Featured

Saya selalu percaya bahwa setiap kejadian yang menimpa saya adalah sebuah pesan dari Allah untuk saya yang lebih baik. Pemaknaan di setiap kejadian bagi saya menjadi suatu rutinitas yang istimewa. Tiada yang lebih indah dari sebuah cerita yang dimengerti apa pesannya :)273401_1702485402_2224678_n

Akhlak Pemuda Kita

Teduh rasanya ketika melihat para pemuda bergerombol di pinggir jalan kemudian gegap gempita membantu orangtua yang berat barang belanjaannya. Sepele memang, tapi toh zaman sekarang hal sepele itu sudah jarang ditemukan. Apalagi di kota-kota besar.

Belum lama ini saya melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana seorang tua yang membawa banyak sekali barang terlihat begitu lelah mengangkutnya masuk ke dalam rumah. Alih-alih, tepat di depannya dua orang pemuda sedang duduk santai dengan ponsel di tangannya. Bisa ditebak, apa yang pemuda-pemua itu lakukan? Ya, hanya diam menikmati dunia ponselnya. Jangankan beranjak mengangkat tangan, melirik pun tidak.

Bahkan, ketika saya turun tangan membantu seorang tua tadi, mereka masih saja di posisinya. Huh, tak perlulah bicara soal menghargai wanita, memandang baik orangtua saja mereka seperti tak bisa. Inikah akhlak pemuda kita?

Seni Memilih

Apa yang kita dapat sekarang adalah hasil dari pilihan-pilihan kita sebelumnya. Begitulah hidup, hidup adalah seni memilih. Sebuah karya seni adalah hasil pilihan pembuatnya, lantas kemudian memberikan pilihan bagi penikmat-penikmatnya. Hidup memang tak jauh-jauh dari memilih dan dipilih.

Seperti seni, ada yang memilih menyenanginya, ada pula yang menolaknya. It’s okay, tidak jadi masalah. Seni tidak pernah meminta untuk dipilih, ia membebaskan dirinya untuk disenangi atau dibenci penikmatnya. Itu karena seni mengerti, sejatinya dalam hidup, kita tidak akan bisa menyenangkan semua orang.

Harus ada yang dikorbankan dalam setiap pilihan. Seperti tukang jejel kasur di desa-desa yang tak lagi menerima orderan setelah kita lebih memilih beli springbed. Seperti warung tetangga yang sepi karena kita lebih rajin berburu diskon di supermarket. Lalu apakah kita menjadi kejam? Bisa iya, bisa tidak.

Hidup adalah seni memilih. Setiap dari kita bertanggung jawab atas pilihan yang kita raih, namun sama sekali tidak berkepentingan jika pilihan kita disenangi atau dibenci orang lain. Jadilah seperti seni yang membebaskan dirinya sendiri. Sekali lagi, kita tidak akan pernah bisa menyenangkan semua orang.

Berterima Kasih

Berterima kasih memang kelihatannya perkara yang sepele, tapi berdampak sangat besar bagi keberlangsungan hubungan. Mungkin, tidak setiap orang akrab dengan kebiasaan berterima kasih, tapi saya yakin pasti ada cara lain berterima kasih tanpa mengucapkan terima kasih. Mungkin dengan memberikan sedikit senyum, atau kalau memang mentok ya diam saja deh sebagai bentuk penghargaan. Itu lebih baik daripada memberi komentar menjatuhkan.

Semoga Indyra Bisa Menghidupi Banyak Orang

Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk

Kita telah sampai pada bulan yang begitu mulia. Bulan yang setiap detik di dalamnya bisa bernilai ibadah. Bulan yang dipenuhi rahmat dan barokah. Bulan yang mengaminkan doa-doa manusia dalam desah harap dan takutnya. 

Ramadan menjadi berkah bagi siapa saja, terutama pedagang dan penjahit. Di bulan ini, jualan apa saja pasti laku. Begitupula dengan penjahit yang pastinya kebanjiran order jahitan lebaran dari awal puasa. Indyra, sudah jauh-jauh hari mempersiapkan orderan sejak sebelum lebaran. Ini kali pertama saya, yang tidak cukup fashionable, terjun di dunia bisnis fashion dengan persaingan super ketat.

Rasanya mobat mabit sekali. Selain pengalaman yang sangat minim–saya baru kursus setahun dan belum menjahit seratus baju–rutinitas bertemu orang-orang yang membantu saya kemudian me-manage waktu dan menilai pekerjaan mereka sungguh memunculkan dilema tersendiri bagi saya yang gak tegaan ini. Jadi, dalam mengerjakan usaha ini saya memang dibantu beberapa teman sesama penjahit.

Belum lagi, jika dibenturkan dengan kesibukan saya mengajar. Kamu tahu kan, Bloggy, dunia PAUD tak melulu soal kecerian anak-anak dan dunia bimbel juga tak melulu soal mengajar di kelas. Permulaan menuju Ramadan yang beririsan dengan jadwal UN, SBMPTN, UKK, dan penerimaan raport benar-benar membuat fokus saya tercerai berai. Kadang, saya merasa letiiiih sekali, sampai pengen nangis sendiri ngebayangin deadline pekerjaan yang gak selesai-selesai.

Mau gak mau, indyra yang berada di luar jalur pendidikan memang jadi sedikit tersisihkan. Akhirnya, sampai memasuki hari Raya belum selesai juga–padahal awalnya pengen rampung sebelum puasa. Sedih, saya merasa begitu lemah di bulan penuh berkah ini. Terlalu banyak yang harus dikerjakan hingga membuat daya tahan tubuh menurun dan ibadah tak maksimal. Ya Allah, saya minta dikuatkan.

Karena satu dan lain hal, geliat indyra di bulan ini tidak segencar bulan sebelumnya. Saya lebih banyak memikirkan hal lain yang melambatkan laju indyra dan berimbas pada menurunnya produktivitas pekerja. Sedih bercampur haru ketika tetangga saya yang biasa dimintai tolong memasang kancing kemeja, datang mengayuh sepeda dengan wajah reda.

Mbak, durung ana pegawean?

Meminta pekerjaan untuk bekal lebaran

Saya sadar, menjalani semua dari bawah begini bukanlah hal yang gampang. Saya juga sadar, cepat atau lambat saya harus meninggalkan dunia mengajar–setelah sebelumnya saya menutup keinginan untuk menulis buku–jika ingin indyra berkembang dengan pesat. Karena tidak ada orang hebat yang tidak fokus dengan usahanya. Semua harus dipilih dan setiap pilihan pasti mengorban pilihan lain.

Seperti yang pernah saya katakan, 

Memikirkan pekerjaan yang belum selesai jauh lebih melelahkan daripada mengerjakannnya

Jadi, saya memutuskan untuk tidak terlarut pada ketakutan atas deadline dan pikiran soal pekerjaan yang tak kunjung selesai. Saya tidak akan memikirkannya, tapi saya akan mulai menyelesaikannya! 

Saya memang bukan manusia yang banyak amalnya, tapi semoga di bulan menawan ini, ada satu doa saya yang dikabulkan: semoga indyra bisa menghidupi banyak orang.

Terima kasih kiranya Bloggy bersedia mengaminkan 🙂