa pikiran-pikiran sebelumnya juga muncul dan cukup mengganggu.

Jadi, kalau ada yang memperlihatkan respons berlebihan ketika mendapat pertanyaan yang memicu baper, seperti kapan nikah, kapan punya anak, dsb., itu wajar sih. Kita gak pernah tahu, bagian kata mana yang kita keluarkan yang bisa menyinggung perasaan orang. Mungkin kita niatnya bertanya atau berkata biasa saja, tapi kewarasan orang yang kita ajak bicara tak pernah kita tahu sedang segalau apa. Hehehe

Intinya, kita gak akan pernah bisa mengatur orang lain, tapi kita bisa mengelola diri kita sendiri. Jadi, alih-alih berharap orang lain mengatakan atau melakukan hal-hal yang tidak menyinggung kita, lebih baik kita yang menjaga kewarasan diri sendiri. Menulis dan bercerita seperti ini menjadi cara saya untuk menjaga kewarasan diri. Bisa juga dengan cerita sama suami (ini penting banget sih) karena dukungan suami itu diperlukan banget bagi ibu hamil dan setelah melahirkan. Atau apapun, caranya, harus terus dicari agak kita tetap waras menjalani hari.

Satu hal yang saya yakini, saya adalah sebentuk tubuh dan jiwa yang dibutuhkan oleh sesosok bayi mungil yang baru mengenal dunia. Saya ada karena Allah mempercayai saya untuk menjadi ibu Atiqurrohman. Untuk itu, saya harus berjuang sepenuh hati dan hal pertama yang harus saya kalahkan adalah sisi ketidakwarasan atau kebaperan diri saya sendiri πŸ™‚

Kamu ada karena Allah mempercayaimu πŸ™‚

Lengkang

Lengkang (dibaca seperti membaca lebar) itu istilah yang dipakai orangtua untuk merujuk pada makanan yang boleh dimakan ibu yang baru melahirkan sebelum puser bayi puput atau lepas. Pada masa lengkang, ibu boleh memakan apa saja yang ia mau, kalau bisa malah harus mencoba berbagai macam rasa. Mulai dari asin, manis, gurih, asam, sampai pedas harus coba dimakan ibu agar si bayi nantinya mengenal berbagai rasa itu dan doyanan ‘tidak pilih-pilih makanan’. Baru setelah puser puput, ibu dilarang makan yang pedas-pedas karena khawatir akan dirasakan pula oleh bayi

Dedek Atiq baru lima hari dan pusernya udah puput aja, terus saya belum sempat makan bakso, mie ayam, seblak, ceker setan, tahu gejrot, dan makanan pedas sedap yang lain T.T untung semalam udah makan dua kepala manyung kiriman bulik hehe.

Catatan Melahirkan Pertamaku

Luar biasa! Hanya itu satu kata yang bisa saya ujarkan setiap kali ada yang bertanya bagaimana rasanya melahirkan. Setelah 39 minggu merasakan sensasi penuh cinta dari dalam perut, akhirnya hari itu, tanggal 7 Juni 2018 tepat pukul 6 pagi, si bayi laki-laki keluar dari rahim saya dengan parpus pervaginam yang luar biasa sekali rasanya. Saya benar-benar tidak akan pernah melupakan hari itu. Sungguh, itu adalah hari untuk pertama kalinya keluarga kecil kami bekerja sama mengerjakan proyek besar: melahirkan anak pertama dengan sehat dan selamat. Tentu, tiada daya dan upaya tanpa pertolongan Allah.

