Featured

Saya selalu percaya bahwa setiap kejadian yang menimpa saya adalah sebuah pesan dari Allah untuk saya yang lebih baik. Pemaknaan di setiap kejadian bagi saya menjadi suatu rutinitas yang istimewa. Tiada yang lebih indah dari sebuah cerita yang dimengerti apa pesannya :)273401_1702485402_2224678_n

Advertisements

Dunia Bapak

Suami saya sedang menekuni nursery, darinya saya melihat bagaimana biji-biji tumbuh indah di atas tanah. Pekerjaan barunya membuat kami sedikit gila dengan biji dan dunia tanam menanam. Sekarang, kalau makan buah, biji gak boleh dibuang! Makin hari merambah ke sayuran, beberapa hari lalu saat saya masak kangkung, suami menelisik batangnya dan melarang saya untuk membuangnya.

“Emang bisa ditanam?”

“Bisa,” katanya mantap sekali.

Jadilah kami merendam batang kangkung itu di air dan selang berapa hari setelahnya, muncul akar dan daun baru! Lekaslah suami memindahkannya ke polybag. Duh, Gusti, nikmat sekali hidup di Indonesia, apa saja bisa tumbuh :’)

“Buah dan sayuran di luar sana dipenuhi pestisida, Buk. Semoga kita bisa makan apa-apa yang kita tanam sendiri, ya. Ayo berpermakultur!” ajak bapak penuh semangat.

Saya jadi merenungi betapa setiap hari kita dipenuhi dengan tanaman yang sebenarnya bisa kita tumbuhkan sendiri. Biji cabai yang iseng saya lempar sudah tumbuh segar, bawang putih yang lama tak dimasak sudah tumbuh tunas, daun bawang yang saya tancapkan ke pot sudah memperlihatkan daun baru. Indah sekali, bukan?

Teman Emosi

Tetiba saya teringat pada seorang teman kuliah, teman seorganisasi, yang hobi sekali menemani teman-temannya beraktivitas meski ia sama sekali tidak terlibat di sana.

Saat itu saya dan tiga orang teman akan mengikuti lomba di luar Jawa. Kami pun sering berkumpul untuk latihan. Dia tidak ikut lomba, tapi selalu hadir saat kami latihan. Ketika saya tanya alasannya, dia menjawab

“Aku ingin menemani kalian. Mumpung lagi senggang. Mungkin aku gak bisa bantu apa-apa, tapi dengan aku ada di sini, aku ingin kalian tahu kalau kalian gak sendiri dan ada yang mendukung kalian.”

Saya menyebutnya teman emosi. Serta merta saya langsung memeluknya kala itu. Perempuan itu memang sudah saya anggap kakak sendiri. Dia dewasa sekali. Sekarang kami sudah jarang bertemu karena rutinitas masing-masing. Dia sudah punya anak juga sekarang. Doa saya menyertaimu, Mbak 🙂

Ajak Dedek Belanja

Beberapa hari lalu, sesaat setelah saya curhat soal “kejenuhan” saya terhadap beberapa hal, suami mengajukan proker baru dalam rumah tangga kami: ASAL PERGI. Sekali waktu, kami bertiga perlu pergi ke luar rumah tanpa tujuan. Tujuannya ditentukan di jalan, asal jalan aja dulu, sampai di mana kami, liat kemudian. Untuk mendukung kegiatan ini saya diminta membuat satu kategori baru dalam blog ini dan inilah sesi pertama Asal Pergi kami.

Kami ke mana? Ke supermarket paling murah di Tegal. Lokasinya agak jauh dari rumah kami, jadi untuk kali pertama Atiq menempuh perjalanan panjang di dalam kota naik motor. Biasanya Atiq naik motor kalau ke rumah embah di kota pas ikut saya ngajar, gak lebih 2 km jaraknya. Nah, kemarin itu jalan yang kami tempuh hampir tiga kali lipat. Baru deh, kerasa pegal banget nih pundak ngegendong bocah.

Apalagi, selama belanja si bayik bobok jadi kudu gendong ibuknya mulu. Waktu itu saya pakai gendongan sling biasa, gak make babywrap jadi berasa bangeeeeet pegalnya. Mana gak bisa gantian gendong sama bapak pula karena bocahnya bobok (bapak belum bisa nggendong pake gendongan sling saat bayi bobok). Duh, jadi pelajaran berharga banget: kalau mau asal pergi lagi kudu pake babywrap! Hahahay

Meski melelahkan, kami tetap happy apalagi setelah menemukan es mambo cokelat, kacang ijo, dan durian yang rasanya WOW bangeets! Aha’! Jadi ingat cerita epik soal es mamboo ini:

Karena beberapa hari ini saya sedikit kurang serat, kami bertekad untuk makan buah lebih sering dari biasanya. Saat belanja kemarin, kami gak bawa banyak uang tunai dan pas liat pepaya di supermarket segeralah suami ambil. Sampai di dekat kasih, yang kebetulan di samping boks es krim, saya tanya berapa harga itu pepaya. Saya mengerutkan dahi pas si bapak menyebutkan harganya.

“Lebih murah di pasar, Pak.”

“Beda seribu, Buk. Gimana ambil gak?”

“Gak usah deh, males ke ATM kalau uangnya kurang”

“Yaudah. Aku taruh lagi ya.”

“Ganti es mamboo ini aja ya, kayaknya enak.”

“Boleh, berapaan?”

“Gak tahu. Hehe” lalu dengan santainya saya ambil tiga biji es mamboo.

Setelah sampai rumah dan menikmati kelezatan es mamboo itu, barulah kami cek harganya di nota. Dan WOOW ternyata harga tiga es mamboo itu dua kali lipat harga pepaya segluntung wkwkwk. Kami pun tertawa ngakak.

Jadilah kami dapat pelajaran nomor dua: kita sering gak mikir panjang buat beli jajanan yang entah bagaimana kadar sehatnya, tetapi untuk membeli buah-buahan entah kenapa berasa mahal padahal kalau dibandingin harga jejajanan lain, harga buah lebih sehat dan MURAH!

Buka matamuuuu hihihihi

Roti Untuk Nabi

Saat kami baru belajar membuat roti, suami saya memakan roti “bantat”nya dengan tatapan nanar.

“Kenapa, Mas?” tanya saya.

“Inget Kanjeng Nabi, Dek.”

Mencelos hati saya. Benar, Nabi kita makan seadanya banget, tak pernah bermegah-megahan, bahkan pernah sampai mengikat perutnya dengan batu untuk menahan lapar. Sementara kita, umat yang amat dikasihinya, baru lapar sedikit saja sudah gelisah. Baru liat saldo rekening yang belum nambah-nambah saja, sudah sedemikian paniknya. Baru lelah yang tak seberapa, sudah sebegitu lebaynya. Duh, Gusti, malu sekali saya pada Kanjeng Nabi 😦

Di bulan Maulid ini, saya belajar membuat roti. Awalnya sekadar memenuhi keinginan suami, lalu saat lelahnya menguleni membuat saya ingat pada lelahnya Fatimah mengurus rumah, saya jadi bertekad untuk bisa membuat roti. Setiap capek, saya ingat Fatimah, putri Rosululloh yang dengan sabar dan tabahnya menjalankan segala kewajiban istri dan ibu di rumah. Lelah yang saya rasa sungguh gak ada apa-apanya, sungguh gak ada apa-apanya. Begitu tanam saya dalam-dalam.

Sampai lebih dari sepuluh kali

mencoba, akhirnya saya berhasil membuat roti. Saya terharu sekali, Bloggy. Meski belum sebaik roti-roti bikinan bakery, saya merasa bahagia sekali. Kemarin, di peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. saya membuat banyak roti dan membagikannya pada tetangga kanan kiri. Berbagi kebahagiaan di hari kelahiran Rosululloh.

Damai sekali rasanya 🙂

Penyejuk Hati

Suatu pagi, mood saya sedang tidak bagus, saya sebal sekali karena sesuatu hal di rumah. Saking sebalnya, saya sampai enggan menyentuh nasi sama sekali. Alih-alih makanan sudah tersaji di meja, saya malah bikin martabak manis. Masih dalam keadaan sebal saya makan martabak sembari beberes rumah. Liat nasi rasanya muak sekali 😦

Saya lanjut beres-beres mumpung si bayik bobok. Perut lapar, tapi ogah sarapan nasi, akhirnya makan martabak lagi, tapi bosan. Duh, parah banget ini badmoodnya. Sampai si bayik bangun dan nangis, saya kasih mimik dia menyusu lahap sekali. Mendadak air mata saya jatuh sendiri. Selesai mimik dia masih nangis, saya elus-elus dan gendong dia sampai nangisnya reda. Lalu saya dudukkan di bouncer.

Kemudian saya makan sambil terisak. Duh, Nak, maafkan ibu yaa. Ibu isi bensin dulu, habis ini ayok mimik lagi yang banyaak!

Saking terharunya saya sampai gak sadar kalau udah menghabiskan jatah makan suami saya juga hahaha.