Awal Juni, saya baru bisa menyelesaikan semua pesanan jahitan yang ada padahal saya berharap bisa selesai di awal Mei. Alhamdulillah, setidaknya semua sudah selesai sebelum dedek lahir. Saya masih menuntaskan beberapa pekerjaan sampai tanggal 4 Juni, hampir setiap malam begadang. Tanggal 5 Juni 2018 sore, saya mulai menemukan tanda cinta berupa lendir darah. Alhamdulillah, dedek akan lahir sebelum lebaran, batin saya. Meski sudah tahu bahwa lendir darah itu hanya tanda awal persalinan–yang masih lama banget buat sampai ke bukaan lengkap–, saya segera menghubungi suami agar pulang lebih cepat. Malamnya, kami ke bidan dan dicek sudah bukaan satu. “Selamat ya, Bun. Benar, bunda akan melahirkan. Mungkin besok dedek lahir jika pembukaan lancar, atau bisa juga lusanya. Semua tergantung Bunda. Tetap tenang, dan positif thinking buat lahiran normal ya.” demikian kata bu bidan.

Rabu, 6 Juni 2018, saya sudah merasakan mulas semenjak pagi. Namun, saya juga merasa mual dan muntah-muntah. Sampai jam 8 pagi, setiap makanan dan minuman yang masuk ke perut selalu saya muntahkan. Akhirnya, kami memutuskan untuk segera ke bidan. Sampai sana dicek sudah bukaan dua dan disuruh stay aja karena kondisi saya yang masih mual dan muntah. Awalnya saya optimis bisa melahirkan sore atau malam harinya. Malangnya, saya masih saja memuntahkan apa-apa yang masuk ke dalam tubuh saya. Setiap makanan dan minuman yang masuk selalu saya muntahkan. Ini rasanya lebih hebat dari mual-muntah saat hamil muda 😦

Saya terus muntah sampai malam harinya, tubuh saya begitu lemas tak bertenaga. Sampai jam sebelas malam, pembukaan saya masih macet di bukaan 5 dan his kontraksi semakin berkurang dari sebelumnya. Bu bidan masuk kamar dengan wajah sendu, mengabarkan bagaimana kondisi saya yang, meski tidak bilang langsung, tidak memungkinkan untuk meneruskan proses selanjutnya. Mereka kemudian memberi kami dua pilihan: mengurus rujukan ke RS untuk diinduksi atau tetap di klinik dan menginfus saya–agar kondisi lebih fit–lalu meneruskan proses persalinan sampai pukul 5 pagi. “Kalau sampai jam 5 tetap tidak ada progress, mau gak mau ibu harus ke RS. Bagaimana?”

Bismillah, suami memilih pilihan kedua. Jadilah jam 12 malam saya pindah ke ruang bersalin buat diinfus (untuk pertama kalinya!). Saat itu kami hanya berdua karena orangtua sudah pulang untuk instirahat. “Bismillah, ya, Dek. Kamu kuat, kan?” kata suami dan saya menjawabnya dengan muntah sekali lagi :(. Saat itu saya sudah sangat pasrah, beberapa saat setelah diinfus saya merasa sedikit bertenaga, tapi masih saja muntah. “Maafin aku, ya, Mas. Doain.” ucap saya parau. “Iya, aku tahajud sama mau baca quran di sini ya. Kamu rileks, yang bikin mudah atau susah itu hanya Allah. Inget, Dek. Semuanya bukan karena bidan atau kita, karena Allah. Mau kamu selemas apapun kalau Allah mudahkan ya baby bisa keluar gampang. Semoga kita dapat barokah quran. Sebentar ya. Tak wudu dulu.”

Saya mengangguk hambar. Saya elus perut saya sembari mengingat perkataan bidan tentang janin dalam perut yang cukup besar (USG 36 minggu ukuran janin sudah 3 kg) dan jumlah air ketuban sangat banyak. Suami kemudian meminta bidan mematikan murrotal yang distel di ruang persalinan karena mau mengaji sendiri. Mulailah dari pukul 12 malam itu, saya mendengar suami mengaji surat Yasiin dan surat-surat selanjutnya. Suami tak lagi memegang tangan saya setiap kontraksi datang seperti sebelumnya (karena sudah wudu). Detik itu pula perjuangan kami bertiga dimulai. Suami meninggikan kalimat-kalimat Allah, saya berpasrah untuk “menikmati” sakitnya kontraksi dan mencoba tidak melawannya, serta dedek bayi yang berusaha mendorong kepalanya yang masih tinggi dari jalan lahir.

“Ayo, Nak. Kita berjuang bareng. Ibu gak bakal lupa hari ini, Nak. Kita bikin sejarah di hari ini.”

Saya merasakan kontraksi dan mulai menikmatinya. Setiap saya menggerang, suami bertanya, “Kontraksi, Dek?” Saya mengangguk disusul kalimat hamdalah dari mulutnya. Semakin lama, semakin sering. Setiap kontraksi datang saya tersenyum dan menarik napas panjang, sholawat sebisa mungkin tidak saya tinggalkan. Saya liat jam sudah pukul satu dan saya hitung sendiri bahwa kontraksi saya sudah meningkat dari sebelumnya. Alhamdulillah. Suami masih terus membaca qurannya. Sesekali berhenti untuk mengambilkan saya minum. Sampai pukul 02.30 saya hampir tidak merasakan jeda kontraksi. Perut saya mulas hampir setiap menit! Saya meminta suami memanggil bidan untuk memeriksa.

“Bukaannya nambah, tapi belum lengkap dan posisi kepala bayi masih tinggi, ketuban juga belum pecah.” demikian katanya.
“Ada progress berarti kan, Bu?”
“Iya.”

“Alhamdulillah.” Saya selalu dengar kalimat hamdalah dari suami apapun yang bidan katakan. Setelah berunding, bidan memutuskan memecah ketuban saya dan melanjutkan proses persalinan. Dari pukul 03.00 sampai 04.30 saya diminta mengejan untuk mengeluarkan feses dari dubur. Karena tidak ada makanan yang masuk, saya sulit sekali mengeluarkan feses, rasa mulas bertubi-tubi dan ejan demi ejanan yang saya lakukan seakan tidak berefek banyak alih-alih tenaga saya semakin habis 😦 padahal inti prosesnya, melahirkan bayi, belum saya jalani.

Pukul 04.30 itu bidan bilang lagi kalau saya sudah bukaan lengkap dan bayi bisa dilahirkan. Akan tetapi, kalau sampai pukul 06.30 belum juga lahir, saya harus dirujuk ke RS. Ya Allah, dua jam lagi dan saya sudah lemas sekali 😦

Saya sempat stress saat bidan yang terkenal sabar dan sangat pronormal itu bertanya pada suami, “Punya BPJS, kan?”. Ibu saya masuk ruang persalinan, menyuruh saya untuk terus beristighfar dan tidak menyerah. Suami yang sudah akan membaca surat An-Naba kemudian izin salat Subuh. Saya terus mengejan sebisa saya, mengikuti instruksi bidan dan mengeluarkan yang terbaik dari yang bisa saya lakukan. Semaksimal mungkin! Saya sampai bicara keras ke baby, “Ayo, Nak. Kita bisa. Pasti bisa lahiran di sini. Normal. Bantu ibu, ya. Berjuang bareng ya!” Kemudian merintih lirih, “Ibu gak mau ke RS, Nak. Tolong bantu ibu, ayo dorong dan keluar.”

Baru pukul 06.30, setelah bu bidan bilang, “Ini mah pasti lahir.” saya seperti mendapat kekuatan yang entah dari mana datangnya (pasti dari Allah lah ya!) Bu bidan mendorong perut saya dan saya mengejan sangat panjang. Tepat pukul 06.00, setengah jam sebelum deadline yang diberikan bidan, saya merasakan sebongkah makhluk keluar dari rahim saya. Allahu Akbar!

Rasa haru yang tiada tergambarkan itu menyeruak di sela tangisan bayi yang menempel di dada saya. Ya Allah, saya baru saja melahirkan bayi! Ikut menangis pulalah saya ini. Suami segera memperdengarkan azan dan iqomat di telinga bayi laki-laki kami. Kerja bagus, Nak! Alhamdulillah! :’))

Haru. Haruuuuu sekali mendekap sesosok mungil di dada saya, rasanya semua sakit hilang dengan sekejap, tapi datang lagi saat bidan mulai menjahit saya wkwkwk. Huh. Benar-benar luar biasa. Kalau bukan kuasa Allah, mungkin saya sudah ke RS, entah untuk diinduksi, divakum, atau SC. Masya Allah. Alhamdulillah wasyukurillah :’)

Pak Kyai kemudian menamainya Muhammad Atiqurrohman, hamba yang bebas dari api neraka karena kasih sayang Allah. Lantas saya teringat ketika masa sakit kontraksi datang dan mendengar bacaan suami sampai surat Ar-Rahman, dengan kepasrahan saya berdoa, “Keluarkan (bebaskan) anak ini dengan kasih sayang-Mu ya Allah”

Wallahualambishowab :’)

Menjaga Kewarasan

Hal paling berat selama hampir sembilan bulan mengandung ternyata bukanlah tentang mual dan pegal, melainkan tentang menjaga kewarasan. Sensitivitas ibu hamil memang meningkat sekian kali lipat dari biasanya. Kalau di hari biasa perempuan akan menjadi begitu manja dan menyebalkan saat datang bulan, di masa kehamilan, hal ini dapat terjadi setiap hari, setiap jam, bahkan setiap detik! Tentu, ini sudah tak lagi menjadi rahasia dan orang-orang yang mengelilingi ibu hamil pun sedikit banyak telah tercerahkan hingga meluapkan pemakluman-pemakluman. Betapa spesialnya ibu hamil itu, bukan?

Namun, pemakluman dan perhatian orang-orang tersayang itu ternyata hanya berdampak kecil bagi “kewarasan” sang ibu hamil. Sebagian besarnya berasal dari diri ibu sendiri. Sekecil apa pun rasa badmood yang dialami ibu, itu berdampak pada kondisi bayi di kandungan. Sungguh! Kesal, bete, sebal, atau kesentil sama omongan gak enak yang padahal gak ditujukan buat si ibu bisa menjadi “malapetaka” bagi kenyamanan dan keharmonisan gerak bayik di dalam perut–apa banget deh–. Meski kelihatannya sepele, sentilan-sentilan kesal itu akan menjadikan hari-hari ibu hamil dipenuhi dengan ketidaknyamanan baik dari segi kesehatan maupun kebahagiaan.

Untuk itu, sangat penting untuk menjaga hati dan pikiran agar tetap happy setiap hari, apalagi di bulan Ramadan ini. Baby yang diajak puasa seolah lebih sensitif jika ibunya dilanda kegalauan dan ketidakbombongan karena rasa sebal yang mungkin sangat sedikit kadarnya.

Saya perhatikan selama lima hari berpuasa, si dedek lebih nurut dan gak banyak “tingkah” kalau sedari sahur saya mengawali hari dengan happy. Dedek santai saja gitu dibawa puasa, ikut saya menjahit, mencuci baju, beres-beres kamar, dan mengaji. Sebaliknya, kalau dari sahur aja saya gagal menjaga kewarasan, sudah bete karena ini dan itu, dan kekesalan itu tidak segera diolah menjagi kewarasan tadi, puasa jadi terasa begitu berat. Badan terasa tak nyaman, perut kencang dan mulas karena asam lambung naik, sampai tidur pun tak nyenyak meski sudah berganti-ganti posisi.

Saya jadi terharu, lho, Bloggy. Ada jiwa yang sebegitunya membutuhkan saya, sebegitunya terhubung dengan perasaan saya, sebegitunya menginginkan saya tetap happy di tengah carut marut dunia ini. Masya Allah, sebentar lagi ada jiwa yang asupan makanannya mengandalkan diri saya, yang kenyamanannya mengandalkan pelukan saya, dan yang canda tawanya serta merta dengan dunia batin saya, ibunya.

Doakan saya, Bloggy. Semoga saya masih dan akan terus mampu menjaga kewarasan, sepanjang usia saya. Amin.